Sejak dahulu orang telah bernyanyi dan bermain musik. Alkitab mencatat Jubal sebagai pemusik purbakala dan nyanyian sewaktu keluar dari Tanah Mesir sebagai catatan lagu yang pertama. Sementara itu di luar Alkitab bentuk lagu yang tertua adalah nyanyian para dukun dan irama genderang perang. Keahlian purba ini terus berkembang sehingga menjadi bentuk musik yang kita kenal saat ini. Rangkaian nada indah telah menjadi milik setiap manusia.
Ini tidak mengherankan bila kita tahu bahwa menyanyi adalah mengungkapkan perasaan hati dalam rangkaian nada indah. Oleh karena itu setiap orang bisa menyanyi, entah dengan mulut, alat musik atau hanya dengan senar-senar kalbu hatinya. Karena jiwa manusia kaya dengan emosi, maka menyanyi yang merupakan salah satu pernyataan emosinya bisa menjadi bahasa yang universal. Richard Wagner dalam bukunya “Bethoven” menulis demikian, “The language of tones belongs equally to all mankind, and melody is the absolute language in which the musician speaks to every heart.” Tanpa harus mengenal siapa Eric Clapton, kita bisa merasakan duka hidupnya dalam lagunya “Tears in Heaven.” Tanpa harus mengenal diri penciptanya, kita bisa merasakan semangat berkompetisi penulis lagu “We are the Champion.”
Apakah mereka yang tidak mengerti bahasa Inggris dapat mengetahui apa yang ingin diungkapkan oleh pengarang lagu itu? Mari kita mendengarkan lagu-lagu dalam bahasa yang tidak kita kenal. Setidaknya, melalui lompatan-lompatan nada dan keras lembutnya suara atau musiknya kita bisa merasakan apakah lagu itu mengungkapkan kegembiraan atau kedukaan. Mari kita dengar musik klasik lama tanpa vokal, atau lagu-lagu instrumental Kitaro. Memang kita tidak tahu lagu itu berkisah tentang apa. Tetapi anehnya perasaan kita ikut bergetar mengikuti rangkaian melodi lagu-lagu itu. Yes, the musician speaks not to your brain, but your heart.
Dalam tugas pekerjaan yang membuat saya harus bermobil ratusan kilometer dalam sehari di Sumatera, saya selalu membawa belasan kaset musik dalam berbagai genre. Saya memerintah supir saya untuk mempercepat atau memperlambat laju mobil melalui kaset-kaset ini. Lagu-lagu baik dengan syair atau tidak yang bertempo cepat, riang, gempita akan membuatnya berkendara lebih cepat. Sebaliknya lagu-lagu sendu bertempo lambat akan membuatnya tanpa sadar memperlambat laju kendaraan.
Karena itu saya setuju dengan William Congreve yang dalam bukunya The Morning Bride menulis, “Music hath charms to soothe the savage beast, to soften rocks, or bend a knotted oak.” Dalam perjalanan hidup kita telah menyaksikan kebenaran pernyataan ini. Dengan lagu para komponis telah mengobarkan semangat bertempur para pejuang; mendorong pendengarnya asyik menari; melambungkan cita yang sedang bercinta; bahkan pemerintah Perancis pernah melarang sebuah lagu karena dicurigai mendorong orang frustasi bunuh diri. Kita tak mungkin bisa menghitung berapa banyak jiwa yang telah diselamatkan oleh lagu “Amazing Grace” dan lagu-lagu rohani lainnya.
Namun demikian reaksi emosi seseorang terhadap musik tidak lepas dari suasana jiwanya saat itu karena musik tidak mematikan perasaan tetapi “berbicara” kepada perasaan kita. Lagu-lagu yang berbicara tentang cinta yang kandas punya perbedaan reaksi emosi di telinga orang yang sedang bermalam panjang dengan mereka yang sedang sendirian di malam Minggu. Bahkan pada saat tertentu musik bisa punya arti lebih dari sekedar musik seperti kata seorang penulis novel, “Music I heard with you was more than music.” Siapakah yang berani menyangkal kebenaran perkataan ini? Terlebih lagi manakala seikat bunga cinta sedang tergenggam erat di tangan dan rindu bergayut di kening.
Bukankah lagu kebangsaan juga bukan sekedar lagu lagi? Demikian juga lagu sakral lainnya dan lagu-lagu gerejani. Bahkan Tuhan pun berkenan bersemayam di atas puji-pujian kita (Mazmur 22:3) sehingga Daud mempunyai 4000 musisi untuk melantunkan lagu-lagu pemujaannya (1Tawarikh 23:5).
