Beberapa hari lagi, tahun 2010 akan segera berlalu. Artinya satu dekade juga akan segera berlalu.
Jika kukilas balik, selama 10 tahun terakhir ini hidupku mengalami percepatan yang signifikan. Tadinya aku adalah seorang ibu rumah tangga yang harus mencuri-curi waktu agar bisa tetap melampiaskan semangat mengutak-atik aksara di sela-sela kesibukanku mengurus sendiri 2 anak balitaku.
Ketika 2 gadis kecilku menjadi lebih mandiri, dan aku punya sedikit lebih banyak waktu luang lagi untuk menjadi perajin kata, orang masih saja mengenalku sebagai "perempuan rumahan". Tak heran, karena sebagian besar waktu luang kupakai untuk melakukan pekerjaan terjemahan yang sifatnya seringkali konfidensial dan tidak boleh dipublikasikan seperti kurikulum sekolah tertentu, laporan auditing, manual-manual untuk suatu barang yang akan diluncurkan dll.
Hingga pada tahun 2000, jalan mulai terbuka bagiku untuk melakukan pekerjaan tulis menulis yang eksis di ruang publik. Namun aku merasakan semua jalan yang dibukakan itu bukanlah karena semata-mata kepiawaianku, tetapi karena memang sudah tiba waktunya bagiku untuk meninggalkan zona nyaman-yang selalu menjadi titik lemah dalam hidupku, dan yang sebenarnya adalah "zero ground" bagiku karena inilah titik terendah dalam hidupku-dan mulai mencoba naik "lebih tunggi". Dan jika Anda percaya kepada campur tangan Tuhan, maka pada titik ini Tuhan mengirimkan orang-orang yang memampukan aku untuk naik lebih tinggi di dalam banyak aspek dan di dalam banyak hal. Orang-orang ini kini menjadi sahabat-sahabatku dan merekalah guruku.
Untuk karya-karyaku yang beredar di ruang publik, aku berutang kepada seseorang karena dia membuatku yakin bahwa karya-karyaku bisa menembus ruang publik.
Pada mulanya dia bukanlah orang yang benar-benar mengenalku, namun dia selalu mengatakan padaku bahwa aku pasti "bisa".
Dia yang mendorongku membuat blog dan mengaktifkan akun twitterku.
Dia yang memperkenalkanku kepada bermacam-macam genre baru di dunia kepenulisan. Dia yang mengajariku seluk beluk dunia kepenulisan dan kepenerbitan jika kami sempat bertemu.
Dia juga yang secara tak langsung mengajariku bagaimana "mengasihi" orang lain dengan kelakuan bukan hanya dengan semboyan pada saat aku melihat dia memotivasi teman-teman lain yang karya-karyanya tak kunjung rampung. Aku belajar banyak ketika dia mengatakan kepada seorang teman, "Kapan nih melejitnya?" untuk memotivasi teman yang kehilangan semangat menyelesaikan karyanya. Tak lama kemudian, teman ini akhirnya berhasil menyelesaikan karyanya.
Dari dia aku juga belajar kejujuran dan keterbukaan ketika dia mengeritik karyaku. Karena dia mengeritik maka aku berusaha bangkit dan berusaha merentangkan kepakanku.
Kepada dia aku mengucapkan terima kasih. Aku berharap melewati dekade ini dia tidak berubah: menjalankan konsep kasih sekaligus profesionalisme.
Kepada dia aku ingin mengatakan:
Just want to THANK YOU for being there in my life whatever I might have meant to you.
PS: Saat ini aku masih menganggap diriku adalah ibu rumah tangga dan aku bangga menjadi "perempuan rumahan", namun hidupku kini lebih berwarna. Dan aku yakin setiap kita pasti pernah berjumpa dengan seseorang satu kali dalam hidup kita yang bisa membuka jalan agar hidup kita menjadi lebih berwarna.