Submitted by king heart on

 

Menyimak dan menikmati tulisan “pertarungan” antara Fundamentalis dan Calvinis, melahirkan ide untuk menggambarkan bagaimana seorang Kristen dalam memperdalam pemahaman dan memperkaya wawasan imannya melalui SS ini.
Saya mengilustrasikan pencarian iman itu seperti sebuah tiang pancang yang dihunjamkan ke dalam bumi untuk dengan tujuan sebagai pondasi suatu bangunan yang berdiri di atasnya.
 
Prinsip utama daya dukung pondasi mengikuti rumusan Newton akan adanya aksi dan reaksi. ( Lihat Gambar )
 

 

 

Secara umum daya dukung pondasi tiang pancang tergantung jenis tanah dimana tiang dipancangkan.
  1. Jenis tanah liat, daya dukung pondasi di dasarkan pada besar gesekan / friksi tanah terhadap tiang pancang. Semakin besar gaya dan luasan geseknya, daya dukungnya akan semakin besar. Ilustrasi ini bisa menyerupai gambaran besi menajamkan besi, sekalipun dengan gambaran yang berbeda. Pasar Klewer tampaknya cukup mendukung gambaran ini, mengingat aktifnya pedagangnya dalam menyikapi suatu tulisan.
  2. Tanah pasir / padas / berbatu, daya dukungnya didasarkan pada letak lapisan tanah keras yang biasanya cukup dalam. Sebab itu panjang tiang disesuaikan dengan letak kedalam tanah kerasnya. Problem yang terjadi adalah sering tanah keras mirip seperti lapisan kaca yang tipis, kaku namun rapuh. Dengan beberapa kali gedoran sering lapisan ini mudah sekali pecah. Inipun mengilustrasikan bagaimana seorang dengan tingkat pemahaman iman yang cukup dalam merasa dirinya telah mencapai “tanah keras” yang dirasanya sangat kuat sebagai pondasi imannya, sehingga ia menjadi sombong. Tanah keras ini bisa berupa aneka macam gelar tinggi di bidang teologi dan jam terbang yang tinggi. Biasanya mereka melupakan “gedoran’ sehingga menghancurkan lapisan keras itu.
  3. Tanah jenis ketiga merupakan gabungan dari dua jenis tanah di atas, ini mungkin yang terbaik. Di satu sisi, gaya gesekan menguatkan dan mendewasakan di sisi lain dukungan tanah keras yang kokoh.
 
 
Perlu ditambahkan, sebelum dilakukan pemancangan selalu diadakan uji jenis tanah maupun uji daya dukung tanah itu yang biasanya dilakukan secara acak. Dari hasil tes itu akan tampak jenis tanahnya, besar gaya geseknya, besar daya dukung tanah keras yang semuanya dipakai untuk memperhitungkan kedalaman suatu pondasi untuk beban yang direncanakan. Berdasarkan itu semua sudah cukup untuk memulai suatu pemancangan yang biasanya mempunyai akurasi yang cukup baik.
Namun harus dingat sesudah pemancangan dilakukan masih perlu diadakan tes pembebanan ( loading test ) untuk mengukur apakah kemampuan daya dukung tiang pancang sesuai rencana. Tes pembebanan biasanya dilakukan mencapai 80 % beban sebenarnya ( semakin besar semakin mahal biayanya ). Pada tes inilah sering terlihat apakah tanah keras yang ada sungguh sungguh sebuah tanah keras yang solid bukan sekedar lapisan karena pada tes sebelum pemancangan alat uji tidak mampu membaca secara akurat.
 
Dari ilustrasi di atas, saya (pribadi ) berkesimpulan, tidak peduli dari latar belakang apa, pentang bacot yang bagaimana, kejumawaan yang seperti apa semestinya diuji sedemikian ketat dan keras. Seperti gambaran Petrus, emas yang tak pernah melewati api bukanlah emas murni. Suatu ajaran atau pemahaman mestinya bisa diuji dari awal pemikirannya, digosok ( kalau perlu sampai keluar api he he he ) dan akhirnya dilihat apa yang dihidupi dari pemahaman imannya itu.