Submitted by
Purnawan Kristanto
on
Di jagat sabdaspace ini, saya merasakan sebuah interaksi yang unik. Meskipun belum pernah bertemu secara fisik, namun karena sudah sering bertegur-sapa melalui semesta virtual, saya merasa akrab dan seolah sudah menjadi teman lama. Hal itu yang saya alami ketika bersua pertama kali dengan M23. Awal perjumpaan kami dicomblangi oleh cik Joli, yang lebih dulu melakukan kopdar dengan M23, Desember 2009. Kebetulan, saya juga punya rencana berlibur ke Bali. Maka saya menitip pesan pada cik Joli untuk M23. Isinya, minta tolong mencarikan penginapan murah-meriah untuk sekeluarga.
Gayung pun bersambut. Via PM di SS, saya memberikan nomor HP pada M23. Tanpa jeda lama, dia segera menelepon saya. Saya minta tolong untuk dicarikan penginapan. M23 menyanggupi. Secepat unit reaksi cepat, dia menawarkan beberapa pilihan. Saya memilih paviliun milik dewan paroki, gereja Katolik di Bali.
“Tolong saya diberi nomor rekening untuk pembayaran uang muka,” pinta saya.
“Itu gampang, bisa dibayar kalau sudah sampai di Bali saja,” kata M23 dengan logat Bali.
***
Kamis sore [7 Januari], dengan menumpang dua mobil, sebanyak 21 orang memulai ekspedisi ke Bali. Memasuki kota Solo, hujan turun dengan deras. Petir menyambar langit kota Batik itu, seperti tangan jemari-jemari raksasa yang sedang marah. Selepas terminal Tirtonadi, cik Joli menelepon.
“Sampai dimana?” tanyanya.
“Sekarang sedang melintasi kota Solo,” jawabku. “Apa mau menambahi uang saku? Ini mumpung saya ada di Solo, bisa sekalian ngambil”
Cik Joli hanya tertawa kecil. “Sudah kontak M23?”
“Sudah. Kami janjian ketemu di penginapan besok.”
Saya lalu menanyakan informasi perihal M23 kepada cik Joli. Terus terang saya agak khawatir karena belum banyak mengenalnya. Bukan soal apa-apa sih, hanya merasa canggung dan nggak enak saja karena belum pernah ketemu tetapi sudah berani minta tolog. Joli memberikan beberapa keping informasi.
“Tenang saja. Kalau sudah sama M23, pasti akan baik-baik saja,” hibur Joli. “Rencananya mau istirahat dimana?”
“Belum tahu. Pokoknya asal perut sudah lapar atau badan sudah capek, ya istirahat saja.”
Joli lalu merekomendasikan beberapa tempat makan. Pecel di Madiun, Rawon di Nganjuk, ayam goreng di Banyuwangi dan Negara. Namun akhirnya kami beristirahat di sebuah rumah makan di Saradan, Madiun. Tempatnya sih nyaman, tapi kualitas masakannya itu suam-suam kuku. Manis nggak, asin tidak, asem juga bukan. Gurameh asam manis yang terhidang, ternyata lebih banyak tepungnya daripada dagingnya. Mungkin menu itu lebih tepat dinamai bakwan rasa gurameh bumbu asam manis. Tapi tak apalah. Yang penting perut kenyang. Soal rasa, itu nomor dua.
Tak banyak hambatan dalam perjalanan ke Banyuwangi. Pukul setengah tujuh pagi, kami sudah menyeberangi selat Bali. Tak lupa, saya mengabarkan status perjalanan ke M23.
“Kalau sudah masuk Denpasar kasih tahu ya? Pukul 10, saya akan check in ke penginapan.” Pesan M23.
Perjalanan dari Gilimanuk ke Denpasar ternyata sangat lancar. Pukul sembilan, kami sudah masuk Tabanan, kabupaten yang berbatasan dengan Denpasar. “Wah, cepat sekali!” reaksi M23 lewat telepon, setelah saya beri update posisi kami. “Kalau begitu saya segera ambil kunci ke penginapan. Rombongan pak Wawan sudah sarapan?”
Saya jawab belum.
“Kalau begitu, sebelum ke penginapan, kita cari makan dulu.”
“Apa tidak sebaiknya kami mandi dulu?”
“Kalau mandi dengan perut kosong bisa masuk angin, lho!”
Saya setuju karena perut saya memang sudah keroncongan.
“Saya menunggu di depan sekolah…..[menyebut nama sekolah]” kata M23, lalu menyebut merek dan warna mobilnya.
