Ketika pertama kali dibaptis, ada sebuah tanda tanya dalam hati, kewajiban apakah yang harus aku penuhi? Apakah yang harus aku hindari?
Salah satu yang memusingkan adalah soal perpuluhan. Karena selalu muncul 2 ekstrim :
1. Ada pendapat menyatakan bahwa perpuluhan sudah tidak berlaku lagi sehingga tidak perlu dibikin kotak perpuluhan. Dalilnya di Efesus 2 : 15.
2. Namun di sisi lain ada juga yang menyatakan kalo tidak memberi "terkutuklah dia". Dalilnya di Maleaki 3 : 10.
Menurutku, kedua ekstrim itu sulit diterima.
1. Keberatan terhadap penghapusan perpuluhan.
Surat Efesus sedang berbicara soal keselamatan karena iman, bukan karena sunat. Surat itu ditulis karena adanya ajaran yang masuk dalam jemaat Efesus untuk melakukan sunat agar diselamatkan. Dengan demikian surat efesus bukan ditujukan untuk menghapus semua ketentuan dalam torat. Tetapi membatalkan kutuknya. Karena kalo hukum torat dihapus, bagaimana dengan hukum torat tentang jangan membunuh, berjinah, hormati orang tua, jangan mengingini dll?
2. Keberatan dengan Kewajiban Perpuluhan.
Kalo dengan perpuluhan orang baru bisa selamat, bagaimana dengan pengorbanan Kristus?
Dari 2 keberatan itu, aku mempunyai beberapa kesimpulan.
1. PL ( Hukum Torat ) tidak sepenuhnya dihapus, tetapi ada beberapa hukum yang sudah ditiadakan sama sekali ( mis. potong korban ), beberapa hal dirubah ( misalnya sunat menjadi baptis ) dan beberapa hal tidak disinggung lagi secara tegas dalam PB ( misalnya perpuluhan ).
2. Dengan demikian perpuluhan bukan dihapuskan, tetapi dirubah cara pandangnya. Kalo semula perpuluihan adalah wajib untuk memenuhi ketentuan Tuhan, maka sekarang perpuluhan ada sebagai sebuah "Kewajiban Kasih", dimana perpuluhan bukan lagi sebagai sogokan kepada Tuhan, tetapi sebagai buah dari Kasih kita kepada Tuhan.
3. Keberadaan kotak perpuluhan tidak lagi menjadi sebuah kewajiban torat, namun sebagai sebuah sarana mewujudkan kasih kita kepada Tuhan. Dengan demikian, tidak harus dihilangkan ( tapi kalo mau dihilangkan juga gak papa ), namun jemaat diberi penjelasan yang benar.
Dugaanku, pro kontra ini meledak lebih disebabkan oleh karena penggunaan uang perpuluhan yang seringkali dimonopoli oleh 1 keluarga pendeta, sementara semula digunakan untuk menghidupi secara layak (bukan berlebih) sebuah suku (Lewi). Karena kemudian beberapa gereja yang penggunaannya baik, jemaatnya malah memberi dengan lebih banyak lagi.
Jadi, menurut aku, kalau kita mampu dan mau menyisihkan sebagian penghasilan kita ( perpuluhan ) untuk pekerjaan Tuhan, tentunya ini merupakan sebuah privilege dimana kita boleh berbagian dalam pekerjaan Tuhan.
Namun jika belum mampu memberi karena memang penghasilan belum cukup atau cukup tapi belum rela, maka lebih baik jangan memberi. Karena keselamatan orang pilihan ditentukan oleh Allah melalui Penebusan Kristus.
Soli Deo Gloria.