Submitted by ebed_adonai on

Jeprat, jepret, jeprat, jepret...



Hampir ke mana pun kita pergi dewasa ini, biasanya ada saja pemandangan orang sedang memicingkan sebelah matanya menerawang jendela bidik, entah sambil berdiri, tiarap, atau bahkan njengking, asyik mengambil gambar demi gambar...



Ya, kesadaran fotografi di masyarakat kita saat ini memang sedang tinggi-tingginya, walau kadang (atau mungkin sering) tidak dibarengi dengan kesadaran untuk menghasilkan foto yang layak untuk dinikmati...

Hal ini, antara lain, ditunjang oleh semakin murahnya harga perangkat keras fotografi. Dengan kisaran 5 jutaan rupiah, anda sudah bisa membawa pulang satu kamera digital SLR lengkap dengan lensanya, dan siap untuk mengisi harddrive komputer anda dengan foto-foto hasil jepretan sendiri...

Namun perkara membangun sistem fotografi yang tepat memang bukan urusan yang mudah, di tengah-tengah serbuan berbagai tipe dan merek di pasaran saat ini. Bahkan bagi yang berkantong tebal sekalipun, tetap saja bukan urusan yang mudah. Apalagi yang pas-pasan kantongnya seperti saya.. :) Untuk itu, ijinkan saya menshare sedikit pengalaman kepada kekasih-kekasih di SS...

Sebelum bergerak lebih lanjut, ingin saya sampaikan bahwa tips ini secara sempit terbatas untuk kamera digital SLR (Single Lens Reflex) saja. Itu lho, kamera yang ada bunyi jeprat-jepretnya (tapi bukan efek shutter sound seperti di kamera ponsel). Bunyi itu dihasilkan oleh kaca pantul/refleks yang ada di dalam kamera, yang naik ke atas saat kita mengambil gambar. Dari situlah muncul istilah SLR tersebut. Dan keunggulan kamera SLR terletak pada kaca pantulnya itu, sehingga kita bisa melihat tepat seperti apa yang dilihat oleh lensa secara real time. Hal ini berbeda dengan kamera digital non SLR, yang sekarang rata-rata cuma menggunakan layar LCD untuk mengamati subyeknya, sehingga baterai cepat tekor, dan juga selalu ada lag/keterlambatan di layar panel jika subyek atau pemotret berubah posisi. Selain itu, membahas tentang kamera SLR artinya juga membahas sedikit mengenai lensa (lih. akronim SLR di atas), karena merupakan satu pasangan dalam penggunaan namun biasanya terpisah saat pembeliannya. Hal ini juga akan menjadi sangat penting, bagi yang memulai dari nol...

1.    Carilah merek yang ternama
    Perkaranya di sini adalah soal ketersediaan suku cadang maupun layanan purna jual. Sekarang banyak produsen yang menghasilkan perangkat yang murah namun berkualitas, sehingga kita bisa menghemat sejumlah uang. Namun sering pula, perangkat utama maupun asesorisnya sulit sekali dicari di pasaran kita. Mau cari lensa susah. Mau beli lampu kilatnya nggak ada. Jur piye? Belum lagi kalau suatu saat kita butuh jasa servis atau klaim garansi, tahu-tahu importirnya nggak jelas, hiiiyyy. Lebih bijak, kalau kita memilih pemain-pemain lama, yang sudah pengalaman bertahun-tahun, dan bertahun-tahun ke depan juga masih berproduksi. Artinya, lebih terjamin juga kelangsungan aktifitas fotografi kita.

2.    Belilah dari penjual yang punya reputasi baik
    Di sini kita bisa menanyakan pada teman-teman yang sudah punya pengalaman di daerah kita masing-masing, karena biasanya mereka yang lama bergerak di bidang fotografi sudah paham betul toko-toko yang kredibel. Jika suatu saat kita membutuhkan layanan purna jual atau tukar-tambah misalnya, toko yang baik pasti akan meladeni permintaan kita. Hal ini, menurut hemat saya, masih sering menjadi momok yang menakutkan bagi konsumen. Tidak jarang kita dengar cerita dimana orang harus menarik urat leher, atau bahkan sampai terlibat caci-maki, hanya gara-gara barang yang baru dibelinya ternyata apkir, dan sang penjual cuek beybeh.

