Submitted by clara_anita on

Senin 26 Mei 2008; pukul 17.50 WIB.

Matahari sudah mulai undur diri dari langit sore itu meskipun langit mulai meremang. Kampus hijauku sudah mulai sepi. Pasalnya, selain karena pekan ini masih terbilang pekan liburan, teman-teman yang sedang mengambil program semester pendek pun telah undur diri. Dalam keremangan senja dan lengangnya suasana, kampus sebenarnya nampak cantik.

Aku sendiri kala itu sedang duduk menikmati keindahan di tepi lapangan sepak bola itu bersama beberapa orang teman jurusan sosial politik sembari berusaha keras "mencerna" pembicaraan yang menurut saya berat. Ya, maklum saja. Namanya juga orang sosial politik, selalu saja peka menanggapi fenomena-fenomena baru dengan berbagai pandangan yang masih sangat asing bagi saya. Meskipun topiknya sangat berat, saya tetap penasaran pada pandangan teman-teman yang sangat baru buat saya. Itulah sebabnya saya berbetah-betah mendengarkan obrolan itu semenjak satu jam lalu.

Seiring merangkaknya waktu teman-teman pun pulang satu per satu. Mula-mula dua orang rekan perempuan, disusul tiga orang rekan laki-laki, dan terakhir menyisakan saya dan tiga rekan laki-laki. Di tengah obrolan yang terbilang seru (meskipun saya masih berjuang menangkap maknanya) teman saya menerima panggilan darurat untuk segera pulang ; "Nek bali mampir tuku amox. Cat kuning pincang" (pulang nanti tolong mampir membeli amoxicilin untuk si kucing kuning yang pincang). Begitulah bunyi pesan itu, dan singkat kata si kucing kuning temanku mengalahkan teori kompetisi kekuasaan.

Akhirnya kami sepakat membubarkan diri. Ketiga teman menuju rumah, dan saya memutuskan untuk singgah sebentar ke ruang baca untuk sekedar browsing. Ruang baca di lantai 1 gedung G benar-benar lengang kala itu. Hanya ada satu pengunjung berkaus kuning yang sedang asyik membuka-buka halaman majalah Tempo dengan santai. Tak lama, saya pun mulai asyik menelusuri dunia maya hingga tiba-tiba saya teringat akan sebuah buku yang disarankan oleh teman-teman sospol tadi. Saya pun bergegas mencari buku itu di rak namun ternyata buku itu memang lumayan sulit dicari.

Ketika saya beranjak dari satu rak ke rak yang lain, pengunjung berkaos kuning itu pergi meninggalkan ruang sehingga saya praktis sendirian di ruang itu. Pasalnya, Pak Yusi, penjaga ruang, juga tengah menikmati obrolan santainya tepat di luar ruang. Saya tenang saja karena ini bukan kali pertama saya menjadi pengunjung terakhir. Misi mencari buku pun saya lanjutkan. Saya mencapai rak yang letaknya agak tersembunyi. Ketika saya tengah menelusuri buku-buku di rak, tiba-tiba saya merasa bahu saya disentuh dari belakang. Tidak mungkin, pikir saya. Pasalnya, ada rak lain yang di belakang saya dan jarak antar dua rak itu terbilang sempit. Kesimpulannya tak mungkin ada orang di belakang saya.

Wah... ternyata iman saya belum cukup kuat juga. Meskipun baru upgrade iman di gereja minggu kemarin tetap saja saya takut. Begitupun, saya tetap pasang sikap "pura-pura" tenang dan berjalan menuju pintu keluar mencari Yusi. Begitu saya melongok keluar, Pak Yusi dan dua orang laboran lab komputer yang sedang asyik mengobrol langsung menghentikan obrolannya. Mungkin, meskipun pura-pura tenang, wajah saya tetap terlihat aneh.

"Ada apa mbak?" sontak mereka bertanya.

"Nggak... nggak ada apa-apa kok Pak," jawab saya sambil berusaha berpikir positif. Mungkin itu hanya angin, atau hanya halusinasi saya saja. Tapi ketiga bapak itu justru tidak mendukung pemikiran positif saya. Mereka justru bertanya ,"Diajak kenalan sama yang "nunggu" sini ya mbak"

"Ah, bapak bercanda kan?"

"Serius lho mbak. Saya kan jaga di sini setiap hari sampai jam delapan malam. Beneran ada lho."

dan kedua bapak laboran pun ikut menimpali.

Waduh... seketika pikiran positif saya hilang entah kemana. Buru-burulah saya berkemas pulang.

"Santai saja mbak, nggak usah takut! Kan udah ditemani tiga jejaka ganteng," canda Pak Yusi. Mungkin dia melihat ketakutan di wajahku.

"Nggak deh pak. Saya pulang aja sekarang."

"Bener.. di luar gelap lho. Lampu mati dari siang. Kita disini kan pake genset," sahut Pak Yusi dengan nada menggoda

Duh .... Bapak satu ini memang doyan bercanda dengan pengunjung setia ruang baca, tapi kali ini nggak lucu babar blas.

"Tak anter ya," tawarnya lagi. Tawaran yang tidak mungkin karena dia masih bertugas.

"Nggak usah deh Pak," tolak saya. Di pikiran saya kala itu: hi.... di luar gelap, dan saya harus pulang jalan kaki lewat kuburan....

"Saya berani kok Pak," dalam hati saya teriak BOHONGGGG

" Ya sudah Mbak, nggak usah dipikirin. Mungkin penghuni sini ngefans sama mbak Nita."

"Duh... ini Bapak, yang bener aja."

... dan akhirnya dengan sikap "sok" tenang dan jantung berdebar-debar saya  pulang juga ke rumah. Kembali saya mencoba memikirkan beberapa kemungkinan; mungkin AC nya terlalu dingin, mungkin saya berhalusinasi karena lupa makan siang, mungkin saya merasa agak lelah, atau mungkin Pak Yusi benar...

Duh, bagaimana caranya supaya saya tidak takut pulang ya? Akhirnya saya menyanyikan keras-keras Mazmur 23 dalam kepala saya (sepertinya agak nggak nyambung ya). Tuhan adalah gembalaku . . .

Sekarang saya sudah merasa agak tenang, tapi masih penasaran.

Sebenarnya hantu itu ada tidak ya?

Ah... sudahlah saya tak mau berusaha menjawab rasa penasaran saya.