Apakah memang seperti ini rasanya "dilangkahi"? Padahal kemarin merasa tidak masalah jika ini yang harus terjadi. Kenapa sekarang rasanya nggak karuan ya? Apa mungkin karena dari awal saya menolak laki-laki pilihan adik saya sendiri? Sebenarnya bukan hanya saya yang menolak, seluruh keluarga sepakat menolak bahkan mendiang bapak juga dengan lantang menentang hubungan mereka. Banyak alasan (yang menurut saya masuk akal), yang mendasari penentangan kami. Pria itu tidak seiman. Itu hal pertama. Alasan selanjutnya adalah kepribadiannya yang hanya mendapat skor 4 jika penilaian didasarkan pada skala 1 - 10. Tidak punya pekerjaan, selama ini hanya menggantungkan hidup pada adik saya. Pendek kata, adik saya mensuplai berbagai kebutuhannya dari pulsa, hp, baju, celana, sepatu, rokok, uang jajan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Dan beberapa bulan belakangan, adik saya juga menjadi penyuplai kebutuhan keluarga si cowok. Hutang adik menumpuk, bahkan untuk mengganti motor yang notabene sarana penunjangnya dalam bekerjapun dia tak mampu. Pendek kata, kisah adik saya hampir sama dengan kisah yang diceritakan Pak Purnomo disini
Tapi apa lacur, rupanya cinta sudah membelitnya hingga mata buta dan telinga tuli seketika. Andai cintanya hanya buta, mungkin dia masih bisa mendengar teriakan orang-orang yang memperingatkannya. Tapi sayang, dia benar-benar buta dan ditulikan oleh cinta.
Selama hampir 2 tahun mereka berhubungan (dulunya backstreet), ternyata si cowok tak juga menunjukkan perubahan sikap yang bisa membuat keluarga simpati. Semakin lama malah semakin menyebalkan, tapi herannya adik malah semakin mencintainya. Padahal berkali-kali pula adik dikhianati. Pernah pula si cowok berurusan dengan bosnya karena memakai pulsa telepon untuk kepentingan pribadi hingga tagihan membengkak 3 kali lipat serta mencuri beberapa barang dagangan saat dia bekerja di sebuah toko. Pemilik toko sampai melibatkan polisi karena cowok itu tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan permasalahan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia malah memilih kabur. Daftar kejelekannya panjang membentang sementara perbendaharaan kebaikannya hanya segelintir. Tapi lagi-lagi, adik saya terlalu mencintainya hingga keburukan sikap dan tabiat cowok itu terasa hal yang lumrah dilakukan.
Suatu kali adik diajak bicara dari hati ke hati oleh keluarga. Namun sayang, moment ini malah berakhir dengan pertengkaran hebat. Hanya selang semalam sejak adik bertengkar hebat dengan keluarga, dia kecelakaan saat berboncengan dengan pacarnya. Saat itu keluarga berharap adik bisa mengambil hikmah. Tapi ternyata harapan itu sirna. Hingga suatu hari, adik menyatakan pada ibu untuk menikah dengan pria itu. Tentangan ibu membawanya pada keputusan salah : dia berupaya bunuh diri. Tapi beruntung tindakannya diketahui oleh keluarga.
Sekarang, saat berbagai upaya telah dilakukan, rupanya adik tetap bersikeras pada keputusannya. Akhirnya kami pasrah. Kami membiarkan (sebenarnya bukan membiarkan, tapi saya tidak menemukan kata-kata yang tepat) adik mengambil keputusan dengan konsekuensi resiko ditanggung pengambil keputusan.
Jarum jam di tangan menunjukkan pukul 20.00 saat layar hp saya memunculkan gambar amplop tanda sms masuk. Seseorang mengirim sms menanyakan keberadaan saya. Sejak sebulan yang lalu saya ngekos, jadi saya jawab kalau saya ada di kos. Kemudian dia membalas dengan kata-kata berkat dan penguatan atas apa yang tengah terjadi. Rupanya hari itu, saat itu, jam itu, detik itu, di rumah tengah kedatangan tamu istimewa. Keluarga pacar adik saya datang melamar. Masih belum percaya dengan apa yang terjadi, saya mencoba menghubungi kerabat yang tinggal satu kampung dengan ibu dan adik saya. Ternyata benar, di rumah sedang ada lamaran. Dia terkejut ketika mengetahui kenyataan bahwa saya tidak diberitahu sebelumnya bahwa hari itu adalah hari lamaran adik. Dia dan beberapa kerabat yang lain sempat berpikir bahwa ketidakhadiran saya adalah disengaja. Saya tertegun. Perut eneg. (Saat saya merasa marah, kecewa maupun trauma yang teramat dalam, reaksi yang muncul dari tubuh saya adalah muntah. Setelah berlari ke warnet untuk mencurahkan isi hati pada seorang sesepuh di pasar ini, akhirnya isi perut juga tercurah, saya muntah...).
Disalip (dilangkahi) bukanlah masalah buat saya. Sejak dulu saya sudah berketetapan bahwa siapapun (khususnya saudara perempuan yang usianya lebih muda) boleh mendahului saya untuk menikah. Saya termasuk yang tidak percaya dengan mitos bahwa perempuan yang dilangkahi akan menjadi sulit mendapatkan jodoh. Saya percaya, untuk segala sesuatu ada waktunya, demikian juga masalah jodoh. Yang membuat saya kecewa adalah sikap keluarga (khususnya ibu dan adik). Semenjak akhir tahun 2008 hingga kini kami memang didera berbagai permasalahan yang tak mungkin saya urai disini. Namun sepertinya semakin lama kami malah berjalan menurut kemauan kami sendiri-sendiri. Semakin berpencar mengejar apa yang kami mau tanpa mempertimbangkan perasaan satu dengan yang lain. Lantas dimana fungsi dan arti keluarga? Saya rindu untuk berada di tengah-tengah keluarga. Kapankah saya akan kembali berada dalam kehangatan keluarga?