KENAPA KRISTUS DIHUJAT? KARENA KAMU
(Rom 2:21) Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa engkau sendiri mencuri?
(Rom 2:22) Engkau yang berkata: "Jangan berzinah," mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?
(Rom 2:23) Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?
(Rom 2:24) Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain."
Pagi tadi, pertama baca bagian firman Tuhan diatas, dada saya sudah sesak, mata saya udah mulai kabur oleh air mata yang mau jatuh, sedih sekali rasanya.
Kenapa Nama Tuhan dihujat?
Seorang pemimpin jemaat melakukan hubungan sex dengan salah seorang jemaatnya yang masih dibawah umur. Pada awalnya pemimpin jemaat itu menyangkal perbuatannya dan menyampaikan keterangannya demi nama Tuhan. Tetapi ketika bukti-bukti tidak lagi dapat dihindarinya, akhirnya ia mengaku.
Kenapa Nama Tuhan dihujat?
Nama “konglomerat” atau mungkin lebih tepatnya “konglomelarat” yang satu ini terkenal ditahun 80 sampai 90 awal. Satu saat dalam sebuah acara, diumumkan bahwa “konglomerat” tersebut memberikan bantuan satu buah tempat ibadah sebagai rasa cintanya kepada Tuhan. Tidak terlalu lama berselang, “konglomerat” tadi dicari oleh aparat karena mengemplang dana BLBI. Dan sampai saat ini, menurut berita, yang bersangkutan masih buron diluar negri, entah kenapa.
Kenapa Nama Tuhan dihujat?
Di sebuah media pernah diberitakan mengenai seorang pejabat daerah yang menjadi dalang upaya pembunuhan atas seorang bawahannya, untuk menutupi kejahatan yang dibuatnya. Akhirnya kepastian mengenai kebenaran berita tersebut menjadi semakin nyata, ketika ada pernyataan dari aparat hukum mengenai penangkapan dan proses hukum yang akan dimulai. Dan pejabat yang bersangkutan adalah salah satu tua-tua jemaat.
Kenapa Nama Tuhan dihujat?
Saya harus akui bahwa menurut saya, saya ikut berkontribusi
Kapan? Bagaimana mungkin?
Pernah satu kali pas hari minggu, di dekat pintu luar gereja, seorang bapak duduk dilantai dengan pakaian lusuh, kulitnya kotor, kelihatan kondisinya kurang sehat dan menurut dugaan saya pasti badannya bau sekali. Sesekali bapak tadi menatap kearah saya, sepertinya berharap belas kasihan saya. Menurut Satpam yang bertugas, bapak itu bukan umat Tuhan.
Hari itu saya bertugas sebagai penerima jemaat di gereja, jadi saya mengenakan salah satu pakaian saya yang terbaik dan berdiri tidak jauh dari tempat bapak tadi duduk. Dan sebetulnya masih ada cukup uang didompet, tapi entah kenapa, saat itu rasanya berat sekali untuk memberi. Mungkin karena pikiran negative sudah muncul duluan, “pasti nih bapak pura-pura sakit, supaya orang-orang pada kasihan”. Tidak berapa lama, seorang satpam dari komplex pertokoan (kelihatannya kristen – soalnya pakai kalung salib yang cukup besar untuk dilihat oleh bapak tadi, bahkan oleh saya) datang, mengusir bapak tadi. Dengan bertumpu pada lutut dan telapak tangannya, bapak tadi pergi.
Waktu pulang gereja, saya sempat berpikir mengenai apa kira-kira yang ada dalam pikiran bapak tadi dan kenapa dia berharap belas kasihan dari orang yang keluar masuk rumah Tuhan? Mungkin dia pernah mendengar bahwa Yesus Kristus adalah orang yang penuh kasih dan suka memberi, sehingga pastilah pengikut-pengikutnya adalah orang yang penuh kasih dan suka memberi. Ketika tidak memperoleh apa-apa, bahkan diusir Satpam pertokoan gereja, seandainya ada yang mau dihujatnya, silahkan tebak nama siapa yang dihujatnya?
Kapan lagi? Bagaimana mungkin?
Sepertinya, asal mau berusaha untuk mengingat, saya pasti akan menemukan lagi, yang jauh lebih parah yang pernah saya buat. Mungkin banyak lagi.
Kristus diagungkan, karena apa yang (sudah) Dia buat
Kristus dihujat, karena apa yang (sering) kita buat
Kenapa Nama Tuhan dihujat? Ketika membaca kali kedua ayat-ayat diatas, saya memang sudah menangis betulan. Sebab, saya akui, karena saya (juga), nama yang Mulia itu dihujat.
Sola Gratia