Ketika Koes Plus berjaya, mereka memasarkan lagu-lagu Natal dalam irama dangdut. Anda pernah mendengar lagu-lagunya ini? Setiap saya mengetik artikel pada tengah malam selalu radio saya tuning ke program Lagu Nostalgia. Banyak lagu Koes Plus yang dikumandangkan, tetapi walau dalam bulan Desember lagu-lagu Natal dangdut ini tidak pernah diputar atau diminta oleh pendengar radio. Tidak ada orang Kristen yang menyukainya karena “roh” lagu ini telah berubah dari aslinya.
Saya pernah malu ketika menghadiri konser musik di sebuah gereja. Di sebelah saya duduk 2 orang perempuan asing. Setelah berkenalan, saya tahu mereka diutus oleh sebuah gereja di Jerman untuk mengurus sebuah panti asuhan Kristen di kota ini. Ketika para musisi melantunkan lagu Haleluya, tanpa suara mereka berdiri tegak dengan sikap hormat. Hampir satu menit mereka berdua saja yang berdiri. Untung saya segera ingat sejarah lagu ini. Saya segera ikut bangkit berdiri. Jemaat lain kemudian menyusul.
Di gereja saya setiap paduan suara selesai menyajikan lagu, jemaat bertepuk tangan. Himbauan dari sinode untuk tidak bertepuk tangan diabaikan. Pendeta dan penatua juga mendiamkannya. Ada suara-suara tidak senang dari beberapa orang yang mengatakan hal ini sama dengan mencuri kemuliaan Tuhan. Tetapi karena mereka bukan orang-orang yang terpandang statusnya, keluhan mereka terabaikan. Saya juga tidak mengajukan protes karena ada hal-hal lain yang jauh lebih penting yang harus saya kerjakan. Suatu kali saya dipermalukan oleh kebiasaan jelek ini.
Sebuah paduan suara dari sebuah kota datang bertandang ke gereja kami menggelar acara malam pujian yang disuguhkan dalam bentuk ibadah. Mereka menyajikan lagu-lagu sepanjang ibadah itu. Setiap mereka mengakhiri sebuah lagu, jemaat bertepuk tangan tidak peduli lagu itu berisi doa. Hilanglah suasana hikmat yang hendak mereka bangun. Saya yang duduk di bangku paling belakang sangat berharap pendeta atau penatua berdiri dan mengingatkan jemaat untuk tidak bertepuk tangan. Tetapi mereka tidak bereaksi. Di depan saya duduk berderet beberapa musisi gereja-gereja tetangga.
Seorang dari mereka menoleh ke belakang dan bertanya kepada saya, “Ini ibadah apa pertunjukan?” Saya terpaksa meringis saja dan menjawab, “Kamu tanya saja sama pendetaku.” Setelah kantong kolekte diedarkan, dia berkata kepada saya,
“Ga papa ya kami pulang sebelum ibadah selesai. Yang penting ‘kan sudah melunasi uang pertunjukan.”
Saya mengikuti mereka keluar.
“Kok kamu ikut keluar?”
“Memang cuma kamu saja yang kena vertigo?”
Keragaman emosi dalam syair dan dinamika lagunya akan menuntun kita menemukan fungsi lagu gerejani. Di antaranya adalah : -
1. Untuk mengungkapkan perasaan hati kita kepada Allah – antara lain ucapan syukur, pengakuan dosa, pembaruan janji, pengharapan, jawaban terhadap Firman Tuhan.
2. Untuk memperkenalkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat – dalam hal ini berfungsi sebagai alat perkabaran Injil.
3. Untuk mempersiapkan hati menerima Firman Tuhan – fungsi ini nyata sekali dalam Kebaktian Kebangunan Rohani, dimana lagu itu dinyanyikan berulang-ulang.
4. Untuk menyembah Allah – fungsi tertinggi ini selalu dimanfaatkan dalam kebaktian gereja karismatik yang syair lagunya hanya berisi kata-kata pujian kepada Allah.
