Waktu kecil, aku anak yang lemah, sakit-sakitan, suka kena asma dan yang jelas sampai hampir umur 2 tahun aku ga bisa jalan. Tetangga kanan-kiri udah mulai angkat suara, ibu-bapakku mencoba meredam suara-suara mereka dengan mengatakan “memang sering sakit kok, jadinya lemah”. Suatu hari, tepatnya ketika aku didudukkan diatas kereta rodaku (didudukkan karena ga aku pake jalan kayak anak-anak lainnya) di deket dapur pas ibuku masak, entah gimana kereta rodaku terguling. Kakakku perempuan yang menemani main disebelahku mencoba membantu membalikkan aku, tapi dia ga jadi melakukannya. Tanpa merangkak, aku mencoba berdiri, satu-satu langkah yang selama hampir dua tahun ga pernah aku lakuakan hari itu aku dapatkan. Diiringi teriakan dari mbakyuku “bu… thole iso mlaku!!!”.
*******************
Aku besar bersama seorang sepupu cewekku yang terpaut 1 tahun denganku. Dia anak pak likku, secara fisik dia amat gede, dan lebih aktif daripadaku. Dan seperti umumnya anak-anak disekitar rumahku, umur 7 tahunan sepupuku udah mahir mengendarai sepeda “onthel”. Disitu aku ketinggalan lagi, sampai kelas 3 SD, sepupuku tersebut dengan susah payah mengajariku naik sepeda “onthel”. Aku inget banget sepeda gunung yang mafhum disebut sepeda “federal” dikampungku, terpaksa dikasih semacam tongkat di bagian “sadel”nya, tongkat itu dipegang sepupuku tadi yang dengan rela hati berlari ngos-ngosan menjaga aku agar tidak jatuh waktu belajar naik sepeda. Akhirnya kerja keras sepupuku berbuah hasil manis, karena pada tengah cawu (catur wulan) kelas 3 SD aku sudah bisa berangkat sekolah naik sepedaku sendiri.
*******************
Selepas SD, aku langsung di kostkan oleh bapak dan ibuku. Alasannya sangat jelas, rumah kami ada di kampong dan lumayan agak jauh dari SMP yang kualitasnya bagus. Sehingga jadilah aku anak kos ketika kelas 1 SMP. Sangat membekas gimana waktu makan malam pertama dirumah kos, aku dibawain perkedel kentang isi udang kesukaanku sama ibuku. Aku nangis, home sick, inget ibu, inget mbakku, inget bapakku. Seminggu sekali aku pulang ke rumah dengan naik angkot yang lazim disebut “Lin”. Kendaraan itu, berpintu dibelakang sebagai tempat masuk penumpang, kursi berhadapan memanjang, dan warna angkotnya hijau tua. Pertama kali pulang, aku mengalami kejadian yang memalukan, aku mabuk kendaraan dan terpaksa sopir dan penumpang “lin’ lainnya menungguiku sampai selesai muntah-muntah dipinghiran sawah menuju ke kampungku.
******************
Tingkat SMA, aku kos lagi. Lebih jauh daripada SMPku dulu, tapi karena sudah terbiasa jadinya ga terlalu menghabiskan tangisan Bombay. Di kelas 2 SMA ini aku kenal adek tingkat yang membawaku masuk ruangan KKR. Inget banget ketika tangisanku pecah waktu pujian :
“ku kan menari dan bersuka, karena mu oh Yesusku..
Dan ku kan rindu airMu bagai rusa rindu selalu.
Kau hidup di dalamku dan hidupku di dalamMU..
Oh Yesusku Kau sangat ku cinta…. “
Aku jadi tahu ada yang namaNya Yesus yang ga tau gimana ninggalin bekas dihatiku.
*******************
Udah lewat beberapa tahun segala kejadian itu, tapi aku tahu, masih banyak lagi yang akan terjadi. Dan aku tahu aku ga mampu jalani sendiri, tapi aku tahu Dia selalu ada untukku.
Yet from this day on I will bless you (Haggai 2:19)
Submitted by
Anak El-Shadday
on