Submitted by Miyabi on

"Eh, bok. Gue nanya dong. Loe pernah ga ngebayangin, kasur loe itu kan bekas orang ya kan? Mungkin aja dia pernah bawa suaminya atau pacarnya. Aduh gue jadi kepikiran. Aduuh gara-gara anak baru sebelah tuh."

Kamar yang di pojok itu lebih sering kosong ketimbang terisi. Belum lama ada mbak-mbak karyawati tapi cuma sebulan sudah pindah lagi. Katanya tanpa diduga mendadak ia mendapat tugas mengawasi proyek di pinggiran kota. Penghuni baru yang sekarang ini juga karyawati dan bekerja di perusahaan periklanan. Saat pertama ia ngobrol-ngobrol dengan pemilik kos, kami mendengar bahwa ia sudah menikah dan suaminya bekerja di bandung.

Hari berlalu dan pada hari libur sang suami sering datang. Maklum Jakarta-Bandung cukup dekat. Lalu hari berlalu lagi dan sang suami kemudian sering menginap. Biasa datang sabtu sore dan baru pulang senin pagi.

Suatu hari tetangga sebelahku, sebut saja namanya Maya, bilang begini: "Abah (Bapak Kos) nanyain surat nikah mereka apa nggak ya? Ummm, tapi surat bisa aja dibikin ya? Foto perkawinan juga bisa dibikin. Hmmm..."

"Knapa loe mo bikin juga?" Saya tanya begitu sebab meski ia belaga polos, saya tahu Maya pernah menyelundupkan pacarnya.

Saat kami ngobrol, muncul teman lain, sebut saja Donna namanya. "Eh, bok. Gue nanya dong. Loe pernah ga ngebayangin, kasur loe itu kan bekas orang ya kan? Mungkin aja dia pernah bawa suaminya atau pacarnya. Aduh gue jadi kepikiran. Aduuh gara-gara anak baru sebelah tuh."

"Iya yah, dinding kamar loe ma kamar dia kan triplek ya? Kedengeran ya bo? Aduh kasian deh loe," kata Maya. (Sebenernya bukan triplek, tapi semacam fiber atau asbes, cukup tebal. Tapi kalau bangunan lama, biasa deh, ada retakan dan celah-celah.)

Ahhh, untungnya dulu pertama masuk kos ini saya dikasih kasur baru, bantal baru. Masih dalam plastik tersegel dari toko mebel. Jadi nggak berasa nidurin bekas iler orang lain xixixi.