Submitted by anakpatirsa on

"Bisa pinjami aku 200 ribu? Aku butuh sekali, hari Rabu pasti kukembalikan. Aku janji," merupakan bunyi SMS yang ditunjukkan oleh Mahlan kepadaku.

Mahlan menunjukkan SMS ini karena ingin mengetahui apakah aku bisa membantu temannya. Ketika membacanya, aku bertanya-tanya untuk apa uang itu, serta sedikit menuduh, merasa uang itu hanya akan digunakan untuk bersenang-senang.

Aku termasuk orang miskin, sehingga Mahlan memutuskan untuk meminjamkan uangnya sendiri. Dan aku benar-benar melupakan SMS ini, sampai beberapa hari kemudian, Mahlan bercerita kalau temannya datang, sekaligus membayar separuh pinjamannya. Ya, Rabu itu, Dewi hanya mampu mengembalikan seratus ribu karena ia hanya punya uang sebanyak itu.

Mahlan menceritakan kepadaku mengapa Dewi harus meminjam uang.

***

Dewi - teman akrab Mahlan sejak SMA. Persahabatan mereka berlanjut terus sampai sama-sama bekerja. Sudah beberapa tahun ayah Dewi sakit, sekarang dua kali seminggu harus cuci darah dengan biaya yang sangat mahal bagi mereka. Tetapi penyakit ayahnya juga bukan makin hari makin membaik, kondisinya makin menurun. Sekarang bahkan mata ayahnya sudah tidak berfungsi lagi

Ayah Dewi seorang PNS yang harus pensiun lebih awal, dengan uang pensiun yang tidak mencukupi untuk cuci darah. Ayah ini memiliki dua anak, Dewi dan kakak lelakinya - kakak yang saat ini bekerja di Cirebon. Ibu Dewi hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.

Dewi harus berhenti kuliah ketika ayahnya mulai sakit. Dulu ia bekerja di pabrik, tetapi kemudian berhenti karena harus menjaga ayahnya. Sekarang ia memberi les untuk anak-anak SD dan SMP. Hanya itu caranya ia bisa tetap berada di rumah dan mendapatkan uang. Dewi dan ibunya tidak punya pilihan, mereka harus menyiapkan lebih dari satu juta setiap minggu untuk biaya cuci darah. Dulu keluarga dekat masih membantu, tetapi lama kelamaan orang-orang itu sadar kalau mereka sendiri sangat membutuhkan uang. Dengan perasaan sesal dan bersalah orang-orang itu mundur.

Kakak Dewi menikah tahun lalu, dan sekarang istrinya sedang hamil. Ketika menikah, kakaknya berjanji akan membantu orang tuanya, karena gaji dia dan istrinya akan lebih dari cukup. Awal-awal pernikahan, mereka masih mengirimkan uang, tetapi sekarang tidak sesering atau sebanyak dulu, keluarga baru ini juga harus membayar cicilan rumah dan orang hamil juga perlu susu.

Mengumpulkan uang sebesar itu setiap minggu tidak mudah bagi Dewi dan ibunya. Kadang-kadang dengan sangat terpaksa Dewi harus meminjam uang dari teman-temannya. Dan ia harus berusaha untuk mengembalikan uang-uang tersebut, karena ia tidak mau kehilangan kepercayaan. Bahkan Mahlan bercerita kalau Dewi mau pinjam uang dengannya tetapi ia tidak punya uang, Dewi akan mengajaknya ke rumah teman yang lain. Bahkan Mahlan pernah diajak pergi menggadaikan VCD, TV dan HP. VCD ternyata tidak terlalu laku di pegadaian, sehingga mereka harus berputar ke beberapa pegadaian. Tidak semua pegadaian menerima barang elektronik.

Ayahnya cuci darah hari Selasa dan Jum'at. Biasanya Dewi mengantar ayahnya ke RS Jebres kemudian pulang untuk menjemput ibunya. Kalau ingin bekerja di luar, ia harus bisa bekerja di tempat yang mengijinkannya pulang jam 9 untuk mengantar orang tuanya, lalu jam 12 keluar lagi untuk menjemput mereka.

