Submitted by Puput Manis on

Kemampuan Membedakan Secara Rohani


Apakah Anda ingin menjadi orang Kristen yang peka mendengar suara Allah? Yang dapat membedakan mana yang baik, yang benar, dan yang berkenan kepada Allah? Apakah Anda ingin tahu apa yang harus diputuskan ketika harus memilih? Dan bagaimana cara Anda mengambil keputusan? Apakah keputusan Anda didasarkan kepada prinsip-prinsip rohani atau pada prinsip-prinsip duniawi?


Untuk itu semua kita membutuhkan kemampuan membedakan secara rohani. Misalnya tiba-tiba kita memasuki suatu situasi di mana kita tidak tahu yang harus kita lakukan, maka kita perlu memohon kemampuan ini dari Allah. Atau kalau seseorang menghadapkan pilihan kepada Anda, meminta nasehat Anda, meminta hikmat Anda, maka Roh Kudus yang tinggal di dalam Anda yang mengetahui segala perkara, yang mengetahui apa persisnya yang sedang terjadi pada orang tersebut, akan menyingkapkan kebenaran, menilainya dengan hikmat Ilahi, sehingga Anda mengetahui pikiran Allah dalam situasi orang tersebut.


Mempunyai kemampuan membedakan secara rohani maksudnya adalah : mempunyai kemampuan untuk secara intensif meneliti serta menyelidiki sesuatu hingga menemukan kebenarannya. Kemampuan seperti itu bukanlah karya manusia, melainkan karya Roh Kudus yang ada dalam diri orang percaya.


Setiap kali kita diperhadapkan dengan suatu keputusan, yang perlu kita pertanyakan adalah : ”Bagaimana pendapat Allah tentang hal ini?”



Kita perlu memandang segalanya dari perspektif Allah, memandangnya seperti Allah sendiri memandangnya. Allah tidak memandang dari luarnya saja. Allah juga mengetahui dalamnya. Allah mengetahui segalanya sebab tidak ada sesuatupun yang Allah tidak ketahui. Sayangnya kita sering mengambil keputusan tanpa kemampuan membedakan secara rohani sehingga kita sering gagal.



Bagi umat Allah, kita perlu hati-hati dalam mengambil keputusan, sebab hikmat manusia tidak sama dengan hikmat Allah. Seperti yang dikatakan 1 Korintus 2:14 : Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.



Dalam 1 Korintus 2:6-16 Paulus membedakan antara hikmat duniawi dan hikmat yang dari Allah. Kita harus membedakan mana hikmat manusia dan mana hikmat Allah, karena sebagai orang percaya yang masih tinggal di dunia, kita tidak mungkin keluar dari sistem duniawi hingga Tuhan Yesus datang lagi atau hingga kita dipanggil pulang ke rumah Bapa. Kita masih menjadi bagian sistem ini: sistem politik, sistem sosial, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sistem filosofi, dan sebagainya.



Dalam ayat 7 Paulus mengatakan : akan tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.


Tersembunyi dan rahasia di sini maksudnya adalah di luar kapasitas alami manusia untuk memahaminya, dan hanya diketahui dari wahyu dan yang dinyatakan melalui orang lain, dan bukan diri sendiri.


Apakah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia? Hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia adalah bahwa satu-satunya pengharapan bagi seluruh umat manusia adalah penyaliban Kristus!



Tidak mungkin manusia menemukan skenario seperti itu. Tidak mungkin manusia merancang rencana penyelamatan yang melibatkan Anak Tunggal Allah, penumpahan darah-Nya di kayu salib, sehingga manusia dapat diampuni segala dosanya hanya dengan percaya dan menerima-Nya dengan iman. Demikian juga realita kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib serta kebangkitan-Nya di antara orang mati.


Semuanya itu tidak masuk akal manusia sehingga wajar kalau orang yang mendengarnya menanggapi :”Saya tidak percaya.”



