Submitted by Tante Paku on

 

 MENELUSURI jejak-jejak Iblis tidak lepas dari Kitab Kejadian, karena Genesis (Kejadian) berasal dari kata yang berarti DILAHIRKAN. Dari kata yang sama itu mendapatkan  kata-kata GENETIC (berkaitan dengan asal-usul), CONGENITAL (bawaan sejak lahir), dan GENEALOGY (silsilah). Namun mempelajari Kitab Kejadian tidaklah mudah, para teolog pun banyak yang berbeda pendapat, apalagi orang awam, termasuk saya. Namun dengan tanpa prasangka saya berusaha membaca dengan hati-hati, baik lewat blog-blog di SS ini maupun lewat SABDA Alkitab yang sangat mempermudah dalam pencarian kata atau ayat. Namun sangat disayangkan dalam SABDA Alkitab belum ada  BAHASA ARAM, yang rasanya cukup penting untuk kita ketahui, karena bahasa tersebut adalah bahasa sehari-hari yang sering digunakan Yesus maupun tokoh yang ada dalam Alkitab lainnya.

 





     Saya sering bertanya siapakah pengarang Alkitab? Tentu jawaban yang saya peroleh hampir senada, dengan menyebutkan nama-nama pengarang kitab-kitab tersebut. Jawaban tersebut tidak salah tapi kurang memuaskan. Saya menganggap PENGARANG Alkitab adalah Allah sendiri, akan tetapi di lain sisi, Alkitab adalah juga karya manusia.



     Alkitab jelas bukan buku yang didiktekan langsung oleh Allah, sehingga segala sesuatunya harus sempurna. Kalau Alkitab didiktekan langsung oleh Allah, pasti yang ada di dalamnya sangat sempurna, segala-galanya sempurna, sempurna segala isi yang ada di dalamnya. Karena sudah sempurna tentu kita tak perlu memperdebatkannya dengan begitu sengit. Kecuali orang BEBAL bin Iblis saja yang meragukan kesempurnaan Allah.



     Alkitab adalah buku iman. Alkitab adalah rekaman iman manusia kepada Allah yang telah mewahyukan Diri kepada manusia secara perlahan-lahan selama ribuan tahun. Artinya Allah mewahyukan Diri secara bertahap sesuai dengan kemampuan manusia menangkap wahyu-Nya. Manusia yang diilhami hanya merumuskan Sabda Allah dengan dibimbing oleh Roh Kudus. Isi pokok Alkitab memang berasal dari Allah, tetapi cara perumusannya terserah pada kemampuan PENULIS MANUSIAWI. Maka bisa terjadi, satu kitab mengalami proses penulisan yang cukup lama dan merupakan buah karya beberapa orang, karya seseorang sering diperluas oleh penulis berikutnya.



     Sekali lagi, Alkitab adalah BUKU IMAN, BUKAN buku sejarah. Oleh sebab itu ada banyak ayat dari Alkitab yang tidak historis sepenuhnya. Artinya, Alkitab tidak bermaksud menyampaikan sejarah dalam arti ketat. Dari hal ini tidak mengherankan kalau ada kisah-kisah atau hal-hal yang DIULANG dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

 

     Saya pernah menulis blog tentang Adam bukan manusia pertama yang diciptakan Allah karena terjebak oleh penafsiran pada Kejadian 1:26 dan Kejadian 2:7, dua kisah tentang penciptaan manusia. Juga masih ada beberapa ayat lain yang dobel, pengulangan, dan pertentangan-pertentangan. Apakah ini terjadi karena kisah-kisah itu mencerminkan perbedaan paham yang pernah beredar di kalangan umat Allah, atau karena

masing-masing kisah mempunyai tujuannya sendiri, atau karena berasal dari zaman yang sangat berbeda atau karena gagasan yang baru mau mengoreksi gagasan yang lama?



     Lepas dari pertentangan atau perbedaan yang ada, kisah tentang penciptaan ini dengan caranya sendiri dan dengan tujuan yang khusus ternyata mau mewartakan hal yang sama yakni bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Allah dan bahwa manusia adalah MAKHLUK PALING MULIA DI ANTARA SEGALA CIPTAAN. Kitab Kejadian bukan kitab sejarah, namun ingin mewartakan bahwa umat manusia itu BERASAL DARI ALLAH YANG SAMA dan NENEK MOYANG YANG SAMA. Artinya, sebenarnya semua bangsa itu bermartabat dan perlu bersatu.Kitab Kejadian 1 dan 2 barangkali tidak dimaksudkan bahwa pada awal sejarah dunia benar-benar pernah ada HANYA DUA MANUSIA saja di seluruh muka bumi ini, yakni Adam dan Hawa. Bagaimana persisnya asal-usul dunia, mungkin bukanlah persoalan

yang mau dijawab oleh Kejadian 1 dan 2 itu.



