Bis mengurangi sedikit kecepatannya, memberiku kesempatan memerhatikan deretan tanaman yang memagari komplek. Empat tahun lalu, di jalan yang sama, aku melihat deretan rumah di belakang pagar itu. Bukan pagarnya yang menarik perhatian, juga bukan rumahnya. Saat itu aku memerhatikan apapun yang ada di pinggir jalan, semuanya tampak menarik. Deretan rumah tak terputus dan tembok tinggi kelihatannya lebih indah daripada deretan pohon di pinggir sungai kampungku.
Sekarang, untuk kesekian kalinya, aku memerhatikan pagar yang sama. Dan teringat sebuah cerita.
***
"Lama sekali tidak pulang, ya?"
"Lima tahun," jawabku.
Saat kembali ke kota ini, semuanya sudah berubah. Si kembar bukan lagi anak SMU yang mengisi kamarnya dengan Ronan Keating dan Britney Spears. Deni tampak lebih dewasa dari umurnya yang hanya lebih tua dua tahun. Dari cerita yang kudengar, ia yang mengurus kedua adiknya. Kakak tertua sudah menikah, sedangkan wanita yang sedang bertanya ini adalah ibu mertua kakak perempuanku yang nomor tiga.
Mataku melihat pintu kamar yang terbuka. Agak heran karena ketiga adikku masuk seenaknya ke kamar ini. Mengganggu bayi yang sedang berbaring di ranjang. Bisa kulihat, sang bayi begitu senang dengan kehadiran ketiga tantenya.
"Kabarnya mau bekerja di Solo?" kali ini ayah mertua kakakku yang bertanya.
Aku mengiyakan.
"Sekarang sudah tinggal di sana?" tanyanya.
"Belum, habis ini baru ke sana."
"Sudah pernah ke Solo?"
Pertanyaan aneh. Bagaimana aku yakin mau bekerja di Solo, bila belum pernah ke sana? Tentu saja bukan itu yang keluar dari mulutku.
"Baru sekali."
"Waktu dari Jogja ke Solo naik apa?"
Aku pikir ini sebuah wawancara.
"Naik Bis."
"Turunnya di mana?"
Interogasi, batinku.
Hanya dua alasan ia mengajukan pertanyaan seperti ini: Terlalu bodoh atau tahu Solo. Aku hanya tahu satu tempat di Solo, berangkat ke terminal itu dan pulang dari terminal yang sama.
"Tirtonadi," jawabku.
"Jadi pindah juga ternyata."
Ia sedang bergumam. Kuperhatikan wajahnya, mata itu tampak sedang menerawang. Tiba-tiba ia berkata, "Dulu terminalnya ada di Kampung Gemblegan. Namanya Stasiun Bus Harjodaksino. Sangat sumpek, sehingga ada rencana memindahkannya ke sebelah timur Taman Tirtonadi."
"Pernah dengar lagu Gesang?" tanyanya.
Kakek sangat suka keroncong, entah berapa ribu kali lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah memenuhi rumah kami.
"Bengawan Solo," jawabku seolah-olah sedang mengikuti lomba cerdas cermat.
"Lagu tentang Tirtonadi juga ada," katanya.
Mulutnya menyenandungkan lagu yang belum pernah kudengar:
"Di Solo juga ada Taman Sriwidari," ia sama sekali tidak peduli orang menyukai lagunya atau tidak. "Karena di surga ada taman yang sangat indah, maka raja Solo juga membangun Kebon Rojo untuk tempat peristirahatan keluarga kerajaan."
"Di sana, maksud saya di Taman Sriwedari juga ada kebun binatang," lanjutnya.
"Di Solo juga ada kebun binatang," kataku tidak mau kalah. Aku benar-benar tidak tahu tentang kota yang sedang ia bicarakan. "Namanya kebun binatang Gembira Loka."
Ia sama sekali tidak memberiku kesempatan bercerita tentang kuda nil di Jogja.
"Solo memang kota yang unik. Dulu Pasar Gede menjadi wilayah orang Cina, Pasar Kliwon menjadi wilayah orang Arab, sedangkan Banjarsari menjadi daerah orang Belanda dan Eropa. Tirtonadi ada di daerah Banjarsari ini."