3.    Kita tidak akan menjadi pemula selamanya
    Nah, ini die nih. Sering kita berpikir, ah, saya kan beli kamera digital SLR cuma untuk hepi-hepi aja. Motret sesekali. Itu pun cuma motret pacar atau narsis sendiri di kamar. Singkat kata, cuma pemula. Hemat aja daahhh. Cari yang paling murah. Namun terkadang progresi hidup berkata yang sebaliknya. Tergantung talenta dan sikon kita masing-masing, bisa saja satu atau dua bulan terhitung dari pembelian kamera, kita sudah merasa tidak puas dengan fitur maupun kualitas fabrikasi kamera yang kita pakai.
    Mau motret air muncrat, yang (mantapnya) dihasilkan dengan lampu kilat sinkron high speed 1/8000 detik, nggak bisa. Dibawa motret saat hujan rintik-rintik, ehh, rembes.. (hah, jan..). Mau ngeshoot beruntun cewek cakep pas lagi ngakak (yang biasanya ja'im banget), nggak sempet. Kenapa? Autofokusnya lemot. Kecepatan motret beruntunnya terlalu lambat. Macem-macem. Memang, faktor budjet pegang peranan penting dalam hal ini. Seandainya dana terbatas, ada baiknya kita menabung dulu, ketimbang buru-buru membeli, tahu-tahu menyesal di kemudian hari. Jadi kembali ke diri kita masing-masing saja. Kenalilah diri anda sendiri. Sekarang bagaimana, bulan depan bagaimana, tahun depan bagaimana. Ibarat kata lagunya Kotak, Pelan-pelannn Sajaaaa.......

4.    Telusuri kelemahannya
    Mirip dengan proses pra nikah, telusurilah dahulu kelemahan peralatan yang akan kita beli. Kelemahan? Yup. Kelemahan inilah yang berpotensi sangat menyusahkan kita di lapangan kelak. Kebanyakan orang cuma melihat spek keluaran pabrik, yang isinya cenderung mengedepankan keunggulan produk mereka. Setelah sekian lama menggunakan, baru ketahuan "borok"nya. Kalau jaman dahoeloe, sebelum ada internet, hal-hal seperti ini biasanya cuma bisa diketahui dari mulut ke mulut sesama pengguna. Sulit memang. Sekarang, hanya dengan satu jam duduk di depan kompie, kita sudah bisa banyak tahu tentang kekurangan sebuah produk. Di sinilah keuntungannya. Kalau kita tahu cacatnya sedari awal, kita bisa memutuskan lebih awal pula, jadi atau tidak kita membeli. Bisa kita terima atau tidak kekurangannya.
    Jika ditelaah lebih dalam, kamera digital jaman sekarang, berbeda sekali dengan kamera film dulu. Bukan. Bukan karena sekarang elektronik dahulu tidak (kalau dahulu lu lu sekali sih memang iya). Copot sistem perekaman gambar (digital)nya, maka tidak akan banyak bedanya kamera SLR sekarang dengan yang dari tahun '80-'90-an. Ini boleh didebat, tapi memang tidak ada quantum leap teknologi kamera dari era '80-an akhir hingga sekarang. Sampai kira-kira tahun '90-an, sebelum era kamera dengan sistem perekaman digital, jarang orang komplain tentang kehandalan sebuah kamera yang baru dibeli. Merek/tipe apa pun. Pagi beli, siang "dihajar", bertahun-tahun kemudian masih sehat-sehat. Tapi coba lihat sekarang. Yang pelepas rananya error, tidak bisa fokus, meter pencahayaan ngadat, dan sederet daftar kejelekan yang bikin keder hati yang membacanya. Padahal tuku anyar. Ada yang bilang itu terjadi karena kamera sekarang komponennya tidak mutu nomer satu seperti dulu (mungkin istilahnya sekarang KW ya?). Entahlah. Yang jelas, semakin banyak kita membaca review sebuah produk, semakin kecil kemungkinan kita dikecewakan olehnya di kemudian hari.

