Submitted by Sri Libe Suryapusoro on

 

Ada anak kecil yang diberikan uang jajan oleh orang tuanya. Tidak terlalu banyak. Anak ini setiap hari menabung dengan harapan dia bisa membeli sepeda. Ya, dia sangat menginginkan sepeda baru. Teman-temannya semua mempunyai sepeda bagus, hanya dirinya yang tidak mempunyainya. Bahkan karena keinginannya tersebut, tidak segan-segan anak ini membantu orang tuanya dengan harapan mendapatkan uang tambahan. Karena rajin, orang tuanya memberikan uang tambahan, persis seperti yang dia harapkan.

Suatu hari, kakaknya mengalami sakit keras. Orang tuanya pun mengeluarkan biaya yang sangat besar. Ternyata uang yang mereka miliki kurang. Biaya pengobatan sangat besar dan orang tuanya memerlukan uang tambahan. Anak tersebut bergumul,”bukankah ini uang saya? Ini adalah hak saya maka saya tidak mau memberikan untuk pengobatan kakak saya. Saya ingin sepeda karena itulah saya berusaha keras dan saya mendapatkan imbalan.”

Sebenarnya keadaan kita tidak jauh berbeda dengan anak terseut. Kita mendapatkan uang, entah dengan cara bekerja atau orang tua kita yang memberikan, kita mempunyai uang. Kita juga mempunyai sesuatu yang sangat kita inginkan. Itu bisa berupa HP baru, rumah, makanan, wisata ke suatu daerah, dan sebagainya. Kecenderungan manusia termasuk saya, menggunakan uang yang kita miliki untuk keinginan kita. Kita memang harus bertanggung jawab dalam menggunakan uang. Bertanggung jawab merupakan kata kunci dalam pengelolaan keuangan. Tetapi mengapa kita harus bertanggung jawab? Bukankah itu uang milik kita sendiri dan terserah kita dalam penggunaannya?

Rasa tanggung jawab bisa kita miliki kalau kita menyadari bahwa uang ataupun harta yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita. Semua itu adalah milik Allah dan kitalah pengelolanya. Kita memang bekerja, melakukan suatu usaha dan akhirnya mendapatkan uang. Sebagian dari kita berhikmat dalam penggunaannya lalu uang tersebut bisa menjadi rumah, kendaraan, atau mungkin investasi lainnya. Tetapi apakah kita mau menyadari bahwa semua itu diperolah atas ijin dari Allah? Bahwa semua itu adalah pemberian Allah? Saya berpendapat –dan Anda boleh berbeda pendapat dengan saya, semua harta itu sudah disediakan oleh Allah untuk kita. Sama seperti deposito di bank, kita sudah diberikan deposito oleh Allah, tentu saja atas nama kita. Jika kita lihat buku tabungan, sebenarnya tertulis banyak sekali uang di dalamnya. Hanay saja kita harus mengambilnya dan kita harus bertanggung jawab dalam penggunaannya.

Bagaimana cara mengambilnya? Sebelum manusia jatuh dalam dosa, kita langsung saja menikmatinya. Tetapi setelah itu ada prosedur yang harus kita lakukan untuk mengambil harta tersebut. Sama seperti ketika kita tidak bisa begitu saja mengambil uang di bank, demikian juga kita tidak bisa begitu saja menikmati harta tersebut. Beberapa orang harus bekerja keras, yang lainnya mendapatkan sebagai hadiah dari orang tuanya. Ada yang hanya mempu mengambil sedikit demi sedikit tetapi ada yang bisa mengambil banyak sekaligus. Ada yang mendapatkannya seperti orang beruntung misalnya menang undian, kuis, atau semacamnya tetapi ada yang harus kehilangan banyak terlebih dahulu sebelum mendapatkannya. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dan hasil yang berbeda pula. Tidak ada jalan yang bisa diberlakukan untuk semua orang. Lalu siapakah yang menentukan caranya? Menurut saya Allah-lah yang menentukannya. Berdasarkan apakah Allah menentukan hasilnya? Kembali menurut saya, berdasarkan seberapa bertanggung jawab orang tersebut.

Mungkin Anda menyangkal dengan memberikan bukti-bukti. Saya menyadari, banyak orang yang tidak bertanggung jawab tetapi memiliki harta yang melimpah. Anak orang kaya, hidup foya-foya, tidak pernah bekerja tetapi tetap kaya. Adakah yang seperti itu? Ada tetapi lihat saja, kehidupannya tidak bahagia. Dia ketakutan kehabisan uang. Dan sebenarnya uang mulai menjauh dari dirinya. Lihatlah terus maka tak lama lagi dia hidup dibawah kemiskinan. Bahkan beberapa diantara mereka mati mengenaskan (bisa karena narkoba, bunuh diri atau kecelakaan).

