Pagi-pagi
sekali sebelum aku terbangun dari tidurku, suara tangis, kemarahan, dan
bantingan-bantingan barang pelampias kemarahan mengagetkanku dan segera aku
bangun dari tempat tidurku dan melihat ke ruang tamu. Sudah kuduga, ayah dan
ibu bertengkar lagi. Bukan hanya hari ini, kemarin, minggu lalu, bahkan sudah
sangat lama keadaan keluargaku bagini. Memang sudah menjadi makananku
sehari-hari, tetapi yang membuatku takut adalah emarahan yang semakin hari
semakin parah. Yang tadinya hanya saling menyalahkan, mulai timbul
ketidakccokan, rasa curiga, sampai pukul-memukul. Sedikit demi sedikit, rasa
dendam memenuhi jiwaku pada kedua orang tuaku. Aku tahu, aku tidak sampai hati
untuk menyakiti hati mereka, jadi untuk pelampiasannya, aku diamkan mereka
selama ini dan tidak pernah mendoakan mereka. Apapun yang diomongkan atau
perintahkan kepadaku sama sekali kulalaikan dan tidak pernah kutanggapi. Entah
kenapa, semakin mereka marah kepadaku, aku semakin senang.
Dampak-dampak pertengkaran
rutin orang tuaku sudah kurasakan sejak dulu. Aku mulai menutup-nutupi
kesedihanku dengan keceriaan palsu, nilai-nilaiku menurun drastis, aku
ditinggalkan pacarku karena keegoisanku, dan segala rasa amarah kulampiaskan
dengan menjelek-jelekkan teman. Sehingga aku tidak pernah bisa diterima oleh
teman-temanku sendiri. Dan sekarang aku seperti orang kuper di sekolah. Aku
menaruh gengsi pada diriku sendiri untuk menangis. Tetapi semakin lama, aku
semakin depresi, semakin jelek sifatku di lingkungan masyarakat. Aku tidak
pernah bisa menerima kritikan orang lain mengenai diriku sendiri.
Sebenarnya, aku merasa, aku
tidak akan tahan dengan keadaan seperti ini. Akhirnya, hari ini aku mampu
mengeluarkan air mata yang selama ini kutahan-tahan. Menangis dan menangis tanpa
berbuat suatu apapun, itulah yang kuperbuat akhir-akhir ini. Yaah, ini kenyataannya.. aku tak punya siapa-siapa..ditengah-tengah kesibukan orang tuaku saat mereka bertengkar, aku harus berkelakar dengan diriku sendiri. Hati nuraniku berbicara, jangan sampai aku membenci mereka..tapi di sisi lain, aku sama seklai tidak menganggap mereka orang tuaku..tidak ada orang tua yang setega itu dengan anaknya. mereka membiarkanku jadi anak yang anak yang kuper, bodoh, dilecehkan, desperate, stress, dan beban yang sangat sangat sanga berat inii harus aku tanggung sendiri..SENDIRIAN!!!!kadang aku berpikir...'apa mereka tidak pernah menjadi seorang anak ??Apa yang diinginkan dan dibutuhkan seorang anak, apa mereka tidak tahu?? ato mereka tahu, tapi karena keegoisan mereka, mereka menelantarkanku seperti ini?? bila benar begitu, untuk apa mereka menikah..!!untuk apa mereka melahirkan aku ke dunia yang BUSUK ini?!!!apa mereka sudah berencana untuk menyiksaku seperti ini sejak aku lahir??! memupuskan segala cita2ku, sifat baikku, hati nuraniku ???!!??!sudah gila'kah mereka??mereka membiarkan anaknya sendiri menjadi SAMPAH!!!'
Bulan demi bulan, tahun demi tahun berganti..aku masih sama..bedanya hanya sedikit..kini, aku bukanlah anak yang dapat menahan bebanku sendirian lagi.. Tapi,bagaimana caranya??. aku populer disekolah, karena kegoisanku, karena kuperku, karena kebodohanku. dan aku sangat sangat sangat menyadari, betapa sulitnya seorang yang kuper harus membina hubungan dengan orang lain, walaupun hanya sekedar percakapan saja... Tapi, keadaan mendesakku, aku tidak tahan lagi..harus berapa tetes air mata yang harus kukeluarkan..berapa drama lg yang harus kuperankan agar paling tidak masih ada sebagian kecil orang yang masih mengganggapku ada.. Sampai akhirnya
aku memberanikan diri untuk curhat dengan teman yang kutahu baik dan mampu
memberi jalan keluar. Walapun aku tidak mendapat jalan keluarpun, paling tidak aku bisa membagi bebanku dengan orang lain..
Tak kusangka!!! tindakanku kali ini benar! Dia memberikan
jalan keluar. Dia mengajakku untuk ikut kegiatan-kegiatan gerejawi. Karena aku
mempunyai kesibukan sendiri dalam kegiatan gereja, aku merasa ada suatu
perubahan dalam diriku untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Sepulang dari
sekolah aku merenung sejenak, dan terliantas dalam benakku kedamaian yang kurasakan
saat kebktian di Gereja kemarin. Damai dan sangat damai, keadaan damai yang
selama ini menjadi incaranku. Tanpa pikir panjang aku berdoa pada Tuhan, “Ya
Tuhan, Engkau mengetahui apa yang terjadi padaku selama ini. Mengapa Engkau
biarkan itu terjadi, Tuhan? Apa salahku? Dimana Engkau Tuhan?”. Saat berdoa,
aku merasa, doa yang kuucapkan adalah doa yang berasal dari lubuk hatiku yang
paling dalam dan rasa percaya Tuhan akan menyelamatkan. Selesai berdoa, cahaya
putih yang sangat menyilaukan bersinar ke arahku dan terdengar suara, “Aku
mengasihimu anak-Ku dan Aku selal berada di dekatmu. Datanglah kepadaKu”. Kini
aku sadar aku salah, aku yang meninggalkan Tuhan, aku tidak pernah iingat
padaNya selama ini dalam hidupku. Lalu akupun langsung berdoa meminta maaf
padaNya.
Sejak
saat itu, aku belajar untuk mengasihi orang tuaku, teman-temanku dan semua
orang yang membenciku, dan belajar untuk tidak menyimpan dendam. Hari berganti
hari, kini kedua orang tuaku tidak lagi bertengkar, bahkan mereka saling
memperhatikan satu sama lain. Teman-teman mulai menerimaku dan mengajakku
bermain bersama. Sungguh satu hal yang dapat kurasakan dampaknya, yaitu Kasih Allah kepadaku.