5.    Kenalilah scope aktifitas memotret
    Kita ntar bakal memotret apaan? Event apa saja? Di mana? Ini kaitannya terutama dengan lensa yang akan kita pakai. Secara hardware, jenis kamera memang punya peranan penting juga. Tapi bagaimanapun kualitas optiklah (=lensa) yang lebih menentukan. Dan satu fitur unggulan (lain) kamera SLR adalah kemampuannya untuk bebas bergonti-ganti pasangan tanpa kena sanksi moral atau hukum. Pasangan lensa maksudnya. Kalau dikaitkan dengan masalah budjet, ini juga menjadi masalah yang sensy.
    Kita mulai dengan sudut pandang normal ke depan mata manusia, tanpa plirak-plirik ke kiri atawa ke kanan. Kata mbah-mbahnya fotografi, kalau disimulasikan oleh lensa kamera SLR, itu artinya kita harus menggunakan lensa 50mm (untuk SLR dengan sensor full frame, seperti D3, D700, EOS-5D, EOS-1D, A900), atau 35mm (SLR sensor kecil, atau APS-C, seperti D90, D300, EOS-50D, K7, dll). Itu sudah enak untuk fotografi umum. Momen apa aja pas. Harganya juga tidak mahal-mahal amir, rata-rata berkisar antara 2-4 jutaan. Yang produk third party malah lebih murah lagi, dengan mutu yang tidak kalah bagusnya. Atau kalau mau menggunakan lensa asli tapi maunya murah, bisa juga memilih lensa zoom normal (dengan cakupan sudut agak lebar hingga tele pendek, seperti 18-55mm, 18-105mm, dll), yang biasanya dijual satu paket bersama kamera yang kita beli, sehingga keseluruhannya bisa lebih murah. Satu keuntungan lensa zoom adalah kita bisa menghindar dari maju-mundur saat memotret, walau mutu optiknya sedikit kalah dengan lensa prime.
    Anda senang fotografi lansekap atau nature? Kalau memang niatannya menghemat biaya, justru lupakan lensa-lensa yang disebutkan di atas, dan lewatkan saja rayuan gombal penjual antuk membeli paket murah kamera dengan lensa bawaannya tadi. Dalam dunia fotografi lansekap/nature, kalau tidak mencari sudut pandang yang luas, ya mendekatkan subyek yang jauh. Beli lensa-lensa zoom atau prime yang bersudut lebar (sekitar 20 atau 18mm ke bawah, bisa 16-35mm, 10-24mm, dll) dan tele (biasanya 70mm ke atas, antara lain 70-200mm, 70-300mm, 80-400mm, dll). That's all you need.
    Suka kelayapan di tengah malam, butuh lensa yang optiknya kuat (sehingga akurasi autofokus lebih baik)? Seneng bikin foto portrait, dengan subyek yang tajam dan background yang blur abis? Atau sering motret outdoor di tengah-tengah kondisi buruk (seperti erupsi Merapi beberapa waktu lalu)? Mungkin lensa-lensa zoom atau prime dengan f/stop 2.8 (diafragma bukaan besar, cahaya yang masuk lebih banyak) cocok untuk anda. Biasanya produsen-produsen perangkat fotografi membuat lensa-lensa f/stop 2.8 dengan material yang lebih baik ketimbang lensa-lensa tipe lainnya (bahan utama logam, ada gasketnya, sehingga air/debu tidak gampang menerobos). Para fotojurnalis biasanya memakai lensa jenis ini. Namun berbarengan dengan kualitas seperti itu, harganya juga meroket. Tidak jarang, lensanya jauh lebih mahal ketimbang kameranya. Melihat harganya saja sudah bikin ngeri. Dari yang belasan juta rupiah hingga yang seharga perumahan mewah. Adalah lebih baik memang, membeli kamera yang semurah-murahnya dengan lensa yang sebaik-baiknya, ketimbang sebaliknya, kalau tidak bisa dua-duanya yang terbaik sekalian. Namun sekali lagi, anda yang paling tahu apa yang dibutuhkan dan kondisi saku anda sendiri.
    Dan jangan lupa pula faktor pembesaran gambar. Gambar-gambar yang dihasilkan olen kamera SLR dengan sensor APS-C punya rasio pembesaran sekitar 1.5x dibanding dengan kamera SLR bersensor fullframe. Seperti contoh di atas, lensa 35mm untuk sensor APS-C menghasilkan gambar yang kurang-lebih setara dengan lensa 50mm untuk sensor fullframe. Padahal untuk sensor fullframe, lensa 35mm itu masih tergolong sudut lebar, dan sebaliknya, 50mm untuk sensor APS-C sudah masuk ke rentang tele. Do the math, and you'll know the result..