Mereka memilih RS Jebres karena ada Jamsosteknya, sehingga mereka hanya bayar separuh harga, bahkan cuci darahnya kadang-kadang gratis. Tetapi mereka harus tetap membeli obat, sehingga setiap kali ke rumah sakit akan menghabiskan sekitar lima ratusan ribu.

Dulu Dewi pernah meminjam uang dengan semacam tukang kredit, dengan bunga dihitung perminggu. Mahlan berkata bunga itu sangat berat bagi keluarga Dewi. Dan kehidupan mereka sangat berat. Sehingga mereka mulai menjual barang di rumah satu persatu.

Dewi merasa semua ini terlalu berat. Dengan rasa sangat bersalah, ia seringkali berpikir alangkah lebih baik jika ayahnya tidak ada. Tetapi rasa bersalah membuatnya membuang pikiran ini jauh-jauh.

Seringkali ia hanya bisa menitikkan air mata, melihat ayahnya terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. Keadaan ayahnya benar-benar sangat mengiriskan. Dewi hanya bisa berharap, jangan sampai ayahnya meninggal karena ia tidak bisa mengumpulkan uang untuk cuci darah.

Ketika ayahnya jatuh sakit dua tahun lalu, Dewi berharap ayahnya jangan sampai meninggal. Ia merasa belum siap, dan belum berhasil menyenangkan kedua orang tuanya. Sekarang ia harus jujur, keadaan akan lebih baik jika waktu itu ayahnya langsung meninggal. Tetapi sekali lagi, ia segera membuang jauh-jauh pikiran ini. Ia benar-benar merasa sangat jahat.

Ia seringkali bertanya, kenapa harus ia dan ibunya yang mengalami semua ini. Ia melihat orang lain menikmati masa-masa indah dengan keluarga. Tanpa harus memikirkan dimana harus meminjam uang lagi.

Dewi tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Gelang, kalung, cincin sudah tidak ada. Perabotan rumah juga makin berkurang. Suatu saat, tidak ada lagi yang bisa dijual. Ia bahkan menyadari, suatu saat, tidak seorangpun yang mau meminjami mereka uang.

Seringkali ia memergoki ibunya menangis sedih, menangis karena membiarkan putri mereka berjuang mati-matian. Seringkali Dewi hanya masuk ke kamar ibunya untuk melihat muka perempuan yang penuh penderitaan ini. Ini yang membuatnya tetap bersemangat.

Setelah diam-diam melihat keadaan kedua orang tuanya, melihat muka mereka waktu tidur dalam mimpi buruk, ia akan berkata, ia tidak akan berhenti mengumpulkan cukup uang untuk cuci darah ayahnya dua kali seminggu.

Ia tidak akan pura-pura meratap kalau suatu saat ayahnya dipanggil. Tetapi ia tidak akan membiarkan ayahnya mati karena ia gagal menyiapkan enam ratus ribu rupiah setiap 3 hari.

***

Aku lebih tertarik dengan komenter Mahlan setelah membaca blog ini sebelum aku-posting.

Mahlan berkata, "Kadang aku berpikir, kalau saja Dewi mengenal Yesus, apakah ia akan mendapatkan penghiburan disitu? Aku ingat Dia punya sepupu yang aktif di gereja. Dulu sepupunya ini datang bertiga atau berempat dengan temannya dan mendoakan ayah Dewi. Tetapi setelah sepupunya ini punya cowok, mereka tidak lagi datang untuk berdoa. Kadang-kadang aku berpikir, Dewi dan orang tuanya lebih membutuhkan sesuatu yang nyata seperti uang untuk berobat, bukan sekedar doa."

Aku tidak tahu harus bilang apa-apa. Walaupun tidak menyetujui sepenuhnya komentar tersebut, tetapi aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.

Kadang-kadang aku berpikir seringkali orang menganggap keberadaan Yesus hanya sebagai penghibur dalam kesulitan, tidak lebih dari itu. Berapa orang menganggap kalau terima Yesus semuanya akan baik-baik saja; kalau terima Yesus penyakit bisa sembuh dan uang mengalir begitu saja. Dan beberapa orang bahkan menganggap orang yang sudah terima Yesus itu sudah menjadi sosok sempurna tanpa cacat.