Submitted by dewi on

Meniti hari-hari ku dengan segengam harapan dan keinginan, tidak lagi berbuah karena kuasa-kuasa yang membayangiku dalam melangkah. Aku tersadar, bahwa ada Dia yang diatas sana. Aku memohon....tidak...

"Ok...apa yang kamu mau? Bangsat!", dia memakiku. Aku terdiam sejenak, air mataku mulai mengalir di pipiku. Aku menangis. Ya. Untuk kesekian kalinya aku menangis. Meratapi dia yang sangat dalam telah menghinaku, memalukanku di depan semua. "Tuhan, inikah lagi cobaan-Mu", aku menjerit dalam hati.

"Baiklah, kalau itu yang kamu mau, ambilah...ambilah ," Aku memberi jawaban kepadanya. Dia mulai membuka bajuku, lalu bh-ku, menurunkan rok, dan akhirnya celana dalamku. Aku hanya diam berdiri tidak mampu berbuat apapun, aku hanya menangis.

Lalu dia membuka pakaianya. Dia membimbing merebahkan tubuhku. Aku hanya terdiam dan mengikutinya. "Kamu masih ingat dengan Tuhanmu", aku berkata dengan lirih serasa memohon. Dia terdiam sejenak, matanya menerawang jauh mataku. Tiba-tiba, tangannya yang memegang erat payudaraku mulai mengendur. Dia terlihat lemas, duduk menjauh aku. "Ada apa? bukankah kamu menginginkannya?," Aku merespon gerak tubuhnya.

"Aku mencitaimu...sungguh...'" dia berkata dengan nada datar. "Aku tau itu, aku juga mencintaimu," aku menjawab dengan senyum. "Tidak perlu melakukan itu untuk menyatakan cintamu padaku, atau memintanya sebagai bentuk rasa cintaku padamu", aku menjawab dengan rasa kasih.

Kami terdiam, kami menangis...aku memeluknya...kami berpelukan dalam ketelanjangan kami, erat sekali. "Maafkan aku...", bisiknya. "Aku memaafkan kamu, sebelum kamu memintaku...," aku menjawab dengan rasa syukur kepada-Nya.

(aku, dia, saling mencitai)