Penggunaan uang secara bertanggung jawab harus dilakukan bukan supaya kita mendapatkan lebih banyak uang lagi. Pertanggungjawaban dilakukan karena uang kita memang bukan milik kita melainkan milik Allah. Setiap harta kita adalah bentuk mandate dari Allah. Kita hanyalah pengelolanya. Kita memang mempunyai banyak keinginan, sama seperti anak di cerita diatas. Mungkin saat itu kita mempunyai uang tetapi ada orang dekat kita yang membutuhkan. Kita harus menyadari, uang kita bukan hak kita lagi melainkan hak Allah.

Komunikasi yang baik antara diri kita dengan Allah menjadi factor penting dalam pertanggungjawaban. Tidak semua keinginan harus dituruti bahkan kebutuhan pun tidak selalu harus dipenuhi. Saya sering berkonsultasi padaNya tentang penggunaan uang. Bahkan untuk hal-hal sepele seperti pembelian baju atau peralatan lainnya. Ketika HP saya rusak, saya tidak mau mengganti begitu saja. Saya tanyakan dulu ke Tuhan, apakah saya harus menggantinya? Sampai suatu hari saya mendapati bahwa HP saya tidak bisa dipakai sama sekali padahal saya membutuhkannya untuk berkomunikasi terutama dengan istri saya. Maklum saat itu saya ada di luar kota dan komunikasi kami hanyabisa dilakukan melalui HP. Saya berdoa, memutuskan, dan mencari. Saya meminta ke Tuhan untuk dia sendiri membantu saya dalam memutuskan HP seperti apa yang harus saya beli. Akhirnya saya memutuskan, HP yang tidak ada kamera. Karena berdasarkan pengalaman saya kamera di dalamnya sangat jarang saya gunakan. Saya berputar dari satu counter ke counter lain. Memegang suatu HP, mencoba, menawar dan memastikan ke Tuhan, apakah itu yang Dia inginkan untuk saya pakai? Beberapa HP sudah menunjukan kekurangan ketika saya memegangnya. Tidak sengaja atau lebih tepatnya Tuhan yang menunjukan kelemahan-kelemahan tersebut.

Komunikasi ke Tuhan menjadi bagian yang sangat penting dalam kita memutuskan tersebut. Mengetahui apa yang Tuhan inginkan, bergerak sesuai dengan keingianNya dan percaya penuh kepadaNya. Ada saat-saat kita akan diuji. Ketika itu saya dalam keadaan mempunyai sedikit uang. Tetapi ada seseorang yang sangat membutuhkan uang. Akhirnya kami (saya dan istri saya) memberikan bantuan setelah kami mendoakannya. Akibatnya memang kami harus berhemat untuk makan dan menahan diri untuk tidak melakukan pengeluaran banyak hal. Tetapi kami penuh suka cita karena kami tahu itu suatu bentuk pertanggungjawaban kami kepada Tuhan.

Kita hanyalah pengelola, seornag pengelola tidak berhak memutuskan banyak hal. Pengelola gedung, tidak berhak menjual gedung, pengelola bank juga tidak berhak memberikan uang ke orang lain diluar prosedur. Tuhan –sebagai pemilik- berhak menentukan untuk apa uang yang ada pada diri kita. Karena itu teruslah doakan ketika kita menggunakan uang kita. Dan gunakan dengan penuh tanggung jawab.

Seandainya saya menjadi anak kecil yang diceritakan diatas, saya akan datang ke orang tua saya. “Bapak, saya mempunyai uang sebesar sekian rupiah. Saya ingin membeli sepeda seperti teman-teman yang lain. Tetapi saya tahu, kakak sedang sakit dan membutuhkan banyak uang. Saya serahkan uang saya ke Bapak dan silahkan Bapak yang menentukan untuk apa uang ini digunakan.” Mungkin saja Bapaknya akan berkata,”Anakku, aku akan ambil uang ini terlebih dahulu dan bulan depan aku akan belikan kamu sepeda.”

Sebenarnya tidak terlalu penting jawaban Bapaknya. Yang penting anak tersebut sudah menggunakan uang tersebut secara bertanggung jawab. Dia memiliki tanggung jawab dan menganggap uang tersebut bukan haknya melainkan tetap hak orang tuanya. Saya berharap saya bisa seperti anak itu dan Bapa di surga adalah orang tua saya.