Banyak orang berkata bahwa masa paling indah adalah masa di sekolah. Sebagian orang mungkin mengganggap hal itu sebagai omong kosong. Tapi bagiku, hal itu terlalu benar untuk dikatakan sebagai hal yang tidak benar. Benar, bagiku, masa sekolah, khususnya SMA, adalah masa paling indah dalam hidup - setidaknya itulah yang kurasakan hingga saat ini.
Yang ada hanya senang-senang. Terdengar begitu sempurna memang, tapi hal itulah yang kurasakan. Rasa senang itu seakan melindas beberapa kepahitan, rasa kuatir, dan rasa takut yang pernah sesekali aku rasakan.
Persahabatan, permusuhan yang tidak jarang berujung pada perkelahian, kisah cinta yang kadang berakhir manis, namun tak jarang juga berakhir pahit, gurauan, kenakalan, pembangkangan, pujian, ejekan, bahkan kekerasan, seakan semuanya bercampur menjadi satu, yang datang silih berganti, atau bahkan bersamaan untuk menambah indah hari-hariku di SMA Kr. Widya Wacana Surakarta, begitulah nama sekolahku disebut. Sekolah yang bentuknya lebih mirip seperti hotel prodeo daripada sekolah-sekolah pada umumnya yang aku tahu. Meski begitu, aku tidak pernah merasa seperti narapidana.
Banyak sekali kisah manis yang masih dapat aku ingat. Mungkin saking manisnya dan berkesannya sehingga aku dapat mengingatnya, mengingat aku adalah orang yang cenderung pelupa. Saking pelupanya, sampai-sampai adik perempuanku selalu menyebutku dengan sebutan "Alzeimer" (sejenis penyakit lupa) - mungkin penulisannya salah, tapi itulah yang aku tangkap dari apa yang kudengar - setiap kali dia melihatku lupa tentang suatu hal.
Ada keinginan untuk menulis salah satu kisah yang masih tertancap kuat di otakku, tapi mungkin lain waktu sajalah. Aku merasa tidak enak hati menggunakan waktu kerja untuk menulis kisah yang mungkin akan memakan cukup banyak waktu itu.