PEMUDA gagah dan tampan itu memandang perahu yang baru datang dari tengah laut, sementara memandang dia menambatkan perahunya. Ketika perahu itu sudah dekat, tampaklah seorang perempuan yang ada di dalamnya, sebelum perahunya mendekati bibir pantai, dengan cepat ia meloncat ke daratan dengan gerakan yang sangat lincah. Kedua pasang mata saling bertemu, tapi sang perempuan cuek saja sambil mengibas-ibaskan tangannya mengusap rambutnya yang basah, kemudian melangkah pergi begitu saja.
"Nona, nona, tunggu...!" sang pemuda itu memanggil sambil mengejar.
"Mau apa kau memanggil dan mengejarku?" tanya perempuan itu seraya menghentikan langkahnya. Pemuda itu tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi yang putih kuat dan senyum yang bersahaja menyorotkan kejujuran. Seketika pemuda itu mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatannya.
"Melihat gerakan nona yang begitu lincah ketika keluar dari perahu menandakan ilmu ringan tubuh yang tangguh, oleh sebab itu aku ingin berkenalan dengan nona," Perempuan itu mengerutkan alisnya, memandang pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apakah nona juga akan meninggalkan perahu itu di sini?"
"Biarlah kalau mau hilang, aku tidak membutuhkan perahu itu. Mau berkenalan? Mereka yang berkenalan denganku biasanya merasakan pukulan, tendangan dan tebasan pedangku." Pemuda itu semakin terbelalak dengan jawaban perempuan itu, sungguh jawaban yang terbuka apa adanya, jujur tanpa kepura-puraan yang menambah kekagumannya.
"Hahaha...nona hebat sekali, saya suka gaya nona. Perkenalkan saya Cap Jai, murid pertama dari Perguruan Pengemis Awan Atas dari pulau Samudera Hitam." Melihat sikap terbuka seperti itu, membuat perempuan itu tersenyum geli, jelas pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar. Sikapnya memang terbuka, kelihatannya kasar tapi wataknya kelihatannya baik, hm apakah dia pantas menjadi sahabatnnya, pikirnya. Untuk itu harus dibuktikan dahulu.
"Dengan maksud apakah engkau seorang pria ingin berkenalan dengan wanita sepertiku?"
"Memang suhu pernah berpesan, jangan mendekati wanita cantik yang kadang bisa berbahaya melebihi ular berbisa. Tetapi aku hanya ingin bersahabat, karena baru pertama kali ini aku merantau. Untuk itu aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai seperti nona ini agar memberi petunjuk kepadaku."
Perempuan itu masih ragu, terus memandangnya, pemuda ini pintar atau bodoh atau ada bayangan ketololan dalam sikap terbukanya itu.
"Kau bisa apa sih? Apakah bisa menyenangkan hatiku?" tanya perempuan itu sinis.
"Aku yang bodoh ini akan menunjukkan kesetiaan sebagai seorang sahabat, kalau ada yang mengganggu nona, biar kuhajar sampai berdarah-darah. Biar ada sepuluh orang atau lebih, aku sanggup mengalahkannya.'
"Dengan tangan kosong seperti itu?"
"Oh tidak nona, pedangku kutinggal di dalam perahu. Tentu tidak pantas kalau berkenalan dengan perempuan aku menenteng sebuah senjata." kata pemuda itu lalu menuju perahunya untuk mengambil sebilah pedang.
Diam-diam timbul rasa suka perempuan terhadap pemuda ini, tapi mana mungkin bisa seorang pria bersahabat dengan wanita? Nanti tidak pantas dilihat orang dong.
"Walau kita berbeda, kalau ada yang mengatakan macam-macam, akan kusobek-sobek mulutnya. Aku bukan seorang yang berpikiran kotor dan sembarangan dalam memilih sahabat. Kalau boleh perkenalkan nama nona?"
"Kalau hanya omong tanpa ada buktinya itu namanya sombong. Apakah benar engkau dari perguruan Pengemis Awan Atas yang kesohor itu, aku ingin membuktikannya. Aku juga tidak sembarangan memperkenalkan nama kalau tidak tahu benar siapa yang ada dihadapanku." berkata begitu perempuan itu mencabut pedangnya perlahan-lahan, tampak sinar putih memantul dari pedang itu ketika tertimpa sinar mentari.
"Tidak usah banyak ragu, kalau tidak berani, cepatlah angkat kaki dari sini." Seketika pemuda itu mencabut pedang dari sarungnya serta melemparkannya ke tanah sarung pedang tersebut.
"Mari nona, aku sudah siap."
Meloncatlah perempuan itu menyerang dengan kelebatan pedang yang begitu cepat dan dahsyat, yang tampak hanya segulung sinar yang berkelabat, ini menunjukkan tenaga dalam yang luar biasa tingginya. Sehingga tubuh perempuan itu seperti menghilang di balik kelebatan sinar pedang tersebut.
"Haiya!" pemuda itu langsung menyambutnya dengan gerakan yang tak kalah cepatnya. Ia sangat senang melihat ketangguhan perempuan pendekar itu, tanpa ragu-ragu ia pun mengeluarkan semua ilmunya. Di dunia kang-ouw Perguruan Pengemis Awan Atas cukup disegani, ilmu tongkat malaikatnya banyak membuat merinding lawan-lawannya. Namun pemuda itu tidak menggunakan tongkat, melainkan pedang namun dari gerakannya terlihat mengadaptasi dari jurus Tongkat Malaikat yang hebat itu.