Aku hanya pernah mendengar Pasar Klewer. Dosen matematika yang orang Solo itu tiba-tiba berbalik dari papan tulis, "Pernah dengar Pasar Klewer?" "Belum Pak." "Beginilah suasana Pasar Klewer itu." Kami yang kebanyakan dari luar pulau malah tertawa lebih keras. Mengira ia sedang melucu, bukan sedang menyindir kelas yang ribut.
Cukup lama ia diam, sehingga aku merasa mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan yang bisa kutebak jawabannya.
"Bapak pernah tinggal di Solo?"
"Tidak."
"Kok tahu banyak tentang Solo?"
"Dulu saya di Kandang Menjangan."
Aku teringat kompleks berpagar tanaman hidup itu.
"Jadi Bapak pernah ikut tentara?"
"Makan lagi pisang gorengnya," tiba-tiba istrinya yang sejak tadi diam menyela.
Kuambil sebuah lalu diam menanti jawaban.
Hening, tidak ada jawaban. Aku masih menanti.
"Ayo minum dulu," suara yang sama terdengar lagi.
Aku merasakan sesuatu. Wanita ini tidak sedang menawarkan pisang goreng yang sejak tadi kumakan sambil mendengar cerita. Ia juga tidak sedang menyuruhku menghabiskan teh yang tinggal seperempatnya.
Ia sedang memberi isyarat.
"Palangkaraya ternyata sudah banyak berubah ya?" kataku.
***
"Kamu tadi tidak mengerti, ya? Neneknya Dio tidak ingin kamu melanjutkan pertanyaan tentang tentara itu," kata Deni.
Aku harus menahan godaan untuk menoleh ke belakang, memastikan mereka tidak mendengar apa yang kami bicarakan begitu keluar pagar.
"Memang kenapa sih?" tanyaku.
"Kakeknya Dio pernah masuk penjara," jawab Deni.
"Mengapa?"
"Tanpa sengaja ia menembak orang," kata Nyai.
"Kok bisa?"
Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Refleks.
"Waktu menjadi tentara, ia ditugaskan di sini," kata Deni. "Di sini tidak ada perang sehingga ia menggunakan senapannya untuk berburu saja. Ia melihat ada yang bergerak-gerak di balik semak, yakin itu rusa sehingga menembaknya. Ternyata nenek tua yang sedang mencari jamur."
Aku pernah mendengar cerita ini. Kakek selalu membawaku ke kebaktian keluarga, kebaktian dari rumah ke rumah sekali seminggu. Suatu hari, setelah doa penutup, sambil menunggu makanan kecil, seseorang bercerita. Di sungai lain pernah ada tentara yang mengira seorang wanita tua sebagai seekor rusa. Ia menggendong sendiri mayat wanita tua itu ke markas.
"Waktu itu ayahnya Dio masih SD," lanjut Deni membuyarkan kenangan bersama kakek.
"Tadi ia senang sekali bisa bercerita tentang daerah asalnya. Tetapi karena kamu mengungkit-ungkit tentara, ia langsung diam."
Bisa kudengar ada nada menyalahkan di suara Nyai.
***
Bisku sudah melewati kompleks. Sudah empat tahun aku tinggal di kota ini. Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali sudah kulewati pagar hidup itu. Mengingat cerita ayah mertua kakakku, aku rasa ia tidak tahu kota ini sudah banyak berubah. Aku tidak melihat bekas terminal lama, Sriwidari bukan lagi kebun binatang, dan ada taman baru di depan terminal Tirtonadi. Lalu kemarin, saat berangkat, aku melihat tiang-tiang tulangan beton di sebelah barat terminal.
Bila bertemu lagi dengannya, bila ia masih mau mau membicarakan kota ini, aku punya seribu satu pertanyaan. Apakah tempat penjualan batu nisan dekat terminal sudah ada sejak dulu? Apakah bencong-bencong itu memang sejak dulu menunggu langganannya sambil duduk di atas batu kubur itu?
***