Dunia tidak mampu memahami salib Kristus. Bahwa di Betlehem 2000 tahun yang lalu seseorang dilahirkan oleh seorang perawan, yang dibesarkan sebagai tukang kayu, kemudian menjadi pengkhotbah keliling yang memicu revolusi, hingga akhirnya disalibkan di antara 2 penjahat di luar kota Yerusalem, namun kemudian mayatnya hilang. Dunia tidak akan pernah memahami apa hubungannya semua itu dengan kita 2000 tahun kemudian. Menurut mereka tidak masuk akal. ketika kita umat Kristiani mengatakan, bahwa kita percaya kepada Orang yang tidak pernah kita lihat. Bahwa kita telah diselamatkan dan akan masuk surga kelak. Mereka bertanya :”Bagaimana Anda tahu bahwa Anda akan masuk sorga kelak?” ”Apa buktinya ada kebangkitan kembali?”

”Bagaimana Anda tahu Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati?” ”Bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab itu benar?” dan seterusnya.


Ketika orang yang belum percaya mengatakan ”Saya sudah membaca Alkitab dan ternyata Alkitab tidak masuk akal,” katakanlah : ”Alkitab memang ditulis bukan untuk Anda. Alkitab ditulis bagi umat Allah untuk memberitakan pesan-Nya kepada orang-orang yang belum mengenal Allah.”



Demikianlah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, sehingga orang-orang Yahudi di jaman Yesus pun tidak mampu menerimanya.


Jadi manusia hanya mungkin mengenal pikiran Allah ketika Allah sendiri yang menyatakannya kepada kita.



Bila kita dapat mengenal pikiran Allah, maka kita akan memiliki kemampuan membedakan secara rohani. Namun kenyataannya tidak semua orang percaya mempunyai kemampuan membedakan secara rohani. Mengapa?


Karena walau Anda orang percaya tapi bila Anda terus saja hidup dalam daging, terus saja tidak mentaati Allah, terus saja melanggar hukum-hukum Allah, terus saja merasionalisasikan cara hidup Anda, apakah mungkin Allah mau memberi Anda kemampuan membedakan secara rohani?



Roh Kudus tidak akan memberi Anda kemampuan membedakan pikiran Allah dari pikiran duniawi selama Anda terus saja hidup dalam daging, dan berseru kepada Allah hanya ketika menghadapi masalah. Itulah sebabnya Paulus menasehatkan agar kita hidup dalam Roh, tunduk kepada Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita dan yang mengenal pikiran Allah dengan sempurna (1 Korintus 2:10-11)


Nah, kita juga percaya bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah. Pertanyaannya adalah : Apakah firman Allah sudah tertanam di dalam hati kita? Dalam pikiran kita? Dalam roh kita? Dan apakah kita sudah tahu bagaimana menerapkannya dalam situasi tertentu?


Selama Anda hidup di dalam Roh, cara Allah memandang segalanya menjadi bagian dari cara Anda memandang segalanya.



Sehingga ketika seseorang datang kepada Anda membawa masalah, Anda langsung dapat membaca masalahnya. Sebagai orang percaya, jangan lupa bahwa Roh Kudus tinggal di dalam diri Anda dan siap untuk memberi Anda kemampuan untuk membedakan hikmat dunia dengan hikmat Allah, asal Anda benar-benar hidup dipimpin oleh Roh Allah!



1 Korintus 2: 14 : Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.


Manusia duniawi maksudnya adalah orang yang belum diselamatkan. Orang yang belum diselamatkan tidak dapat menerima hal-hal yang dari Roh Allah karena hal-hal itu baginya merupakan kebodohan, dan ia tidak dapat memahaminya.



Hal-hal yang dari Roh Allah hanya dapat dipahami secara rohani. Seseorang baru dapat memahaminya ketika Roh Allah sendiri menyatakannya. Itulah sebabnya orang yang belum diselamatkan tidak dapat memahami hal-hal yang dari Allah, dan menanggapnya sebagai kebodohan.



Lalu 1 Korintus 2:15 : Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.



Maksudnya begini, ketika kita yang sungguh percaya hidup di dalam Roh, segala penilaian kita akan didasarkan pada prinsip-prinsip moral dan etika Alkitab.


Segala proses pengambilan keputusan kita akan diwarnai dengan sikap ”bagaimana pandangan Allah dalam hal ini”? Sebab sebagai orang percaya yang hidup di dalam Roh, kita akan selalu ingin memandang segalanya seperti Allah sendiri memandangnya.



