Angin semilir lembut menyentuh wajahku. Aroma rumput yang wangi menentramkan jiwa. Sinar matahari pun tidak terik. Sungguh suasana yang menyenangkan. Di hari yang bahagia ini, entah bagaimana pikiranku membawaku ke sepuluh tahun silam. Saat itu aku masih kelas 2 SMP.
Aku tak akan pernah melupakan nama itu. Devi. Devi adalah teman sekelasku ketika itu. Dia adalah seorang perempuan bertubuh gemuk. Rambutnya selalu dikuncir kuda. Pipi bulatnya kemerah-merahan bila terkena sinar matahari. Yang istimewa dari dirinya adalah tertawanya. Tawanya yang ceria membuat orang-orang juga ingin tertawa. Dia tampak manis sekali. Tapi senyumnya dan tawanya hanyalah sebuah kamuflase. Ya, kukatakan demikian, karena hidupnya di sekolah sangat menyedihkan.
Jika aku bertanya kepadanya, "Mengapa engkau selalu tertawa?" Dia hanya menjawab, "Masakan harus menangis?"
Andai waktu bisa berputar kembali, aku sungguh ingin kembali ke masa itu. Maafkan aku Devi. Aku menyesal.
Berbulan-bulan Devi dijadikan bulan-bulanan. Anak-anak lelaki begitu kejam. Mereka terus mengejek Devi karena dia gemuk dan tidak kurus seperti anak-anak perempuan lainnya.
"Gendut loe, gendut, kaya babon!" tidak jarang kudengar anak-anak lelaki menghinanya demikian.
"Bukan babon, bego, tapi mammoth!" kata yang lainnya.
"Manusia bukan sih loe? Kq mammoth bisa sekolah?"
Devi hanya bisa diam dan tertunduk. Matanya menahan tangis.
Aku tidak berani berkata apa-apa. Aku takut menjadi bulan-bulanan mereka bila aku membela Devi.
Aku tidak dapat membayangkan perasaan Devi saat itu, karena bukan cuma anak laki-laki yang menghinanya. Anak-anak perempuan yang mengaku diri sebagai kelompok "populer" juga turut menindas dia dengan puasnya.
Suatu ketika, saat musim hujan, dan udara terasa dingin, Devi memakai sweater abu-abu. Secara kebetulan, salah satu dari anak-anak perempuan kelompok "populer" itu juga ada yang memakai sweater abu-abu.
Aku bisa mendengar dari jarak 10 meter. Anak perempuan kelompok populer itu menghina Devi.
"Ih, yol, loe pake baju sama kaya si Devi, cepet lepasin!" katanya.
"OH MY GOD.. bisa sial tujuh turunan gue pake baju yang sama sama anak model gitu" sahut Yolanda. Lalu mereka pun tertawa-tawa.
Devi hanya menunduk. Aku yakin dia mendengar perkataan itu, tapi kurasa dia pura-pura tidak mendengarnya.
Guru-guru tertentu pun gemar sekali memperlakukan murid-murid dengan diskriminasi. Mereka yang populer menjadi anak emas. Sementara orang-orang seperti Devi, hanya dipandang sebelah mata, dan diberikan standard ganda untuk segala sesuatunya.
Drama berlanjut hingga hari Minggu. Hari minggu Devi ke gereja untuk bersekutu. Dan anak-anak kelompok populer itu pun tentu saja ke gereja. Mereka adalah badan pengurus Komisi Remaja. Ketika Devi datang ke gereja, aku pikir mereka akan memperlakukan Devi seperti di sekolah. Ternyata tidak, mereka menyambut Devi dengan sangat ramah. Aku pikir mereka akhirnya memutuskan berhenti mengganggu Devi.
Aku keliru.
Hari Senin, mereka pun kembali lagi mengolok-ngolok Devi. Dan aku hanya bisa diam. Aku begitu takut saat itu.
Aku tidak mengerti mengapa mereka menghina Devi.
Apakah menjadi sebuah kesalahan untuk memiliki badan gemuk?
Apakah menjadi sebuah kesalahan menjadi tidak populer?
Kelompok populer menindas orang-orang tidak populer. Cerita lama.
Diturunkan dari generasi ke generasi.
Orang Kristen. Begitu sebutannya. Sekolah Kristen. Itu namanya.
Label. Hanya label.
Maafkan aku Devi, andai waktu dapat diulang, aku pasti membelamu.
Don't judge a book by its cover. You'll be disappointed.
*based on true story 10 years ago*
"..belajar untuk menyimak, menyimak untuk belajar.."
-belajar menulis-