Karena sudah hampir sampai, maka saya mengerahkan semua penumpang untuk memasang mata, mencari mobil 23. Meskipun ada 12 pasang mata yang melotot sepanjang jalan, ternyata mobil M23 terlewat tanpa kami sadari. Kami berhenti di depan terminal bis Ubung. Saya segera menelepon M23. “Oke, tunggu saja di situ. Saya segera menyusul.”
Berselang 10 menit, mobil M23 sudah sampai. Dia segera turun dengan ramah dan menyalami saya. “Mau makan apa? Babi guling atau nasi campur?” Saya memutuskan untuk sarapan nasi campur saja supaya bisa dihidangkan dengan cepat.
Mobil M23 memandu kami menuju sebuah rumah makan di jalan Gatot Subroto tengah. Usai sarapan, kami diantarkan ke penginapan di Gatot Subroto barat. Tepatnya di jalan Gunung Kubu, Tegal Jaya. Jarak antara jalan utama dengan penginapan sekitar 1,5 km, melewati persawahan yang asri dan kompleks perumahan mewah. Kami menempati sebuah rumah berarsitektur Bali yang cukup besar. Di dalamnya terdapat empat kamar tidur, ruang tamu yang sangat lapang, dapur yang luas dan halaman belakang yang lega. Benar-benar pas dengan kebutuhan kami. Begitu sampai penginapan, anak-anak langsung berlarian dengan bebas. Sementara orang dewasa melamaskan otot-otot yang penat.
Di beranda rumah terjajar satu set kursi dan meja. Saya dan M23 melanjutkan obrolan di sini sambil menikmati suasana Bali yang cerah. Pukul tiga sore, M23 pamitan sambil menawarkan ajakan makan malam. Akan tetapi tawaran itu tertunda karena kami sudah makan malam di Jimbaran.
Sabtu malam, M23 menyiapkan jamuan makan malam untuk kami. Di bawah guyuran hujan yang sangat deras, lidah kami dimanjakan dengan sajian makanan laut yang melimpah di warung makan Subak. Perut kami sudah penuh, tapi makanan belum habis juga. Maka kebiasaan di kampung pun terbawa-bawa: minta supaya sisa makanan dibungkus.
Malam itu, saya semobil dengan M23. Sepanjang perjalanan, kami mengobrolkan banyak hal seputar Sabdaspace. Sebagaimana kopdar yang lain, pertemuan semacam ini tidak mungkin dilewatkan tanpa ngerasani blogger SS yang lain. M23 juga menceritakan asal-muasal bergabungnya ke SS, berkat shoutmix di kotak ijo. Waktu itu, dia sedang mencari literatur tentang jumlah tiang pada tabernakel. “Siapa yang tahu jumlah tiang di tabernakel?” tulisnya di kotak ijo. Lalu, ada blogger yang memang sering nongkrong di sana memberikan respon. Terjalinlah komunikasi lewat PM, SMS, email dan telepon. Dari kejadian itulah, M23 mulai terlibat dalam komunitas ini.Kami juga mengobrolkan tentang debat panas yang ada di SS ini. Akan tetapi kalau saya tulis hasil obrolan kami di sini, saya khawatir nanti saya dianggap telah memfitnah, menyindir atau mencemooh pihak tertentu di sini. Karena itu versi yang lebih lengkap akan bisa dibaca di Facebook saya.
***
Kalau selama ini ada yang bertanya tentang arti “Komunitas”, sebaiknya sekali-kali ikutlah kopi darat yang diadakan oleh blogger SS [bukan debat darat lho]. Keguyuban dan spontanitas dalam pertemuan itu akan membawa kita mengalami langsung apa itu makna “komunitas.” Dalam kopi darat, setiap pihak mendapat penerimaan apa adanya tanpa mempersoalkan denominasi, aliran, asal gereja, etnis, pemahaman teologis, dll. Pihak-pihak yang sebelumnya belum pernah bertemu secara langsung, tapi ketika bertemu untuk pertama kali, masing-masing tidak merasa canggung. Seolah-olah mereka sudah saling mengenal dan berkawan karib, dan sesungguhnya memang itulah yang terjadi. Berkat komunitas yang terbentuk di SS ini, maka beberapa anggotanya merasa sudah menjadi satu keluarga. Cik Joli mengatakan bahwa SS telah menjadi gereja kedua baginya. Lebih jauh lagi, M23 merasa bahwa SS telah menjadi gereja pertama baginya. Di SS ini, dia terdorong untuk memperdalam pengetahuan tentang firman Tuhan.


