Submitted by ferrywar on

 

Misteri Mimpi

 

Tiap hari kita tidur. Kita tidak pernah tahu apa itu tidur. Tapi ada mimpi didalam tidur.  Dalam tidur kita masuk kedalam sebuah dimensi yang tak kita ketahui. Sering terdengar kabar mimpi bisa membawa kesadaran kita masuk kesebuah dimensi waktu yang berbeda dengan dimensi saat terjaga. Tak kurang dari kitab suci banyak menceritakan hal itu. Banyak peramal mendasarkan ramalannya pada mimpi. Banyak paranormal meyakini mimpinya. Lalu APAKAH sebenarnya mimpi itu? 

Bukankah aneh dan janggal, tiap hari kita harus menutup mata dan tidur. Lalu mengalami mimpi.  Dalam mimpi kita mengalami sesuatu yang bisa aneh untuk ukuran orang sadar.  Tapi ketika bangun, kita merasa biasa dan tidak pernah memikirkan lagi apa yang kita alami. Banyak yang menyepelekan mimpi dengan mengatakan “mimpi cuma kembangnya tidur”. Padahal kita tiap hari mengalaminya.

Kalau kita mencoba melakukan refleksi lagi tentang waktu. Waktulah yang menyebabkan adanya perbedaan antara “sekarang” dan “tadi”, juga antara “sekarang” dan “nanti”. Bila waktu dikaitkan dengan mimpi, seringkali apa yang kita alami “tadi”, “kemarin”, “dulu” terbayang dalam mimpi kita “kini”. Bisa berupa campuran antara waktu satu dengan waktu yang lain di masa lalu. Lalu kita berusaha menjelaskannya.

Kalau sedang mengalami dililit hutang dan ditagih-tagih oleh debt-collector, kita bisa mimpi dikejar anjing.  Mimpi semacam itu mudah menjelaskannya. Hubungan antara masa lalu dan masa kini jelas korelasinya. Dan sebenarnya itu BUKAN cuma sekedar INGATAN. Itu semacam melongok ke masa lalu. Hanya saja, ada semacam tabir semi-transparan yang membuat debt-collector yang sering datang ke rumah tidak tampil persis seperti sosok nyatanya. Dengan segala ingatan dan pengalaman yang ada, terjadi proses menciptakan analogi, pemiripan, simbolisasi, rekaan, penyederhanaan dsb sampai terjadilah sosok anjing yang muncul menggantikan sosok debt-collector itu.

Kita seperti merasa bisa menjelaskan, kalau mimpi kita tentang masa lalu. Itu karena waktu maju ke depan dari yang lalu menjadi yang kini. Kita mengira itu hanya ingatan yang bekerja menciptakan mimpi, padahal ada kemungkinan lain yaitu PERPINDAHAN DIMENSI.

Mimpi adalah perpindahan dimensi dari masa kini ke masa yang lain. Bisa saja ke masa lalu. Dan tentu juga bisa ke masa depan.

Ketika kita berpindah dimensi ke masa depan, apa yang akan terjadi tergambar juga, dengan proses  pengaburan yang sama dengan “melihat” masa lalu dalam mimpi tentang hal yang sudah terjadi. Misalnya kalau di masa depan satu dua hari kemudian kita mengalami kalah main saham, kita bisa saja mimpi terperosok sumur ketika jalan. Main saham adalah permainan dengan harapan baik yaitu mendapatkan uang dengan cara relative mudah. Ketika tiba tiba kita salah langkah dan kalah banyak, itu seperti sedang enak-enaknya jalan terporosok kedalam lubang. Pengaburan membuat yang diimpikan tidak tepat tentang kalah main saham. ada distorsi menjadi lubang.

Di alkitab juga ada cerita tentang mimpi yang menjelaskan masa depan, misalnya tentang 7 lembu kurus 7 lembu gemuk yang mengartikan 7 tahun kekurangan dan 7 tahun kemakmuran. 

