Ada satu adegan yang selalu saja membuatku terharu ketika menyaksikan film berjudul "A Beautiful mind" meskipun sudah kulihat berpuluh-puluh kali. Dan hari ini aku kehilangan kata ketika mengalami hal yang serupa dengan adegan itu ...
Bagi yang belum pernah menyaksikannya, film ini mengangkat kisah nyata John Nash, seorang jenius di bidang matematika. Saking hebatnya, ia dapat meruntuhkan teori klasik yang sudah ratusan tahun dipercaya. Namun, di balik kehebatannya itu, ia divonis menderita schizophrenia. Schizophrenia adalah penyakit jiwa yang membuat penderita berhalusinasi hingga tidak bisa membedakan antara ilusi dengan kenyataan. Meski telah dicap gila, John terus berusaha mengatasinya dengan dukungan sosial yang didapat dari istri dan teman-temannya hingga dapat hidup "normal" meski halusinasi-halusinasi itu tetap ada. Pada adeganh akhir, ia dianugrahi hadiah nobel dan pada saat itulah rekan-rekannya satu persatu memberikan sebuah pena sebagai tanda penghargaan baginya. Emosi yang digambarkan adegan ini sangat kuat sehingga sering membuatku menitikkan air mata ketika menyaksikannya.
Hanya sedikit orang yang tahu bahwa adegan sederhana itu benar-benar menginspirasiku untuk menngambil sebuah keputusan besar : kembali bersekolah. Keputusan yang menurutku sangat besar karena diambil tepat pada saat aku benar-benar merasa tidak mampu dan tidak siap sama sekali. Tapi dua tahun lalu, disitulah aku ....
Dengan mencuri-curi waktu dari tempat kerja akhirnya aku memberanikan diri mencari informasi tentang studi lanjut, meski saat itu tidak serupiah pun dana cadangan untuk melanjutkan studi tersedia. Bermodal nekat, aku menemui bapak kaprogdi yang ternyata sangat baik dan ramah. Aku teringat betapa aku kala itu begitu berani menatap mata beliau dan mengucapkan, "saya tahu saya akan mengalami banyak kesulitan. Saya tahu itu pak. Tapi kalau bapak ijinkan saya mencoba, maka saya akan mencoba memberikan yang terbaik."
Kukira setelah itu beliau akan menolakku, namun beliau hanya memandangiku dan mengangguk pelan. Sebulan kemudian, aku sudah duduk di bangku sekolah lagi. Tidak mudah bagiku. Tak jarang aku menangis sepulang kuliah karena nyaris tak sanggup bertahan, dan bukan hanya sekali saja aku jatuh. Berkali-kali; tapi tiap kali itu pula DIA berkenan mengangkatku. Aku benar-benar erasa dapat berempati dengan Nash yang seringkali harus jatuh bangun dengan keadaannya sendiri. Bergumul melawan diri sendiri.
Hari ini, aku menatap sebuah kotak berwarna hitam di depanku. Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Kotak itu istimewa karena tidak semua orang mendapatkannya. Katanya kotak itu adalah bentuk apresiasi pada karir akademik selama berstudi.
Kuintip kotak itu, dan di dalamnya ada dua buah pena. Dua buah pena... persis seperti yang didapat Nash. Aku masih tidak percaya adegan film yang selalu saja berhasil membuatku terharu itu dapat kualami sendiri meski cakupannya tidak sebesar kisah Nash.
Biasanya ketika emosi meluap, air mata itu menetes begitu saja. Tapi syukurlah itu tidak terjadi hari ini. Aku justru memikirkan sejuta makna dari pena itu. Apa yang hendak kutuliskan dengannya? Apa yang akan kutorehkan? Apa yang dapat kulakukan untukku dan untuk sesamaku?
Dan semakin aku bertanya, semakin aku tak mendapat jawabnya. Mungkin jawabnya hanya akan kutemukan ketika aku menggunakannya kelak.
Perlahan kututup kotak itu sambil tersenyum kecil. Rasanya aku belum layak lulus, karena ada terlalu banyak hal yang masih tidak dapat kumengerti....