Submitted by
simon nugroho …
on
Mazmur 90:10
Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya
adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
“Simon, ya?!” si om membalas sapaan ku dari tempat tidurnya.
Si om bukan ‘pangling’ pada wajahku, tapi karena dia sudah kehilangan total pengelihatannya.
Dia mengenali suaraku yang sudah berbulan-bulan tak pernah menengok om yang sakit, tidak bisa jalan, ginjalnya terganggu, di’kateter’, kakinya bengkak, lengannya bengkak dan harus dibalut dengan kencang agar cairan keluar dan ‘kempes’.
Usianya 80 tahun, suaranya masih keras-jelas, daya ingatnya masih bagus, telinganya masih tajam mendengar lawan bicara. Dan ya itu tadi matanya telah kehilangan fungsinya, buta total.
Beberapa bulan sebelum om dipanggil Tuhan, sering bilang pada anaknya:
“Itu Geng An, Kiem Seng, Londo kok sudah datang”
“Papah ngawur!”
“Lho lha itu temen-temenku ‘podo’ datang”
“Papah tu lihat dari mana, wong matannya papah ndak bisa lihat?”
Om sering bilang kalau teman-temannya datang dan memenuhi kamarnya.
Mama temanku usia 85 tahun, berak-pipis di tempat tidur. Suatu hari mamanya bilang pada perawatnya:
“Itu kok banyak anak-anak, rame. Suru pergi saja”
“Ya, mak dah tak usir semua”
“Kamu jangan ‘ngapusi’, tu masih main-main”
Siperwat tak pernah melihat anak-anak bermain, tapi dia meng’iya’kan saja untuk mengusir anak-anak.
Kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang sebelum mamanya dipanggil Tuhan.
Mak Karlina, begitu kami panggil. Hampir 85 tahun, masih bisa merawat diri sendiri. Kesulitannya berjalan karena kelainan tulang pinggul dan kaki sejak muda. Dia lebih pilih ‘mbrangkang’ daripada berjalan, takut jatuh. ‘Mau’nya masih banyak:
“Aku titip pisang goreng”
“Nanti aku bawa keluar kamar, mau beli bubur”
“Beli bedak ya, kulitku kok gatal-gatal”
Suatu kali ‘remot’ TV nya rusak, beli baru dan mau di’set’ cucunya. Sementara cucunya nge’set’, mak Karlina omong terus:
“Bapak sing ireng, gendut itu kok di ‘pojokan’ terus.
Kalau tak ajak bicara ndak pernah mau ‘nyauri’, hanya ‘ngguya-ngguyu’ tok.
Lha yang perempuan cilik itu, anaknya ya sama saja, diajak omong diam aja,
malah sering ‘ngece’- cengengesan. Bisa masuk ke dalam kipas angin ……..”
Ceritanya belum habis, ‘remot’ nya belum selesai di’set’, dilempar, ditinggal di tempat tidur oleh cucunya. Cucunya berkeringat ketakutan meninggalkan kamar mak Karlina.
Sampai hari ini mak Karlina masih ‘perkasa’. Banyak ‘orang’ di kamarnya, mak Karlina bicara dengan ‘mereka’, tapi mereka tak menjawab.
“Lho yang di kamarku banyak orang, kok hanya aku yang dikasih makan?;
Tapi kalau ku beri juga tidak mau. Diam saja. Apa takut kamu marahi?”
Tahu lebih baik daripada mengalami seperti cucu mak Karlina yang lari berkeringat ketakutan.
Tahu lebih baik daripada nanti kita mengumpat mereka: “ngawur!”.