Submitted by Sigit on

"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas
segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar
Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kej 1:26-27)

Saya selalu senang untuk melihat kembali seperti apakah manusia ideal yang Allah harapkan itu? Saya selidiki terus ayat ini di kala saya selalu melihat ketidak sempurnaan demi ketidak sempurnaan manusia. Mengingatkan kepada saya bahwa apa yang Allah rancangkan itu indah semata.

Nah kata gambar dan rupa di dalam bahasa ibraninya adalah Tselem dan Demuth. Tselem berati "to shade" atau "shadow", artinya bayangannya Allah, ditulis dalam noun maskulin, sedangkan Demuth berarti keserupaan, kemiripan. Ditulis dengan noun feminine yang artinya kita memiliki kasihnya Allah. Lalu apakah artinya? Artinya manusia sebenarnya diciptakan dengan sisi keadilan (Tselem) dan sisi kasih (Demuth) Allah. Dalam hal ini, cukuplah bagi kita untuk bersyukur atas apapun yang Allah berikan kepada kita mulai dari bentuk fisik, sampai pribadi, karena semuanya itu berasal dari Allah. Jadi jangan pernah menjelek-jelekkan diri kita sendiri, apalagi merusaknya.

Dikatakan supaya kita 'berkuasa', dalam bahasa ibraninya Radah. Radah adalah kata yang digambarkan sebagai menginjak sesuatu. Ternyata, Allah berkehendak supaya kita terus menerus belajar agar alam takluk kepada kita. Tentunya, menaklukan untuk Kemuliaan Allah.

Kemudian, manusia adalah makhluk yang selalu erat dengan yang namanya proses. Adam, diciptakan dari tanah (adamah, tanah merah, tanah dengan kualitas terbaik di timur tengah). Sifat tanah adalah mudah dibentuk, namun di sisi lain juga mudah dihancurkan. Di tangan Allah, manusia mudah dibentuk dan akan menjadi semakin indah sedangkan di tangan kegelapan, manusia akan mudah hancur. Sudah jelas kan, kepada siapa seharusnya kita memilih?

"Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah
itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan
atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28)

Perhatikan lima kata dalam ayat ini: beranak cuculah, bertambah banyak, penuhilah bumi, taklukanlah itu, berkuasalah.

1. Beranak cucu (Indonesia tidak tepat, dalam Inggris "Be fruitful", dalam Ibrani Parah). Bukan sekedar "be fruitful" akan tetapi maksud Allah disini adalah berbuah. Ya, berbuah. Hasilkanlah yang terbaik dan sebaik-baiknya dalam dirimu bagi Kemuliaan Allah.

2. Bertambah banyak ("Be multiply", dalam ibrani Rabah). Jika kita telah berbuah (bicara tentang kualitas), maka sudah saatnya kita menambah jumlahnya (kuantitas). Jadi, segala yang baik dalam dirimu, buatlah itu menjadi banyak supaya semua orang melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan BAPA mu yang ada di surga (Mat 5:16)

3. Penuhilah ("Replenish", dalam ibrani Mala). Artinya adalah penuh, sepenuh-penuhnya. Penuh berbicara tentang kesempurnaan, high standard. Jadi, apapun yang kita lakukan, lakukan itu dengan "high standard", jangan setengah-setengah. Mengikut Allah pun jangan setengah-setengah, karena yang seperti itu akan ditolak oleh Yesus di akhir jaman. Buatlah segala yang kita lakukan dengan yang terbaik hanya bagi Allah

4. Taklukkan ("Subdue", dalam ibrani Kabash). Artinya adalah taklukkan dengan segenap tenaga dan akal budi. Saya bisa mengartikan disini bahwa untuk menaklukkan dibutuhkan kekuatan dan pengetahuan. Sudah sering kita dengar bahwa 'knowledge is power', dan ternyata BAPA juga memerintahkan kita juga belajar sebaik-baiknya supaya kita juga bisa menaklukkan, entah pekerjaan, financial, dsb. Intinya, menjadi pro aktif dan tidak menjadi pasif.

5. Akhirnya, berkuasa ("have dominion", dalam ibrani Radah), yang artinya sudah saya jelaskan di atas.

Betapa dahsyat bagi saya bagaimana Allah merancangkan manusia dengan sedemikian. Kemudian, ketika Hawa telah tercipta, dikatakan demikian:



"Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu." (Kej 2:25)

Sempat berpikir juga sih dulu "Apakah dulu manusia itu gak tahu malu?" Laughing eh setelah direnung-renungkan ternyata bukan itu. Manusia, karena belum memiliki nature dosa, selalu berada di dalam Hadirat Allah Yang Maha Kudus, secara otomatis, Kemuliaan Allah menutupi seluruh tubuh mereka. Inilah yang tidak membuat mereka merasa malu. Kemuliaan ini hilang seketika ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa, dan akhirnya turun temurun berlanjut hingga kepada generasi kita sekarang (Roma 3:23)

Jadi, manusia, sebelum jatuh ke dalam dosa, adalah makhluk ciptaan yang sempurna di mata Allah. Ketika manusia jatuh, hal inilah yang Yesus tebus, supaya setiap manusia kembali kepada BAPA dan dapat bersama-sama berkumpul kembali. Kalau dahulu di Taman Firdaus, maka di akhir jaman nanti adalah di Yerusalem yang baru..

Manusia tidak akan ada habis-habisnya dikupas. Penyebab kejatuhannya, kenapa mereka bisa jatuh akan saya kupas lagi di tulisan yang lain. Kalau belum puas, saya pernah menulis hal ini di blog saya (dalam inggris sih), silakan dilihat:

http://metanoialive.blogspot.com/2007/12/human-gods-masterpiece-sixth-day-part-2.html

Semoga anda terberkati, Shalom