Mimpi menjelaskan bahwa masa depan sedang berlangsung pada dimensi yang lain, begitu pula masa lalu. Jumlah masa depan dan masa lalu bukan cuma satu atau dua, tapi ada tak berhingga titik yang mana kita bisa mimpi tentang esok, seminggu lagi, sebulan lagi bahkan bisa setahun lagi dst.

Kita hanya tahu dimensi garis, bidang dan ruang sebagai 1,2 dan 3 dimensi. Lalu ada waktu sebagai dimensi keempat. Perkalian skalar antar 1 dimensi menciptakan 2 dimensi. Perkalian antar 2 dan 1 dimensi menciptakan 3 dimensi. Begitu pula sampai dimensi waktu yang selalu melibatkan dimensi ruang yang 3 dimensi itu. Maka ruang dan waktu dikatakan sebagai tidak terpisahkan.

Padahal ada masih dimensi ke lima, enam dst yang jumlahnya sampai tak berhingga.

Pemikiran akan sesuatu di masa depan yang sedang berlangsung di masa kini menjelaskan tentang persoalan predestinasi, yang merupakan lawan dari free-will. Pemikiran tentang kausalitas menghasilkan free-will. Maka ada atheis yang dengan sombong mengatakan “saya bisa menentukan lampu di ruangan ini akan menyala atau mati dengan mengontrol saklarnya. Bukan tuhan yang berkuasa melainkan saya”. Sementara itu di dimensi lain dalam geseran 1-2 detik ke depan sedang terjadi dia akan mematikan atau menyalakan lampu itu. Predestinasi sudah berlangsung. Determinisme terjadi.

Pada luasan pemikiran sampai disini, dengan pemahaman tentang misteri mimpi, maka predestinasi dan free-will menemukan penjelasannya dan tidak bertentangan.

Dimana letak “tuhan” yang meniupkan nafas menjadikan daging menjadi hidup?. Siapakah atau apakah entitas tuhan itu dalam konstelasi ruang dan waktu itu? Tuhan sudah tidak punya tempat lagi kalau kita mesti mencarikan tempat duduknya. Maka dikatakan tuhan telah mati dalam ruang dan waktu. Tuhan harus keluar dari ruang dan waktu dan menjadi tidak ada. Padahal tuhan harus ada sebagai tempat berpulangnya arwah-arwah yang terlepas dari tubuhnya. 

Kesadaran baru lantas tumbuh. Tuhan ADALAH ruang dan waktu itu sendiri. Bila dikatakan ia menciptakan, maka paradigm itu mesti dikoreksi bahwa tidak ada penciptaan karena ia adalah yang ADA itu sendiri, yaitu ruang dan waktu, berikut seluruh dimensi yang jumlahnya tak berhingga itu.

Aku dalam Bapa dan Bapa dalam Aku, kalimat itu mendapatkan pemahaman baru bila kita berpikir sampai disitu. 

Agak mengherankan, mimpi yang dialami setiap hari, yang bisa menjadi jalan membuka rahasia kehidupan dan kematian dan pemahaman akan realitas tuhan, nampaknya sangat terabaikan dan tak terjamah. Ilmu psikologi dan kepercayaan perlu berjalan beriringan untuk menyingkap rahasia itu. Mungkin akan mengurangi pertengkaran dan perdebatan antara atheisme dan theisme, antar agama-agama, predestinasi vs freewill, tuhan maha adil vs tuhan maha pengampun dll.

Bagaimana lantas hubungannya dengan kristianitas dengan Jesus Kristus sebagai tokoh utamanya? Apakah Jesus Kristus anak tukang kayu itu menjadi kecil ditengah besarnya ruang dan waktu dan ketakberhingaan dimensi-dimensi itu? Apa hubungannya dengan humanism yang diperjuangkannya?

(bersambung ke bahasan tentang kemanusiaan)