Submitted by ronggowarsito on
Dear bloggers,



Mau ikutan konak bareng aku?

Baca dulu cerita ini.



------



"Bagaimana, ereksi anda masih bermasalah?" tanya dokterku dua bulan yang lalu.
"Sip, Dok. Sudah mantap," jawabku, "Smells like teen spirit."
Dia tersenyum, "Anda beruntung, itu hanya masalah psikis. Sebaiknya anda mulai mencoba berolahraga rutin, untuk meningkatkan kualitas hidup."

Aku hanya manggut-manggut. Hampir dua tahun 'berpuasa' memang bukan hal yang menyenangkan.

Baiklah kalau itu membuatmu senang, Dok, sahutku dalam hati. Sesungguhnya, aku juga.



Kupikir tidak salah kalau aku memilih futsal sebagai proritas pertama. Walau telah sekian lama kutinggalkan, aku tak pernah bisa lupa dengan serunya permainan ini. Tapi ternyata baru sekali mulai ikut main lagi, aku langsung  cedera.



Aku sudah bertekat tidak akan bertobat. Mungkin intensitasnya saja yang perlu dikurangi. Kini saatnya mencari alternatif variasi olahraga lain yang lebih manusiawi untuk kondisiku yang sudah sekarat ini.



Mancing.

Ah, sudah kulakukan sejak lama, nekat walau hanya di tempat-tempat yang dekat saja. Dekat itu berarti 'masih di darat' dan 'bisa sambil pesan kopi atau mi instan'.

"Itu sih bukan olahraga," celetuk seorang kawan.

"Sport fishing," sahutku pendek, tak mau kalah.
 
Dia tidak tahu, mancing juga butuh stamina bagus. Kalau badan sedang tidak fit, jangan memaksakan diri pergi mancing. Rugi. Tak akan bisa menikmati kegiatan ini. Bisa-bisa malah bikin repot diri sendiri. Karena itu aku harus bersabar, kalau mau bikin trip mancing - apalagi sampai tempat di mana daratan tidak terlihat lagi - memang harus menunggu kondisi badan sudah benar-benar memungkinkan.



Lalu terlintas sebuah ide. Kuambil sepedaku dari sudut garasi. Kasihan. Berdebu dan beberapa bagiannya berkarat. Tidak terawat. Dua tahun sudah aku tak pernah menyentuhnya, apalagi menaikinya. Hanya Mbak Endut yang kadang-kadang memakainya untuk berbelanja ke pasar.



Sepeda gunung itu kubeli lima tahun yang lalu. Satu kejadian yang tak terlupakan pernah kualami bersama sepeda itu, tak berapa lama setelah aku membelinya. Di suatu pagi yang masih gelap, seorang lelaki gendut kutabrak dari belakang. Satu-satunya yang kuingat dari lelaki itu adalah tulisan di belakang kaos lengan panjangnya : 'Yayasan Jantung Indonesia'.



Akibatnya, sekarang aku punya pitak. Bekas lima jahitan tak bisa hilang dari kulit kepala, tepat di atas telinga. Setelah kejadian itu, aku membeli helm dan selalu memakainya setiap kali turun bersepeda.



Kuperhatikan sepeda itu. Ada dua bagian yang harus diganti. Handel setang dan sadelnya sudah robek. Bagian-bagian yang lain sepertinya cukup dibersihkan dan dilumasi.

Dua hari kemudian semuanya sudah siap, handel setang dan sadel sudah diganti dengan yang baru.



Keesokan harinya aku sudah siap meluncur. Untuk pemanasan, cukup dengan berkeliling komplek perumahan. Jalanannya memang tak semua halus, tapi minimal rata tanpa tanjakan. Dari dulu aku memang tidak suka bersepeda dengan jalur menanjak. Capek.
 
Toh aku bersepeda bukan untuk berkompetisi, apalagi ikut lomba atau turnamen, tapi sekedar untuk menggerakkan badan, mengeluarkan keringat, sekalian melatih nafas untuk paru-paruku yang sudah terganjal asbak. Bukan pula karena sepedaku terhitung sepeda murah. Aku tahu sepeda yang dipakai bikers dari komplek perumahan sebelah harganya bisa sepuluh bahkan dua puluh kali lipat dari harga sepedaku. Aku bahkan tidak tahu apakah sepeda mahal akan terasa lebih ringan bila dipakai di jalur tanjakan bila dibandingkan dengan sepeda murahan seperti milikku ini.



Dua kali bersepeda di dalam komplek kurasa cukup untuk pemanasan. Kali yang ketiga, aku mulai bersepeda keluar komplek.

Menyusuri jalan raya yang tak terlalu ramai, perkampungan, kebun, dan sawah. Masih di sekitar komplek, tidak perlu terlalu jauh.



Setelah beberapa kali bersepeda sendirian, aku mulai mengenal teman-teman yang baru yang sama-sama bersepeda tiap akhir pekan. Kami biasa berkumpul di taman yang berada di tengah-tengah komplek perumahan sebelah setelah bersepeda.



Terakhir kali bertemu, "Ke mana kita minggu depan?" tanya salah satu dari kami.

Seseorang menjawab, "Kita coba rute baru. Sigar Bencah, arah Tembalang."

Aku diam. Membayangkan jalur panjang yang berkelok dan menanjak.

Ini gawat, paha dan betisku bisa ambrol.

Beberapa orangpun menggerutu.



Lalu banyak komentar yang terlontar di antara kami.

"Itu kan jalur tanjakan."

"Justru itulah tantangannya."

"Ogah."

"Asik tuh."

"Males."

"Ini baru namanya olahraga."

"Capek."



"Begini saja. Yang mau main di tanjakan silakan main di tanjakan. Tapi kalau mau yang asik-asik santai ikut aku."

"Aku ikut kamu."

"Aku nggak."

"Kita sendiri-sendiri saja."



Lalu seakan-akan terbentuk garis imajiner yang memisahkan dua kelompok kami ini.



"Kita harus memberi nama untuk perkumpulan kita yang baru," kataku.

"Kira-kira apa nama yang cocok? Manis Manja?"

"Haha..., bukan. Konak," aku menyahut.

"Hah?"

"Iya. Konak. Komunitas Anti Nanjak."









(Special thanks to: rusdy dan PlainBread)



SS22112010