Kita tidak bisa menentukan kapan dan pada siapa kita jatuh cinta. Sebaliknya, kita tidak pernah tahu siapa dan kapan yang entah bagaimana terjerat dalam pesona kita. Jika ada satu hal yang dapat dipastikan dalam urusan ini, hal itu adalah ketidakpastian itu sendiri. Ini adalah lelucon yang telah ada sejak masa purba dan masih bertahan hingga era kini.
Lelucon itu juga terjadi dalam hidup saya. Lelucon yang entah dimana letak kelucuannya. Baru akhir-akhir inilah saya bisa menertawakan komedi yang sudah terpentas beberapa kali dalam hidup saya. Jujur saja, lelucon itu tak sepenuhnya lucu; bahkan dalam komedi sekalipun terkadang terselip tragedi seperti dalam cerita-cerita gubahan Chekov sang sastrawan Rusia itu.
Babak-babak komedi itu tersaji pada deretan pria manis yang pernah menjadi ”target operasi” saya. Jangan tanyakan kriteria. Saya tidak punya. Hati itu bergetar begitu saja ketika menemui target yang tepat. Mungkin itulah yang disebut chemistry ; sama halnya ketika dua unsur ”memutuskan bersenyawa” untuk mencapai stabilitas mirip golongan gas mulia. Seperti yang sebatas dapat saya ingat dari pelajaran Kimia di sekolah menengah dulu. Anehnya, deretan pria-pria manis itu hampir tidak pernah merasakan chemistry itu. Dan karena cinta itu tidak selalu menggenggam, maka getaran itu pun akhirnya menjadi sunyi kembali – karena cinta tak pernah memaksa.
Parodi lain yang terpentas dalam ”karier cinta” saya adalah kebalikan dari babak-babak komedi yang berkisah tentang getaran tak terbalas itu. Bila setiap orang diibaratkan sebagai magnet yang menarik objek-objek tertentu di sekitarnya, agaknya saya selalu menarik objek yang tak terduga. Objek yang salah karena tidak ada getaran itu ketika ia datang. Saya belum paham benar apa yang sebenarnya dimaksud dengan cinta, tapi saya tahu begitu saja bahwa saya tidak mencintai kumbang-kumbang yang entah bagaimana begitu malangnya ”terjebak” dalam perasaannya dengan saya. Menolak terkadang lebih menyakitkan ketimbang ketidakberanian menyampaikan hasrat cinta itu.
Cinta memang parodi konyol yang tidak kenal tega memilih targetnya. Dan parodi itu tengah terjadi lagi.....
Entah apa yang membuatnya begitu yakin bahwa saya cukup layak untuk diperjuangkan. Entah apa pula yang membuatnya yakin saya dapat menjadi penolongnya. Beberapa kali membantunya membaca angka olahan statistik tidak lantas berarti saya dapat banyak membantu dalam hal lain. Toh, banyak orang lain yang dapat melakukannya dengan lebih baik. Pria itu pun boleh dikatakan memiliki penampilan menarik. Saya tahu banyak gadis yang mengejarnya atau sekedar berharap ia sudi memberikan sedikit ruang di hidupnya untuk disinggahi. Tidak sulit baginya untuk memetik bunga manapun yang elok dan semerbak. Karenanya, saya kaget bukan kepalang ketika dia dengan mantap memutuskan untuk memilih saya – sosok yang biasa-biasa saja.
Saya mengasihinya. Tapi kasih itu sebatas kasih seorang teman. Kasih yang sama yang saya taruh untuk teman-teman saya lainnya. Tidak ada getaran itu, dan tidak ada keinginan untuk mengkhianati kasih pertemanan itu. Dia memang baik – bahkan terlalu baik buat saya. Tapi saya tidak punya cinta itu untuknya. Saya tidak bisa memberikan hati saya buat dia. Namun, saya juga tidak sanggup meremukkan hatinya dengan sebuah penolakan. Dia terlalu rapuh untuk dapat menerima sebuah penolakan.
Saya bingung ....
Jika I Korintus 13:13 menyatakan bahwa ,” ... dan yang paling besar di antaranya ialah kasih,” bagaimanakan kiranya menolak sebuah cinta dengan penuh kasih?
Sayup terngiang sepenggal lirik lagu milik Peterpan:
”kukatakan dengan indah
Dengan terbuka
Hatiku hampa....
Sepertinya luka
Menghampirinya...”