Ketika saya berwisata ke kraton Jogyakarta, terdapat silsilah kraton. Dari rangkaian silsilah tersebut ternyata tidak ada satu nama yang mengidentifikasi Pangeran Diponegoro, sang Pahlawan Nasional asal Jogyakarta. Saya mencoba bertanya mengapa hal ini terjadi? Bagi masyarakat kraton Sang Pangeran tersebut bukan seorang pahlawan, tetapi seorang pengkhianat. Saya sempat terhenyak dengan jawaban sang pengantar.
Sebuah pertanyaan tentang arti sebuah kepahlawanan menjadi berkecamuk dalam batin saya. Saya kembali terhenyak ketika ada yang menggugat kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol (lihat: http://mfahmia2705.blogspot.com/2007/09/tuanku-imam-bonjol-sebenarnya-bukan.html ) Ternyata, tidak ada seorang pahlawan yang sejati. Kepahlawanan hanyalah sebuah persepsi sesaat. Bagaimana dengan orang yang diberi gelar Bapak Pembangunan, tetapi kemudian dihujat tanpa batas.
Pahlawan di satu sisi dan di satu pihak akan dianggap sebagai hal biasa bahkan musuh dipihak lain. Ketika Hittler disanjung sebagai pahlawan bagi bangsa Jerman, kemudian menjadi penjahat bagi bangsa lain. Nilai sebuah kepahlawanan hanya dibatasi oleh ruang dan waktu.