[PS :Sebenarnya masih ada kombinasi lensa-kamera SLR yang lebih kecil lagi ukuran sensornya (format 4/3, atau fourthird). Ada juga kamera yang tergolong SLR, tapi kaca pantulnya tidak naik ke atas saat memotret (pellicle mirror). Namun untuk pasaran Indonesia sekarang ini rasa-rasanya tidak begitu populer dan masih sulit dicari. Karena itu saya tidak membahasnya di artikel ini]

6.    Pikirkan peranti pendukungnya
    Lhaaa, ini juga yang sering dilupakan orang. Kamera ne apik. Lensanya mantap, besar, berat, bisa jadi senjata darurat kalau pas dikejar anjing, atau jadi pemberat kertas, terserah. Ealaaaahh, tripod malah ora duwe. Punya pun tipe yang mungil, yang sering goyang Inul, membuat gambar jadi blur semua. Lampu kilat tambahan nggak ada. Pas lagi motret indoor yang agak luas ruangannya lampu kilat internal kamera (ada yang nggak punya lampu kilat internal lho, hati-hati) udah nggak sanggup. Kompie juga konfigurasinya standar banget. Ngedit foto ditinggal mandi pun masih belum selesai ngerendernya. Sueeee banget.. :). Tanpa bermaksud menyinggung, urusan komputer ini juga tak kalah pentingnya dengan perangkat fotografinya sendiri (ini satu hal yang membedakan era film dengan perekaman digital). Apalagi kalau kita sudah masuk dunia fotografi komersil. Wahhh, susah. Bisa diomeli orang, karena kerjaan nggak beres.
    Jadi sebelum memutuskan untuk membeli kamera-lensa tertentu, anggarkan juga sedapat-dapatnya untuk hal-hal basic (namun sangat dibutuhkan) seperti: upgrade komputer/laptop (sesuaikan dengan spek software fotografi anda), batere tambahan, dengan perangkat chargernya sekalian kalau memungkinkan, memory card ekstra, filter (paling tidak untuk melindungi bagian depan lensa), lampu kilat eksternal, tripod (perhatikan beban terberat kombo perangkat fotografi anda yang sanggup ditopang tripodnya), dan tas penyimpanan yang baik. Semua produk yang disebutkan tadi rata-rata ada keluaran third partynya. Biasanya buatan RRC atau Taiwan, murah meriah. Jangan kuatir. Relatif aman kok. Sudah banyak yang mencoba. Untuk soal tas, dari info teman-teman, sudah ada produsen home industry lokal yang khusus membuat tas-tas kamera yang mutunya baik, namun harganya jauh lebih murah dibanding barang impor seperti Lo*ePro atau D*lsey.



Begitu dulu kekasih-kekasih, sekelumit tips dari saya. Sudah banyak yang mengupload artikel sejenis di dunia maya. Moga-moga junk yang saya bagikan bisa sedikit melengkapi dari yang sudah ada. Senang bisa berbagi dengan kekasih-kekasih semua. Maaf untuk kata-kata yang kurang berkenan dan info-info yang kurang akurat...

Ok, silakan berburu kamera dan asesorisnya (toko-toko banyak yang masih memasang harga akhir tahun tuh), dan..., jangan lupa..., it's all about the man behind the gun, not the gear...

Selamat mengabadikan keindahan yang Gusti Allah ciptakan di sekitar kita...

Selamat berkarya...!!