Submitted by
hai hai
on
Selama ribuan tahun bangsa Yahudi merayakan Sabat pada hari ketujuh (Yom Shabbat) sesuai kalender Yahudi. Sementara Umat Kristen sejak abad pertama merayakan Sabat pada hari Minggu (hari pertama) sesuai kalender Masehi. Saat ini sebagian besar umat Kristen merayakan Sabat pada hari Minggu sebagian kecil lainnya merayakan Sabat pada hari Sabtu sesuai kalender Masehi. Merayakan Sabat pada hari Minggu dikaitkan pada pemikiran, bahwa Yesus Kristus bangkit dari kematian pada hari minggu. merayakan Sabat pada hari Sabtu mengaitkannya pada pemikiran, bahwa hari Sabat adalah hari ketujuh, bukan hari pertama. Sebagian Theolog mengajarkan bahwa sejak kebangkitan Yesus Kristus, perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah tidak berlaku lagi. Apakah perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah ini sudah tidak berlaku lagi? Apakah umat Kristen sudah melanggar perintah untuk menguduskan hari sabat?
HARI SABAT PERJANJIAN LAMA
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. Keluaran 20:9-11
Perayaan hari Sabat adalah peringatan hari ke tujuh, hari Tuhan selesai mencipta alam semesta. Mengingat dan menguduskan hari Sabat adalah perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah. Alkitab Perjanjian Lama mencatat tiga jenis hukum yang berlaku bagi bangsa Yahudi, yaitu Hukum Taurat atau Sepuluh Perintah Allah, hukum tata ibadah dan hukum masyarakat. Sepuluh Perintah Allah dianggap sebagai hukum yang paling suci karena ditulis sendiri oleh tangan Allah pada dua loh batu, sedangkan hukum tata ibadah dan hukum masyarakat diberikan melalui nabi Musa.
Perayaan Sabat adalah perayaan agama yang paling suci bagi bangsa Israel. Perayaan Sabat dimulai saat matahari tenggelam pada hari Jumat hingga Sabtu malam ketika 3 bintang muncul di langit. Bangsa Israel merayakan hari Sabat sebagai peringatan atas tiga hal yaitu:
- selesainya penciptaan alam semesta oleh Allah pada hari ketujuh.
- hari pembebasan dari perbudakan bangsa Mesir.
- kerinduan akan kedatangan Mesias.
Bangsa Israel merayakan Sabat dengan melakukan tiga hal yaitu:
- menghentikan semua aktivitas sehari-hari. Secara umum ada 39 aktivitas yang pantang dilakukan.
- Hanya makan menu tertentu.
- melakukan ibadah di Sinagoge pada Jumat Malam dan Sabtu pagi.
BERLAKU HINGGA HARI KIAMAT
Matius 12:1-15 mencatat, Yesus membela murid-muridNya yang memetik gandum pada hari Sabat, bahkan di sinagoge Ia menerima tantangan orang Farisi dan menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangan. Lebih lanjut Yesus bahkan menyatakan bahwa Dialah Tuhan atas hari Sabat. Walaupun sebagian orang Kristen menafsirkan kisah tersebut sebagai bukti bahwa perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah, sudah tidak berlaku lagi, namun pendapat tersebut salah sama sekali. Dalam kisah tersebut, Yesus tidak menentang, namun menunjukkan bahwa orang Farisi memiliki pemahaman yang salah tentang perayaan Sabat sekaligus menunjukan makna sebenarnya.
Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” Matius 5:17
Paulus berkata, “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” Roma 3:31
Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Perintah mengingat dan menguduskan hari Sabat dihapuskan. Bahkan, Yesus Kristus dengan tegas dan jelas menyatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah akan berlaku hingga hari Kiamat. Rasul Paulus menyatakan bahwa iman tidak membatalkan hukum Taurat, justru meneguhkannya.
SABAT PERJANJIAN BARU
Umat Kristen sejak jaman para Rasul merayakan Sabat pada hari minggu. Umat Kristen merayakan Sabat untuk memperingati:
- Selesainya penciptaan alam semesta oleh Allah pada hari ketujuh.
- Selesainya pekerjaan penebusan oleh Kristus, kebangkitan Kristus dari kematian pada hari ketiga.
- Kerinduan akan kedatangan Kristus yang kedua kali
Umat Kristen merayakan Sabat dengan mengikuti kebaktian di gereja pada hari minggu dan menyebut hari itu sebagai Hari Tuhan.
Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Kisah 20:7
Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing -- sesuai dengan apa yang kamu peroleh -- menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. I Korintus 16:2
Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala, Wahyu 1:10
HARI SABAT BUKAN HARI SABTU
Dewasa ini, banyak orang yang menuduh, bahwa umat Kristiani telah melanggar perintah keempat dari Sepuluh Perintah Allah, Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Orang-orang demikian sampai pada kesimpulan demikian karena menganggap hari Sabat adalah hari Sabtu, sedangkan orang Kristen ke gereja pada hari minggu dan tetap melakukan banyak kegiatan pada hari minggu. Benarkah hari Sabat adalah hari Sabtu? Hari ketujuh dalam kalender Yahudi dan hari ketujuh dalam kalender masehi?
Alkitab mencatat, Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari dan berhenti pada hari ketujuh. Namun, kita harus menyadari bahwa tidak ada ayat Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian baru yang menyatakan bahwa hari ketujuh tersebut adalah hari Sabtu dalam kalender masehi atau hari Yom Shabbat dalam kalender Yahudi.
Ketika mempelajari sejarah kalender, kita dihadapkan pada kenyataan, bahwa dari generasi ke generasi baik kalender Yahudi maupun kalender masehi mengalami berbagai penyempurnaan, itu berarti hari Sabtu saat ini belum tentu hari Sabtu beberapa abad yang lalu. Di samping itu, Alkitab hanya mencatat, bahwa Allah memerintahkan bangsa Israel mengingat dan menguduskan hari Sabat, sebagai peringatan Allah berhenti mencipta pada hari ketujuh, namun tidak pernah menyatakan bahwa hari tersebut adalah hari Yom Shabbat dalam kalender Yahudi. Bangsa Israellah yang memilih hari ketujuh dalam sistem kalender mereka sebagai hari untuk merayakan hari Shabat.
Ketika para Rasul menetapkan hari Minggu sebagai Hari Tuhan, hari untuk merayakan Sabat, mustahil mereka melakukannya untuk melanggar hukum Taurat, sebab bila hal itu yang terjadi, mustahil Paulus mengajarkan bahwa, Paulus berkata,
“Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya” Roma 3:31
Apabila kita membandingkan makna perayaan Sabat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka kita dengan mudah menyimpulkan, bahwa mengubah perayaan Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan tetap merayakan Sabat pada hari Sabtu.
Bolehkah merayakan hari Sabat pada hari lain selain Minggu? Anda akan mendapatkan jawabannya ketika membaca tulisan Hari Sabat Bukan Hari Minggu, silahkan klik di sini.