Submitted by Miyabi on

Ungkapan "hati manusia itu licik" semula sangat aneh buat saya. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang memberi makna positif pada kata "hati". Dalam pemahaman saya, kejahatan itu muncul dalam pikiran, sementara hati itu selalu baik dan menginginkan yang baik.

Suatu hari saya masuk ke chat room dan ngobrol dengan seorang pengguna internet dengan ID yang religius dari salah satu agama. Salah satu obrolan adalah tentang hati. Ia menyatakan bahwa hati manusia itu licik  dan hanya dengan pertolongan Tuhan saja manusia dapat melawan kejahatan di hatinya tersebut. Pada waktu itu alam pikiran saya merasa aneh karena saya lebih condong pada paham kemanusiaan  yang mempercayai bahwa sisi baik manusia dapat diandalkan dan dengan akal budinya, manusia dapat menuju pada kehidupan yang lebih baik.

Memang kemudian saya menemukan ayat-ayat Alkitab yang memperingatkan soal kecenderungan manusia untuk berdosa, namun ayat-ayat tersebut kurang bermakna bagi saya. Apalagi kemudian Allah membebaskan saya dari sebuah dosa yang membelenggu saya bertahun-tahun. Rasanya demikian luar biasa bahwa penderitaan bertahun-tahun itu bisa lenyap begitu saja oleh Kuasa Allah. Saya merasa seperti tawanan yang dibebaskan dan menjadi orang merdeka. Saya merasa musuh utama saya telah dikalahkan, dan beruntun hal-hal buruk lain dalam diri saya pun dengan mudah saya kalahkan satu demi satu.

Dalam sukacita saya menyimpulkan bahwa kebaikan telah menang dari keburukan di hati saya. Sampai suatu hari saya lengah dan jatuh dalam dosa yang sama lagi. Saat itulah saya teringat betapa liciknya hati manusia. Sedemikian ia dapat menipu bahwa seolah-olah  keburukan sudah tuntas dikalahkan dan hati sudah bersih dari kejahatan. Ternyata hati demikian pintar menutupi sisi buruknya, bersembunyi dan sewaktu-waktu, di saat kita lengah dan menjauh dari penyertaan Tuhan, maka si jahat tiba-tiba menyerang dan memberi kerusakan yang mengerikan.

Kata orang, kalau belum pernah dihajar, lubang hidung memang menghadap ke atas.