Pada suatu hari adalah seorang rabii yang dihormati sebagai seorang yang dekat dengan Tuhan. Setiap hari sekelompok orang berdiri di depan pintu rumahnya untuk mencari nasihat mengharapkan penyembuhan atau berkat dari orang suci itu. Dan setiap kali rabbi bebrbicara orang orang itu akan mematuhi ucapannya dan menelan semua kata-katanya.
Namun diantara pendengarnya itu ada orang yang tidak baik dan selalu mencari kesempatan untun menentang sang Guru. Ia Mencara kelemahan-kelemahan sang rabbi dan menertawakan kekurangan-kekurangan itu. Murid-murid rabbi tidak senang akan dia dan mulai menganggapnya sebagai jelmaan setan.
Pada suatu hari setan itu jatuh sakit dan hampir mati. Semua merasa lega Secara lahiriah mereka kelihatan berdukacita, akan tetapi dalam hati mereka senang karena kata-kata Guru yang begitu inspiratif tidak akan di ganggu lagi dan tingkah lakunya mengandung kecaman tidak akan dikritik lagi oleh orang yang tidak sopan itu.
Orang-orang terkejut melihat sang Guru tenggelam dalam dukacita sejati yang mendalam pada saat penguburan. Kemuadia ketika ditanya oleh murid apakah ia berdukacita atas nasib kekal orang yang mati itu, ia berkata , "Tidak , tidak. Mengapa saya harus berdukacita untuk teman kita yang sekarang sudah ada di surga? Saya berdukacita untuk diri saya sendiri. Orang itu adalah satu-satunya yang menantang saya. Saya takut sesudah kepegiannya saya tidak berkembang lagi." Dan ketika Guru itu mengucapkan kata-kata ini. Ia menangis tersedu-sedu.
Doa sang katak.
Ilustrasi tersebut aku baca, setelah aku menghabiskan waktu bercanda dan bertukar pikiran dengan seseorang di Facebook ini, seorang wanita dengan suami dan dua orang anak, ketika membaca ilustrasi diatas teringat sharing bersama dia.
you're my friend already.... itulah sebuah kalimat yang membuatku terharu, masih ada seseorang yang mau mengatakan teman tanpa harus melihat dan mengenal diriku. Sungguh aku salut. Ah andaikan semua orang bisa melihat diriku seperti dia, tanpa prasangka dan pikiran buruk. Nikmatin aja setiap percakapan baik itu serius ataupun sekedar intermezo. Yakobus menulis, tentang bagaimana kita harus bersikap dalam sebuah pergaulan. Yakobus mengajarkan kepada kita pada saat mengamalkan iman kita janganlah sampai kita memandang muka.
Yakobus2:4
bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
Sebagai manusia sosial, dengan berbagai macam interaksi didalamnya, terkadang secara sadar dan tidak sadar kita sering menghakimi seseorang, dengan hanya sekedar melihat secara fisik atau sara ( SEKITAR AWAK dan RAYI bahasa populernya sekitar muka dan tubuh) atau menghakimi orang dengan menyerang pribadi orang tersebut. Hal ini biasanya terjadi ketika ada dalam sebuah forum debat ataupun diskusi, sering kali kita secara tanpa sadar sudah menyerang pribadi lawan bicara kita. Teman baruku ini mengatakan sebuah kalimat yang amat kusukai yaitu, besi menajamkan besi, manusia menajamkan manusia. Semoga dengan sharing yang telah lalu dan yang akan datang akan membuat kita saling memberkati, saling mendukung, saling menegur, saling memberi masukan.
Teruntuk seorang teman, yang dengan tulus mau menjadi teman di dunia maya ini kutuliskan ini sebagai sebuah hadiah pertemanan kita. God Bless u.
from the bottom of my butt (with all due respect...it's just because my butt is a lot bigger than my heart) I like to share with you.
Karena kita sungguh berharga bagi-Nya dan Dia mengasihi kita.