Sepertinya Tuhan menciptakan manusia untuk tidak pernah puas. Kalau dulu saya stress pagi-siang-malam karena belum mendapat pekerjaan tetap, sekarang saya stress karena merasa keahlian saya belum digunakan secara maksimal (padahal ahlinya hanya makan-tidur). "Pengangguran Terselubung" katanya.
Ketatnya persaingan lapangan pekerjaan bisa mengakibatkan yang lulusan universitas ternama pun keringetan. Dulu, ketika saya baru selesai kuliah, saya menunggu selama 8 bulan sampai mendapat pekerjaan tetap. Jumlah CV yang keluar pun sudah tak terhitung, yang pasti lebih dari 100 CV dengan covering letter yang unik ke 100-an perusahaan yang berbeda. Setiap covering letter minimal butuh 2 jam untuk persiapannya. Tidak jarang yang butuh berhari-hari karena memiliki selection criteria yang panjang. Dari semuanya itu, saya hanya terpanggil untuk wawancara oleh 5 perusahaan. Jawabannya pun semua sama, "Walau kualifikasi anda baik, sayangnya anda tidak mampu bersaing dengan yang lain karena kurang pengalaman". "Buset, namanya juga lulusan baru, mao pengalaman apa? Pengalaman dari Hongkong?" gerutu saya.
"It's not what you know, but who you know" memang saya amini. Akhirnya, saya mendapat pekerjaan dari kenalan orang gereja. "Weleh, tau gitu gue nggak usah repot-repot dan sutris sampai kayak gini", gerutu saya. Padahal, harga diri sudah hancur berantakan berkat kerja serabutan termasuk ngepel lantai dan membersihkan toilet. "Masa lulusan universitas kerja beginian", gerutu saya lagi.
Herannya, walaupun sekarang saya sudah bekerja dengan kondisi yang jauh lebih baik, masih saja bergumul dengan ketidak puasan kerja. Walaupun di kepala saya tahu, kepuasan dalam bekerja tidak akan bertahan lama, secara tidak sadar saya masih mengejarnya. Sepertinya saya masih belum bisa mengamini eksperimennya Salomo, yang sudah bekerja di proyek besar, tetapi tetap saja dia masih bisa berkata 'meaningless'. "Masa iya sih? Bisa aja si Salomo emang dasarnya nggak tau berterima kasih" pikir saya. "Ngaca dong!" pun langsung terlintas di pikiran saya saat ini.
Si Adam (atau ular, whatever) memang brengsek. Gara-gara dia, kerjaan yang seharusnya adalah kenikmatan manusia (Kejadian 2:15) menjadi kutukan (Kejadian 3:17-19). "Cuman disuruh nggak makan buah aja syusah amat" gerutu saya. Gara-gara dia, pekerjaan selalu saja banyak durinya, hasil pekerjaan serasa tidak ada artinya. Perekonomian dunia hanya berputar-putar di tempat, hanya untuk mengoroti bumi ini (seperti yang sudah saya gerutu di blog sebelumnya).
Mungkin, "pengangguran terselubung" ini diizinkan Tuhan supaya saya terus teringat akan bumi dan langit yang baru. Secara tidak sadar, saya telah men-Tuhan-kan pekerjaan. Bagaimana tidak, saya lebih perduli akan kepuasan pekerjaan dibanding kerajaan Tuhan, "Dosa!! Dosa!!" kata hukum pertamanya Musa.
Saya selalu ketakutan ketika membaca perumpamaan Yesus tentang talenta (Matius 25:14-30). Jangan-jangan saya adalah si hamba yang malas, yang mengubur talentanya di tanah. Bukannya sibuk mengusahakan talenta ini, malah sibuk-sibuknya mengurusi urusan pribadi sendiri. Bukannya hamba yang malas di cerita itu juga sama? Siapa tahu dia "malas" bukan karena ongkang-ongkang kaki, tapi dia sibuk dengan hal lainnya. Walaupun hal-hal lainnya itu baik, seperti keluarga, bekerja (untuk bos yang lain), de el el, tapi, pekerjaan yang diberikan juragan utamanya malah terlantar.
"Habis bagaimana?" pikir saya. Saya terlalu pengecut untuk berdoa agar Tuhan mendatangkan bencana. Rutinitas hidup saya yang terbilang 'enak' adalah cobaan tersendiri. Pintar juga si iblis (Adam, Ular, whatever) menggoda saya untuk mengubur talenta ini.
Saat ini saya hanya bisa berdoa agar Tuhan tidak membiarkan saya mentelantarkan pekerjaan utama saya. Bagaimana caranya supaya saya tidak dicap sebagai "Pengangguran Terselubung" di buku kehidupan? Saya juga tidak tahu pasti. Berbekal "Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada" dari Kolose 4:5, saya berharap bisa mempekerjakan talenta saya diantara teman sekerja. "Pekerjaan memang penting, tetapi lebih penting lagi orang-orang di sekitar kita", kurang lebih begitu yang diajarkan kepada saya.
---
You put me here for a reason
You have a mission for me
You knew my name and You called it
Long before I learned to breathe
Sometimes I feel disappointed
By the way I spend my time
How can I further Your kingdom
When I'm so wrapped up in mine
by Mercy Me
Submitted by
Rusdy
on