Submitted by mia on

Setelah memendam rasa yang sudah setahun yang lalu disimpan, beberapa waktu yang lalu aku memberanikan diri menelepon hansen, dengan keberanian yang kukumpul berbulan-bulan lamanya, hanya ada 2 kemungkinan, mungkin iya dan mungkin tidak.

Percakapan di telpon membuat hati ku deg-degan, hansen sedang ada di kapal menuju pulang dari tempat PTT nya di Nias bekerja sama dengan Bala Keselamatan menuju Sibolga-Medan dan Jakarta, aku tau itu perjalanan yang cukup melelahkan, tapi lebih melelahkannya aku memendam rasa ini, akhirnya aku mengatakan, betapa perasaan yang aku punya masih ada untuknya, dan bahwa aku masih berdoa untuknya dan merindukannya. Akhirnya dia menjawab dengan 'gentle' : 'mia, maaf aku sedang mendoakan orang lain untuk jadi pendamping hidupku, dia adek kelas sepelayanan denganku', saat itu aku merasa sekelilingku gelap dan air di matakupun menetes sudah, hansen bertanya : 'mia, kamu nangis ya', aku jawab dengan sedihnya, 'ngga, aku ngga apa-apa', 'mia kupikir jawabanmu dulu dengan mengatakan tidak, itu berarti tidak sama sekali, bahkan kamu tidak membalas sms ku yang terakhir, jadi kupikir, mendoakan orang lain, jujur, waktu itu aku sangat sedih sekali mia'. 'trima kasih kamu sudah jujur hansen, dan aku tau posisiku dan apa yang harus kulakukan', aku mengatakan itu dengan sisa-sisa kekuatan yang masih kupunya untuk menyatakan perasaanku. Kami mengakhiri percakapan di telpon yang dipisahkan negara, samudra dan lautan, kami berpisah diantara waktu dan ruang yang sangat jauh, aku membawa emosi ku dalam tidur, aku tidak akan menghubungi hansen untuk beberapa waktu, aku sakit, hatiku perih, betapa dia seolah-olah menyalahkan diriku, terlintas dalam hatiku 'mia, hansen tidak mati untukmu, tapi AKU, AKU mati untukmu, kasihKU besar dan manis.. aku tidur dalam kesedihan diantara ada dan tiada...