Submitted by martha pratana on

...mereka menikah, lalu hidup bahagia selamanya..." Itulah frasa yang selalu saya baca ketika saya sampai pada halaman paling belakang komik cerita HC Andersen yang saya baca ketika masih anak-anak. Setelah saya menikah, saya tahu bahwa sebenarnya frasa itu sama sekali tidak benar. Malahan bisa dikatagorikan pembohongan publik. Mana ada orang yang akan bahagia selamanya setelah mereka menikah? Bukankah sebaliknya kita sering mendengar orang berkata, "jika tahu begini, mending aku tidak kawin!"

Pernikahan yang bahagia harus diusahakan dan "dikerjakan". Ia tidak datang sendiri dari langit. Namun bagaimana jika kita sudah MERASA melakukan yang terbaik untuk membuat suatu pernikahan yang berbahagia, namun tidak berhasil? Perceraian biasanya akan menjadi pilihan. Namun sebagai orang Kristen kita selalu diberitahu bahwa apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan jangan diceraikan oleh manusia. Yup, saya setuju dengan pernyataan di atas. Tetapi, kalau suami saya tukang gebuk, maka saya lebih memilih bercerai daripada digebukin. Namun jika masalah di dalam perkawinan adalah masalah-masalah di luar masalah KDRT, saya percaya masih ada jalan keluar yang bisa diusahakan.

Ibu seorang teman saya pernah mengatakan kepada saya, "Di dalam perkawinan, cukup satu saja yang gila."Artinya, jika di dalam pernikahan kita, kita menganggap pasangan kita itu yang gila, maka cukuplah dia yang gila. Sebaliknya, kita yang waras harus mengusahakan pengobatannya. Ketika pada suatu masa pernikahan saya terasa sulit, saya mulai mengevaluasi siapa orang gilanya, maka hasilnya pasti orang gilanya bukan saya. Sebaliknya, bagi suami saya, dia tahu bahwa orang gilanya pasti bukan dia.

Syukur, pada akhirnya saya memahami bahwa sebenarnya dalam suatu pernikahan yang sedang sulit, mencari siapa orang gilanya bukanlah jalan keluar. Dan saya mendapati bahwa memperbaiki cara berkomunikasi adalah faktor penting untuk menuju pemulihan. Namun di atas semuanya, keinginan untuk menghindarkan diri dari perceraian harus didasari pada kesadaran bahwa perceraian bukanlah yang dicari. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, dapat membantu:

  1. Apakah aku masih mencintai pasanganku? (Jika ya, maka perceraian akan membuatku semakin menderita karena terpisah dari orang yang kucintai. Sebaiknya, aku mulai menerapkan ajaran kasih "Kasih itu....etc etc)
  2. Jika aku tidak lagi mencintai pasanganku, apakah ada pihak-pihak yang dirugikan jika aku bercerai? (Misal, apakah anak-anak akan dirugikan? Harus kuingat, bahwa mereka tidak meminta untuk dilahirkan dan terlibat dalam perselisihan kedua orangtuanya).
  3. Ingatlah kembali, mengapa aku dahulu menikahi pasanganku? Aku pasti menikahinya karena sesuatu yang baik yang keluar darinya. Jika sekarang setelah menikah aku melihat sisi buruknya, maka itu adalah satu bagian dari paket yang kuterima. Tugasku adalah menarik keluar yang baik dari diri pasanganku dan meminimalkan keburukannya sesuai dengan yang dibutuhkan.

Apakah semua yang saya tulis di atas terdengar terlalu idealis? Jangan dulu berkata demikian, sebelum dicoba! .