"Criing..!" kedua pedang bertemu, alangkah kagetnya pemuda itu, karena pedangnya terlepas setelah bertemu dengan pedang perempuan itu. Perempuan itu tersenyum, ia melihat sebetulnya ilmu pemuda itu cukup lihai, tetapi karena tidak sungguh-sungguh melayaninnya, hanya dalam waktu 20 jurus saja, pedangnya bisa terlepas.
Sebetulnya dalam hal kecepatan dan kekuatan, pemuda itu lebih tinggi, tapi mungkin pemuda itu hanya mendasarkan pada permainan dan tingkat menguji dan berlatih, kalau sungguh melawannya, belum tentu perempuan itu bisa mengalahkannya.
"Cukup nona, aku mengaku kalah," Cap Jai mundur sambil menjulurkan kedua tangannya sebagai tanda hormat.
"Ah, engkau terlalu merendah. Baiklah perkenalkan namaku, Bak Pia Pa- Thok dari perguruan Gempa Bumi.
Tentu saja pemuda itu terbelalak. Perguruan Gempa Bumi tentu akhir-akhir ini sering mengguncangkan bumi karena kehebatan ilmunya. Sungguh hatinya bangga sekali bisa berkenalan dengan salah satu muridnya.
"Kemana tujuan nona kali ini?"
"Aku akan mengunjungi Perguruan Face Book yang berada di suatu tempat rahasia."
"Ah," pemuda itu melongo, perguruan yang selama ini hanya didengarnya saja ternyata benar-benar ada. "Dimanakah itu nona? Bolehkan aku ikut?"
"Oh boleh saja, tapi kakak harus mempunyai jurus kunci yang bernama jurus Sepuluh Jari Pass Word."
"Oh kalau begitu, sudikah nona mengajariku?"
"Baiklah, karena engkau sudah kuanggap sahabat, aku bersedia mengajarimu."
Akhirnya nona Bak Pia Pa-Thok mengajari Cap Jai ilmu Sepuluh Jari Pass Word yang cukup legendaris di dunia persilatan ini. Tak berapa lama, Cap Jai sudah bisa menghafal langkah-langkah jurus tersebut dengan baik. Karena untuk masuk ke Perguruan Face Book tidak sembarang orang bisa, walau ilmunya tinggi sekalipun, bila tanpa Jurus Sepuluh Jari Pass Word, pasti akan tersesat.
Akhirnya kedua pendekar itu bisa memasukan dunia bawah tanah Perguruan Face Book yang ternyata dihuni oleh para pendekar yang cukup punya nama di dunia atas tanah.
"Mereka ini kadang muncul ke permukaan tetapi kadang hanya diam saja mengamati," ujar nona Bak menjelaskan. Aku melihat beberapa nama pendekar yang sepertinya tidak asing di kancah dunia atas tanah, seperti Ki Em, pendekar gendut dengan senjata Pedang Geledeknya Sam U, yang wajahnya mirip dengan pendekar atas tanah yang juga gemuk Sam Kin namanya dengan jurusnya yang terkenal yaitu Pukulan Geledek.
Ada juga Ki Sand, Lam Hai, Nyi Jul Mintaraga, Ki Pur, Ki Ari, Ki Bowo, Nyai Peni, Ki Laksono, Nyai Pratiwi, Nyai Evie, Nyai Fetty, Ana Bela pendekar wanita dari Pasundan, Mister Bule cowboy yang menembak dengan kecepatan melebihi bayangannya sendiri, Ki Albert dari tlatah Kali Garang, Nyai Wisnu Broto, Nyai Nita dan masih banyak lagi yang tidak kuingat nama-namanya, saking banyaknya yang belum muncul ke permukaan.
Mereka kadang memang tampil di permukaan tanah bila sedang terjadi keributan. Tidak semua muncul, tetapi sekali muncul jurusnya akan membuat sang pengacau kewalahan. Mereka beranggapan bila para pendekar yang di atas tanah masih bisa mengatasi seorang pengacau dengan jurus sesatnya, mereka hanya diam sambil mengamati dari dalam. Tapi kadang ada yang usil melemparkan senjata rahasianya yang bisa menyengat dan menyakitkan lawan.
"Tapi itu Ki Em sering membuat ulah kalau muncul di atas," kata nona Bak menjelaskan.
"Maksudnya?"
"Ia, kalo Ki Em muncul sering mengenakan topeng dan membuat ulah dengan jurus barunya yang kadang mengagetkan para pendekar atas tanah itu. Baru-baru ini dia mengeluarkan jurus baru Pedang Api Penjaga Eden, sempat membuat para pendekar kalang kabut dalam melawannya."
"Terus?"
"Ya terus menghilang lagi ke sini hihihi...."
Rupanya di sini masih banyak tempat persembunyian para pendekar yang enggan tampil di dunia atas tanah, terutama para suhu-suhu yang ilmunya cukup dahsyat, mereka lebih suka mengamati saja, karena sudah yakin para pendekar yang di atas bisa menangani setiap pengacau yang ingin memamerkan jurus sesatnya. Belum saatnya muncul, kata beberapa pendekar muda yang menaruh hormat kepada para suhu itu. Mereka hanya menikmati hidup sehari-hari di perguruan Face Book sambil saling mengasah pengetahuan tentang hidup untuk menjalin hubungan yang lebih hidup. Meskipun manusia itu lemah, jika bergabung akan merupakan kekuatan.
Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat