Submitted by Ringga Pangaribuan on

TEOLOGI YANG DIRASA

(Mutiara-Mutiara Berkilauan)

            Teologi memang dunia yang menarik. Bahasanya yang khas membuat kecintaan terhadap dunia ini begitu nikmat. Belum lagi kekayaan misteri di balik tirai-tirai kebenarannya semakin membarakan lagi rasa cinta itu.

            Semakin dalam menyelami samudera “kebenaran” teologi entah kenapa seperti ada suara yang berteriak dari dalam hati. Suara yang terus berteriak sampai menimbulkan keresahan yang tiada henti. “Apa gerangan keresahan ini?” pikirku sambil terus menyelami samudera itu.

            Semakin dalam menyelam semakin keras suara itu berteriak. “DIam kau!” bentakku, sambil terus menyelami dan larut dalam untaian kata-kata indah bungkusan teologi.

            Semakin dalam…semakin gelap…semakin kuat tekanan teologi itu menusuk ke kulitku…ah…tapi semakin indah kurasa. Kunikmati kesepian dikedalamannya, kunikmati kesunyian digelapnya samudera itu, kunikmati tekanannya seperti sebuah tantangan yang harus ditaklukkan…”Oh..rancak nian kau samudera teologi.”

            Kuselami terus samudera luas itu. Kutemukan beberapa penyelam lainnya. Tapi kami tidak bertegur sapa. Sepertinya waktu terasa sangat berharga buat kami. Mata mereka tajam ke depan, seperti sedang mencari sesuatu. Ah..akhirnya aku sadar mereka juga sama sepertiku, mencari mutiara-mutiara kebenaran yang bertebaran di samudera luas lautan teologi.

            Lama-lama aku tak tahan akan kesepian ini. Kuputuskan untuk mencari seorang sahabat. Memecah belah keheningan lautan teologi dan siapa tahu bisa merubahnya menjadi keriuhan pesta pora anak muda.

            Dikejauhan kulihat seorang sedang menyelam tenang. Kantung mutiaranya tampaknya sudah penuh. Dilihat dari gerak ayun kakinya, tampaknya  dia sudah lama sekali tinggal di kedalaman lautan ini. Tapi sorot matanya terus mencari, seperti tidak puas akan segala pencapaiannya. Kuhampiri dia. “Pak!” sahutku dengan penuh rasa hormat. Perlengkapan alat selam yang menutupi seluruh tubuhnya membuat aku tidak berani untuk menggunakan sapaan yang lain semisal Bang, Bung, Dek, atau sapaan yang lain. Kemudian dia menoleh dan menatapku dingin. “Hey anak muda.” Suaranya parau kudengar mungkin karena sudah sering berteriak atau berbicara di depan banyak orang dengan durasi yang lama. “Kau belum pantas untuk bersanding denganku. Mutiaramu masih teralu sedikit. Apalagi jenis mutiara yang kau pilih tidak sama dengan jenis mutiara yang ada padaku. Kesanalah menjauh aku tidak suka dengan kau!” ketusnya.

            Wah…pengalaman pertama yang mengagetkan buatku. Tak kusangka pak tua itu berbicara seperti demikian. Mataku tertuju pada tumpukan mutiaraku…ada yang bercahaya terang…coba kutelisik lebih dalam,”O..itu mutiara pengampunan!” segera saja kuampuni pak tua itu dengan melepaskan satu mutiara ke laut luas.

            Di duniaku ini memang seperti itu. Setiap mutiara melambangkan sesuatu. Mutiara-mutiara itu dicari memang untuk dilepaskan. Jika ingin merasa sukacita, carilah dahulu kesejatian mutiara sukacita. Simpan itu beberapa lama kemudian lepaskan. Demikian juga hal dengan muatiara belas kasihan, mutiara damai sejahtera, mutiara pengampunan, dan mutiara-mutiara yang lain. Yah itulah aturan di samudera teologi, temukan kesejatiannya, kemudian lepaskan.

            Semangatku untuk mencari seorang sahabat belum terpadamkan. “Wah…ada seseorang disana.” gumamku. Kucoba tuk susul dia. Dari jauh kuamati, kantung mutiaranya tidak terlalu banyak, jenisnya hampir samalah dengan ku, kakinya cepat sekali bergerak, artinya mungkin dia masih muda, tapi lebih tua dibandingku. Dia tampak mengenal sekali medan. Akan kucoba untuk menyapa dia, “Hai..hai..!” teriakku untuk memanggilnya. Dia berhenti dan melihatku. Tatapannya tajam namun diaromai dengan bumbu kesombongan dan keangkuhan. “Apa lo goblok, tolol, bego…manggil-manggil gue. Mutiara lo jelek semua, ga ada yang bagus. Liat ni mutiara gue. Paling besar, berkilauan, dan tentu paling sejati dibanding mutiara lo. Dasar goblok!” setelah selesai dia memakiku, dia langsung pergi. Mataku tertuju pada kantung mutiaranya, “Tidak terlalu besar ternyata, tidak terlalu berkilau ternyata, tidak terlalu sejati ternyata.” Gumamku dalam hati. “Tapi ya sudahlah. Lebih baik tidak bersahabat dengan orang seperti ini.” pikirku sambil melepaskan dua mutiara sekaligus ke laut luas, mutiara pengampunan dan mutiara damai sejahtera.

            Kini sepi itu menyerang lagi. Moment yang paling kubenci datang lagi. Suara itu kenapa berteriak lagi. Suara apa ini. Kucoba untuk tidak mendengarnya. Aku tidak mau diganggu dengan suara itu lagi. “Argh…pergi kau!” teriakku mencoba mengusir suara itu. Kuayunkan kakiku lebih cepat, mencoba mengalihkan telingaku dari kegaduhan yang ada dalam diriku sendiri. Semakin cepat dan semakin cepat, sampai aku lupa mencari mutiara-mutiara yang lain. Hingga akhirnya kakiku terhenti ketika kulihat kegaduhan di depan mataku. Tidak jauh hanya beberapa puluh meter di depan. “Mutiaraku yang benar… mutiaraku yang paling berkilau… semua mutiara kalian suram tak bercahaya…mutiaraku…mutiaraku…mutiaraku…” sayup sayup kudengar penggalan kata-kata itu. Orang-orang saling berteriak, saling dorong menyodorkan masing-masing mutiaranya. “Apa gerangan disana, pertengkarankah, perkelahiankah, ada hajatan apa?” pikirku terus bicara secepat aku mengayunkan langkah kakiku.

            Semakin dekat, penglihatanku semakin jelas. Semua tampak hening. Aku melihat sesosok yang dituakan sedang berbicara. “Sepertinya aku mengenalnya.” dahiku mengernyit. “Dia itu kan…” memang benar dialah orang pertama yang kutemui dalam pencarianku akan seorang sahabat.

            Dia tampak bersahaja dan berwibawa. Tapi tidak lama dia bericara, semua orang tiba-tiba ribut. “Itu tidak benar…mutiaramu tidak sekilau seperti yang kau katakan. Berdasarkan referensi yang kita akui, sebuah mutiara berkilau jika….” buku referensi mulai dibacakan dengan suara yang lantang. “Hai anak muda, hati-hati dalam menggunakan buku itu. Kau tidak boleh sembarangan!” suara itu agak parau, tampaknya keluar dari seseorang yang sudah agak lanjut usianya.

 “Tapi bukankah ini yang menjadi dasar dan tolok ukur ukuran mutiara?” balas si pembaca buku referensi.

Tiba-tiba situasi gaduh lagi.

“Hai kalian orang-orang goblok! Kalian memang semua tolol. Bego! Inilah mutiara yang baik dan benar. Silakan dibandingkan dengan buku referensi, aku yakin inilah yang benar. Dasar kalian orang-orang tolol!” kata seseorang dari kerumunan.

Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Caci makinya seperti pernah kualami. “Oh baru ku teringat.” Pria yang kusapa dan kupanggil dengan setengah berteriak, “Hai..hai..” itu rupanya.

Jelas saja, caci makinya dibalas dengan caci maki yang lain. Ada banyak cara mencaci orang ternyata. Ada yang sopan, lembut, halus dan kasar. “Sebuah pelajaran yang berharaga.” gumamku.

Lama kelamaan, aku terbawa juga dalam kegaduhan. Marahku terbakar, hatiku tergores pilu dengan makian, gigiku bergemeretak menahan amarah…huh… tak terhitung lagi jumlah mutiara yang kukeluarkan. Persedian mutiaraku semakin menipis. Sementara yang lain tidak mau sedikitpun mengeluarkannya. Mereka memelihara marah itu dalam hatinya dan bahkan ada yang mencoba untuk bersahabat dengannya. “Ah..aku tak bisa seperti itu!”

“Dasar kau tolol! Mutiara masih sedikit, tapi sok menggurui yang tua!” telunjuk itu mengarah tepat di mukaku. Dinginnya air lautan samudera itu sudah tidak lagi kurasa. Panas sekali dalam hati ini. Seperti ada yang terbakar. Sepeti sekam yang terkurung dalam hati…”Arggghh..aku butuh penyaluran amarah!” sembari mengepalkan tangan.

Segera saja aku meraba kantung mutiaraku. Semakin sedikit. Aku terjekut. “Sudah sebanyak itukah mutiara yang kubuang?”

Aku terdiam sembari terus meraba kantung mutiaraku. “Hah…hanya tinggal tiga?” pikirku lebih tertarik kepada kantung mutiaraku dari pada membalas cacian yang ditujukan padaku. Kuambil ketiganya dan kutaruh ditelapak tanganku. “Hei, ada mutiara kembar ternyata. Ada mutiara kasih, mutiara pengharapan, dan mutiara iman.” Jeritku dalam hati. “Wah besar sekali mutiara kasih ini. Kenapa baru kusadari sekarang? Nah ini dia mutiara kembarnya. Sang mutiara iman bersanding dengan mutiara perbuatan.”

Tatapku menatap jauh. Telingaku seperti terkunci dan tidak mendengar suara kegaduhan itu. Seperti semua orang menggerakan mulutnya tapi tidak ada suara yang kudengar. Kulihat ke atas, dan mencoba berenang ke sana. Tidak ada satupun yang mengacuhkan kepergianku. “Ya…aku sudah menemukan kebenarannya!” aku tersenyum bangga.

Semakin cepat kuayunkan kaki ku. Tak sabar aku tuk segera muncul ke permukaan. Mutiaraku hanya berguna di sana, tidak di sini. Lautan teologi terlalu abstrak bagiku. Kegaduhan, kesombongan, keangkuhan, jelas bukan dunia ku. Perang pendapat, adu argumen, merasa diri paling benar, dan sederetan cara hidup yang lain jelas bukan untukku.

Aku mulai melihat secerca cahaya, itu artinya aku akan segera sampai di permukaan. Kuhirup udara segar sepuasnya, “Sampai juga!” sambil menatap mutiaraku.

“Haaah?” terbelalak matu ku melihat realita di permukaan. Banyak orang kelaparan, kemiskinan, penindasan semena-mena dari orang yang lebih berkuasa, pelacuran anak, saling bunuh untuk sebungkus nasi aking, “Dunia apa ini? Kemana semua orang? Tidak adakah yang peduli?” teriakku marah.

Aku hampiri seorang anak kecil yang busung lapar, “Nak…kemana semua penjaga kota?” tak mampu lagi dia menjawab, tidak ada tenaga, dia hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah laut. “Nak…ke…” tak jadi kuteruskan pertanyaan yang lain ketika kulihat matanya sudah terpejam dalam keheningan yang tenang. Dia mati dalam pangkuanku. Air mataku mengalir dengan derasnya.

“Argh……a….agh……” teriakku sekuat tenagaku.

“Teruk sekali tanah ini!”

“Kenapa lautan itu menjadi tujuan semua penjaga kota?”

“Sang Pemilik Mutiara…ampuni hambaMu.”

Lama kutepekur ditengah erangan minta tolong dari banyak orang. Kekuatan seolah muncul ketika ingatku kembali pada mutiara itu.

“Ah… masih ada asa yang tersisa!”     

“Masih bisa diselamatkan!”

Akhirnya kuputuskan untuk bangkit dan berkarya dan memaksimalkan daya mutiara itu untuk memberitakan kabar baik pada orang miskin, memberitakan pembebasan pada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan untuk memberitakan tahun rahmat.

Oh…Tuhan tolonglah aku! Doaku terangkat ke surga seiring berlalunya suara-suara pengganggu itu.