Submitted by dessrei on

Setelah Allah selesai menciptakan berbagai tumbuh-tumbuhan dan binatang ternak maka Allah memfokuskan pada penciptaan manusia pada hari yang ke-6. "Berfirmanlah Allah: "baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita" (Kej. 1:26a). Dalam menciptakan manusia perdebatan kembali muncul ketika istilah gambar (tselem) dan rupa (demut) muncul bersama-sama di bagian ini:


- Bagi para penganut (teologi natural) menyakini bahwa "gambar itu tetap ada dan utuh. Bagian inilah yang dipercayai memampukan manusia untuk mencari dan menemukan Allah (keberhasialan upaya manusia dalam mencari Allah). Sedangkan "rupa" adalah bagian moral manusia yang telah dirusakkan oleh dosa.
- Ada yang mengangap bahwa "gambar" itu dibatasi oleh kata "rupa" untuk memberikan perbedaan bahwa manusia bukan sama seperti Allah.
- namun ada yang yakin sebaliknya yaitu bahwa justru kata "gambar" membatasi kata "rupa" sebab kata rupa mengarah kepada kesamaan dengan kata "darah" (Ibrani. dam). Hal ini ditunjang oleh mitos Mesapotomia yang mempercayai bahwa manusia diciptakan oleh darah dewa
- Kedua kata ini tidak memiliki perbedaan yang tajam karena dalam PL keduanya bisa dipakai secara bergantian. Justru pemakaian satu-satunya di mana keduanya dihadirkan bersamaan menyadarkan kita bahwa:

--> Allah sangat serius dalam menciptakan manusia dan Dia sangat menginginkan manusia untuk menjadi perwakilannya diatas muka bumi.
--> Penggunaan 2 sinonim menunjukkan penekanan (menurut tata bahasa Ibrani) di mana dibagian ini kita mendapati Allah menghargai manusia luar biasa. Ciptaan yang lain tidak membuat Allah harus berhenti dan merencanakan terlebih dahulu. Dia berfirman dan semuanya jadi. Namun untuk manusia Dia memastikan sesuatu yang berbeda dan sangat baik.
--> Pemaparan 2 kata ini justru menandai keunikan manusia yang membuat mereka dibedakan dari hewan di darat. Gambar dan rupa mambuat mereka memiliki kemampuan-kemampuan yang tidak dimiliki oleh ciptaan lainnya yaitu kemampuan untuk berpikir (rasio), mengekspersikan berbagai perasaan (emosi), kemampuan untuk memutuskan sesuatu (kehendak) dan kemampuan untuk berhubungan dengan Allah.