Submitted by clara_anita on

Saya ingat ketika kami tinggal di wilayah "pedesaan", ibu memelihara beberapa ekor ayam. Sebagai anak-anak yang selalu ingin tahu, kami selalu memantau perkembangan ayam-ayam kami, mulai dari telur hingga menjadi induk ayam yang dewasa.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah perilaku induk ayam setelah menetaskan telur-telurnya. Kalau semula induk ini begitu tenang seketika itu juga ia berubah menjadi agresif. Coba saja mendekatinya, saya pastikan tidak ada yang dapat lolos dari patukan si induk yang sangat protektif pada anak-anaknya.

Saking sayang pada anak-anaknya, si induk selalu mencarikan makanan dan menyediakan kedua sayapnya untuk menaungi anak-anaknya. Di mana ada si induk di situ pula anak-anak ayam yang begitu bergantung pada si induk.

Naasnya, suatu hari induk ayam kami tiba-tiba "meninggal dunia" akibat nekat menyebrangi pagar bambu kandangnya dan gagal. Induk itu kemudian berakhir di atas meja makan kami. Kehilangan induknya, anak-anak ayam kami bingung. Satu-persatu anak ayam kami mati, dan pada akhir minggu itu tak satupun anak ayam yang tersisa. Ternyata anak-anak itu tak bisa hidup tanpa induknya. Saat sang induk mati, anak-anak pun mati.

Saya kemudian teringat akan induk elang. Metode yang digunakannya untuk mengajar anak-anaknya boleh dikatakan kejam. Ia akan "mengusir" anaknya dengan membuat sarang terasa tidak nyaman, bahkan ia akan menjatuhkan anak-anaknya dari sarang yang notabene berada di ketinggian. Kedengarannya kejam, tapi itulah perwujudan kasih induk elang pada anak-anaknya. Dalam keadaan yang sedemikian, anak-anak elang itu terpaksa mengepakkan sayapnya untuk terbang. Pada saat sang anak terjun bebas menuju bumi, si induk mengamati dari atas dan pada saat yang tepat ia akan menyambar si anak dan kemudian menjatuhkannya lagi. Pada akhirnya, elang muda itu kemudian akan menjadi piawai mengarungi dirgantara bahkan saat sang ibu tidak ada di sana.

Dua pola pengasuhan yang jauh berbeda, demikian pula hasilnya. Garis merah dari kedua pola pengasuhan ini adalah kasih sayang. Kasih sayang sering diejawantahkan secara berbeda. Ada yang menterjemahkan kasih seperti induk ayam yang selalu berupaya agar sang anak terhindar dari masalah dan rasa sakit. Ada pula yang serupa induk elang yang menunjukkan kasih dengan memaparkan anak pada keadaan nyata dan memberinya kesempatan untuk belajar dari setiap pengalaman jatuh, takut, dan terluka. Tentunya model pengasuhan kedua menghasilkan anak-anak yang lebih dewasa dan mandiri, sehingga saat sang ibu pergi anak-anak tetap dapat bertahan hidup.

Saya sangat bersyukur Bapa Sorgawi kita mengasuh kita layaknya induk elang. Ia membiarkan kita jatuh dan terluka, tapi tetap menjaga kita. Ia tahu batas kemampuan kita. Suatu saat kita akan menjadi kuat dalam mengarungi hidup.

Terima kasih karena kasih Tuhan adalah kasih yang membebaskan kita dari ketidakberdayaan....

Bukan kasih yang memanjakan dan melumpuhkan...