Sebagai orang percaya yang hidup di dalam Roh, kita memandang segalanya menurut prinsip-prinsip moral dan etika yang diajarkan dalam Alkitab. Baik keuangan kita maupun pekerjaan kita. Ada bidang-bidang pekerjaan yang tidak akan kita pilih karena tidak dibenarkan oleh moralitas Alkitab, oleh hubungan kita dengan Yesus Kristus. Ada hal-hal tertentu yang tidak akan kita ucapkan, dan tidak akan kita pikirkan, sebab kita berkomitmen kepada Yesus Kristus, dan kita akan selalu menilai segala sesuatu secara rohani, yaitu menurut tuntunan dan bimbingan Roh Kudus yang tinggal dalam kita. Dalam hal ini wajar kalau kita akan mengalami konflik dengan dunia. Dunia akan kesulitan menilai kita karena standar dunia tidak sama dengan standar kita. Kita mengambil keputusan-keputusan berdasarkan prinsip-prinsip rohani, kita dituntun oleh Roh Kudus untuk membedakan benar dengan salah, dan untuk membedakan mana kehendak dunia, mana kehendak Allah. Kita akan mengambil pilihan yang benar terlepas dari segala konsekwensinya. Terlepas dari siapa yang mungkin menjadi tersinggung, sebab dunia yang mempunyai standar yang berbeda dari kita tidak akan mungkin memahaminya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan : manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.


Artinya terlepas dari konflik yang kita alami, janganlah sampai kita mengikuti apa kata dunia, sebab kita hidup pada tingkatan yang sama sekali berbeda, menurut prinsip-prinsip yang sama sekali berbeda, menuju arah yang sama sekali berbeda.



Selama kita hidup di dalam Roh, akan selalu ada saatnya kita harus bersikap :”Beginilah sikap saya menurut firman Allah”.



Lalu ayat 16 : Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.


Anda kesulitan memiliki pikiran Kristus? Tanyakan pada diri sendiri : Apakah saya hidup di dalam Roh? Apakah saya tunduk pada bimbingan dan tuntunan Roh Kudus?



Cara menguji semuanya itu adalah begini : misalnya Anda memasuki suatu situasi di antara dua orang. Apabila Anda sungguh hidup di dalam Roh, anda akan mengetahui apa yang tidak beres dalam situasi tersebut, tanpa kehilangan belas kasih terhadap orang-orang yang terlibat, dan tanpa menjadi kritis. Apabila Anda menjadi kritis, hal itu berarti Anda tidak sedang hidup di dalam Roh, dan pertimbangan Anda untuk mengambil keputusan akan keliru.



Kita boleh mengakui :”Saya memiliki pikiran Kristus!” namun dengan asumsi bahwa hati kita bersih dan kita hidup di dalam Roh. Dengan memiliki pikiran Kristus, kita akan memandang segala hal seperti Allah memandangnya.



Jangan meragukan apa yang Allah tunjukkan kepada Anda. Yang pasti Allah tidak akan pernah memberitahukan apapun yang bertentangan dengan firman-Nya sendiri.



Apakah ada hal yang lebih berharga daripada memiliki pikiran Kristus? Memiliki pikiran Kristus artinya bahwa segala yang perlu Anda ketahui dalam kehidupan Kristiani Anda ; tentang maksud Allah dalam kehidupan Anda, tersedia bagi Anda pada waktu yang ditentukan Allah. Mengingat hal itu, apa tidak layak kalau Anda memastikan diri untuk selalu hidup di dalam Roh? Jadi, periksalah kehidupan Anda selama ini. Apabila Anda tetap hidup di dalam dosa, itu berarti Anda tidak menganggap bahwa pikiran Kristus merupakan sesuatu yang berharga untuk Anda miliki. Padahal dengan memiliki pikiran Kristus, Allah akan mengaruniakan kemampuan membedakan secara rohani dan menunjukkan kebenaran tentang segala sesuatu dalam kehidupan Anda.



Sumber :



Pengajaran Dr. Chales Stanley dari ”In Touch Ministry”.

Dibacakan di radio Sasando Jogjakarta tanggal 09 Pebruari 2008 jam 05.00 pagi.