Sering kita kurang menyadari fungsi-fungsi ini. Kita menganggap menyanyi dalam ibadah hanyalah pelengkap. Sikap ini akan membuat kita menyanyi dengan cara yang salah sehingga jiwa lagu menghilang terutama dalam gereja-gereja main stream. Mau menyanyi lagu apa saja, kecepatan iramanya selalu tetap sama, lambat, sehingga slogan “Christian is a singing religion” berubah menjadi “Christian is a sighing religion.” Bagaimana orang muda tidak bingung diajak menyanyi “Laskar Kristen Maju” dengan tempo lambat seperti kala menyanyikan lagu “In Moment Like This”? Semangat yang tersirat dalam syair lagu dilemahkan oleh tempo yang salah. Ketika kawula muda mengajukan protes, tenang saja penatua menjawab, “Kalau pakai tempo yang sebenarnya, kasihan jemaat lanjut usia. Mereka bisa kehabisan nafas.” Ah, apa iya? Ketika gereja ini merayakan ulang tahun Sekolah Minggunya seluruh liturgi ibadah Minggu berisi lagu-lagu anak-anak dengan tempo cepat. Saya terharu melihat opa oma ikut bertepuk tangan (yang biasanya diharamkan) sambil menyanyi. Memang mereka tidak ikut menyanyi pada lagu-lagu bertempo sangat cepat. Tetapi melihat mereka bertepuk tangan sesuai irama dan tubuh bergoyang tanpa ada yang memerintah dengan wajah berbinar-binar, saya tahu mereka sedang menyanyi dengan hatinya.
Hampir setiap gereja mempunyai alat musik dari mulai yang sangat sederhana berupa gitar sampai yang lengkap dan canggih. Bila alat musik difungsikan untuk membimbing (bukan mengekor) jemaat menyanyi boleh dipastikan mereka akan menyanyi dengan penjiwaan yang tepat.
Fungsi alat musik yang paling mendasar adalah menentukan tempo sebuah lagu. Di sebuah gereja di Padang menjelang kebaktian dimulai, seorang song leader melatih jemaat menyanyikan lagu “Haleluya, amin” sebagai lagu penutup ibadah. Ia meminta jemaat menyanyi dengan sedikit cepat dan stacato (agak terputus-putus) sehingga berkesan gagah. Memang terasa beda dengan bila menyanyikannya dalam tempo lambat dan berat yang membuat kata “amin” seolah ragu terucap.
Fungsi berikutnya adalah memunculkan jiwa lagu melalui pemilihan ritem yang bisa dipilih dalam menu keyboard. Suatu ketika kebetulan saya melihat para singer gereja sedang berlatih. Ketika mereka menyanyikan lagu “Gembala baik bersuling nan merdu” (KJ 415) saya menganjurkan mereka mempergunakan ritem country tanpa merubah tempo. Hasilnya, suasana lincah dan sukacita muncul dari lagu itu.
Fungsi-fungsi lain alat musik bisa digali sesuai dengan kemampuan dan kreativitas para musisinya serta jenis alat musik yang tersedia. Yang perlu diingat adalah jangan karena mempunyai banyak alat musik maka setiap alat musik dimainkan sama kerasnya dan dalam durasi yang sama. Ketika jumlah alat musik bertambah, beban para musisi bertambah karena mereka harus mulai mempergunakan partitur yang mengatur kapan mereka memainkan alat musiknya di bagian mana sehingga musik yang mereka mainkan tidak terdengar hingar-bingar. Bahkan bila perlu pada suatu bagian lagu semua alat musik berhenti bermain membiarkan jemaat menyanyi akapela (tanpa iringan musik).
Selama ini lagu “Di hidupku, ‘ku ada Sobat yang setia, yang s’nantiasa berjalan sertaku” (NKB 201) bagi saya adalah sebuah lagu yang sarat dengan harapan akan penyertaan Tuhan sewaktu saya menjalani kesulitan hidup. Suatu ketika di sebuah gereja di Jl. Jenderal Sudirman Surabaya untuk mengiringi lagu ini, para musisi melakukan improvisasi dengan sedikit mempercepat temponya dan piano dimainkan satu oktaf lebih tinggi sehingga memunculkan suasana ceria dan lincah. Yang saya rasa saat itu bukan lagi sebuah harapan, tetapi keyakinan akan penyertaan Tuhan.
Tentunya ide improvisasi seperti ini tidak akan muncul begitu saja. But believe me, ketrampilan-ketrampilan ini bisa kita miliki melalui kerja keras tanpa henti yang dilandasi ucapan syukur kepada Tuhan Yesus sehingga suatu hari kita bisa berkata, “Music I sing for You is more than music,” seperti lagu di bawah ini.
Catatan: Lagu ini dikutip dari buletin MLMm-13 edisi ke-58.
](06.09.2010)
artikel sebelumnya: Canda tembang anak