Submitted by Debu tanah on

Kehidupan diciptakan oleh Tuhan dengan prinsip “kebebasan yang bertanggung-jawab”. Termasuk hal pernikahan. Manusia bebas menikah atau tidak, Tuhan tidak memaksa manusia harus menikah atau tidak, yang jelas harus bertanggung-jawab. Menikah harus bertanggung jawab, tidak menikah pun harus bertanggung jawab. Menikah pun bebas dengan siapa yang disukai, tidak ada paksaan harus dengan si A atau si B, tetapi sekali menikah dengan si A tidak boleh bercerai, ini namanya kebebasan yang bertanggung jawab.

Menikah itu ada enaknya, ada juga tidak enaknya. Enak nya menikah mungkin: ada istri yang ngurusin, ada yang menemani dan mendampingi serta tidur tidak sendiri lagi dan bila sudah tua ada anak yang memelihara. Tidak enaknya sepertinya jauh lebih banyak:tanggung jawab memimpin rumah tangga, tanggung jawab mendidik anak-anak, dan tanggung jawab ekonomi, yang sudah punya anak pasti tahu betapa mahalnya punya anak jaman sekarang ini! Kebutuhan melahirkan, susu anak, pakaian dan peralatan bayi, bila sudah sekolah ada uang sekolah, uang beli buku, transport, dll. Jadi harus berhikmat juga dalam memutuskan berapa anak yang mampu ditanggung, jangan sampai bikin banyak-banyak, tapi tidak mampu membiayai.

Tapi banyak sekali kasus dimana orang tua – orang tua menelantarkan anak-anaknya. Benci sekali rasanya melihat orang-orang yang demikian: menikah, lalu punya anak. Bukannya memelihara mereka, tetapi foya-foya di luar sana. Uang beli rokok ada, tapi beli susu dan buku sekolah anak tidak ada. Malah ada yang kawin lagi dengan perempuan lain, punya anak lagi. Maka anak-anak yang ditinggalkan nya harus menanggung penderitaan yang luar biasa. Selanjutnya anak-anak yang ditinggalkan ini tidak mempunyai kualitas yang cukup baik untuk bisa hidup dengan layak.

Alkitab mengajarkan orang-orang demikian adalah orang-orang yang pantas masuk neraka. Yup, saya setuju orang-orang yang menelantarkan keluarganya pantas dicampakkan ke neraka !


I Timotius  5:8 Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.