     Sorga bukan taman, taman di Eden bukan surga. Kitab Kejadian hal penciptaan tidak menceritakan tentang sorga maupun letaknya, juga tidak menceritakan tentang penciptaan Iblis atau Malaikat, melainkan menjadikan dan membentuk manusia serta segala binatang. Iblis maupun malaikat tidak tertulis berada di taman Eden.



Berfirmanlah Allah : "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. (Kej. 1:26).



Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kej. 2:7).



Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.   Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. (Kejadian 2:19)



Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. (Kej. 2:22).




     Ketika Firman Tuhan mengatakan manusia diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya, bisa berarti, manusia itu mirip Penciptanya. Maksudnya, barangsiapa melihat manusia, bisa sedikit membayangkan bagaimana Allah Penciptanya, tetapi dalam hal apa manusia mirip dengan penciptanya?



     Manusia itu mirip Penciptanya sejauh dia memiliki akal budi dan kehendak bebas, demikianlah salah satu tafsiran yang paling lazim diungkapkan. Namun tidak bisa disimpulkan bahwa manusia itu setara dengan Allah. Manusia tetap makhluk ciptaan yang terbatas.



Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. (Kej. 2:9)



tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej. 2:17).




     Dua ayat di atas adalah bukti bahwa manusia tetap makhluk ciptaan yang terbatas. Allah ingin menunjukkan keterbatasan manusia dengan memberi LARANGAN KERAS untuk makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.



     Ada beberapa tafsir yang mengatakan bahwa di taman Eden pohon yang menjadi tanda keterbatasan manusia tidak hanya 2 pohon, POHON KEHIDUPAN dan POHON PENGETAHUAN tentang yang baik dan yang jahat, tapi ada 3 pohon, yaitu :



1. Pohon Kehidupan.

2. Pohon Pengetahuan tentang yang baik.

3. Pohon pengetahuan tentang yang jahat.



     Apakah kata  DAN di antara pohon pengetahuan tentang yang baik DAN yang jahat dianggap sebagai pemisah antara dua pohon yang berbeda, ataukah sebagai kata sambung? Anggap saja dua pendapat itu kita anggap benar, toh tidak akan menghilangkan makna bahwa Allah ingin menunjukkan keterbatasan manusia dengan memberi larangan keras untuk makan buah itu!



     Ketika Adam dibentuk apakah tidak punya pengetahuan?



ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. (Kejadian 2:7)



     Allah telah memberi NAFAS HIDUP pada Adam, dan Adam adalah manusia satu-satunya manusia di dunia yang menerima NAFAS HIDUP lewat hidungnya. Ini perlu menjadi catatan tersendiri, hanya Adam yang MENERIMA LANGSUNG NAFAS HIDUP DARI TUHAN Allah. Masakan nafas hidup dari TUHAN Allah tidak ada pengetahuan? Mungkinkah TUHAN Allah membentuk manusia tanpa pengetahuan untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden?



     Adam mempunyai pengetahuan!



     Untuk menguatkan hal tersebut kita harus menengok kembali Kejadian 1:26. Adam adalah salah satu gambar dan rupa Allah, sejauh dia menjadi "pencipta" bersama Allah. Manusia (Adam) diberi kemampuan untuk mengolah dan mengatur dunia (akhirnya tidak hanya terbatas pada taman Eden saja) bersama dengan Allah.



     Dengan demikian, Adam sangat mengerti apa yang menjadi perintah dan larangan TUHAN Allah terhadap dirinya. Yang perlu dipahami, Adam selama berada di taman Eden belum disebut ADAM melainkan MANUSIA, walaupun arti nama Adam adalah manusia laki-laki pertama dari debu tanah. Namun baru pada kitab Kejadian 4:25 nama ADAM dituliskan sebagai nama pribadi manusia yang pertama setelah keluar dari taman Eden.



    Justru nama HAWA yang semula disebut PEREMPUAN yang diterangkan sebagai LELAKI-PUTERI yang mengandung arti bahwa perempuan hakekatnya membentuk kesatuan dengan laki-laki sebagai pembantunya yang sederajat, sudah ditulis di Kejadian 3:20, sebagai nama wanita yang pertama yang mengandung makna IBU SEGALA YANG HIDUP atau KEHIDUPAN, PEMBERI KEHIDUPAN. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan untuk mendapatkan jawaban dari Kejadian 3:15.



     Dengan demikian nama pribadi MANUSIA pertama laki-laki yang berada di taman Eden itu BELUM dipanggil ADAM, lalu siapa nama panggilannya?



     Seperti banyak yang sudah menafsirkan bahwa Iblis sudah berada di taman Eden, lalu dimana Iblis itu diciptakan? Menjadi apa Iblis di taman Eden? Apakah Iblis Malaikat? Kapan Iblis berjalan-jalan ke dunia?



(Bersambung)





Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat.