Beberapa blogger di SS sudah menulis tentang indah, asyik dan menyenangkannya memiliki anak. Seri tulisan di blog Purnomo terakhir mengungkapkan betapa seorang ibu bahkan bersedia mati demi memiliki seorang anak lagi. Luar biasa! Sepertinya, memiliki anak adalah keinginan setiap orang.
Tetapi, tidak begitu di Amerika Serikat. Di sana angka kelahiran menurun, karena semakin banyak penduduknya tidak lagi suka punya anak.
Mengapa ?
Seorang kolumnis menulis, bahwa pada mulanya orang-orang mendapatkan anak sebagai byproduct dari suatu aktivitas yang menyenangkan hati. Akh, saya kutip langsung sajalah : Long ago, as we all know, human had children because they liked having sex and because children had some value as assistant hunters and gatherers and keepers of the the hearth. [...] Now we can have have sex without having children. Now that is a major factor in life, but by itself it does not explain why people do not necessarily want to have kids. ("Assessing the Net Value of Children" by Ben Stein, FORTUNE September 14, 2009)
Kembali ke pertanyaan tadi : mengapa orang-orang tidak lagi ingin punya anak ? Sepasang suami isteri yang saya kenal baik sudah bertahun-tahun menunda untuk memiliki anak. Alasannya sama dengan alasan yang diajukan orang-orang di Amerika Serikat.
Biaya! Membesarkan anak pastilah perlu biaya : sandang, pangan dan papan ( plus pulsa handphone, in many cases :-) adalah kebutuhan primer yang tak murah.
Tetapi, yang paling mahal adalah biaya pendidikan. Setiap tahun awal ajaran baru para orang-tua dipusingkan oleh biaya pendaftaran, uang sekolah, uang buku, uang praktikum, uang OSIS, uang ekskul.... Mulai dari TK (atau play-group) hingga jadi sarjana (atau master) - selama 15 tahun hingga 18 tahun - seorang anak akan menyedot sumber daya finansial orang-tua untuk biaya pendidikan formalnya.
Di luar itu, masih ada lagi uang les sana-sini, entah les tambahan sekolah (matematika, bahasa inggeris, bahasa mandarin, sempoa, komputer, bimbingan test etc etc) atau les non-pelajaran sekolah mulai dari piano, vokal, drama, beladiri, balet, renang,... Sekali waktu ketika menemani putri saya berenang saya bertemu seorang anak kelas 5 SD yang - menurut inang pengasuh yang khusus menjagainya - mengikuti lima jenis les di luar sekolah. Saya hitung-hitung, pengeluaran untuk satu orang anak itu saja lebih besar dari pendapatan saya per bulan.
Tambahkan lagi ke dalamnya biaya liburan dan hiburan (play station, koleksi boneka Barbie, koleksi DVD, koleksi mobil-mobilan dan robot-robotan,...).
Ada yang pernah menghitung ? Saya belum.
Tapi, menurut Ben Stein, orang-orang middle-upper class di Amerika Serikat sangat menyadari tingginya biaya memiliki dan membesarkan anak. Selain biaya sekolah yang mahal (konon menyekolahkan anak di private college dapat menguras kocek orang-tua sekitar $70,000 per tahun), mereka juga mulai ogah menjadi unpaid chauffeur yang mengantar anak-anak ke berbagai aktivitas sekolah dan sosial mereka.
Setelah mengeluarkan begitu banyak biaya dan mengorbankan waktu, karir dan perasaan apakah yang didapatkan orang-tua ? Saya kutip lagi tulisan Stein supaya afdol : "You might have a son with a law degree who cannot get a job, a daughter with a film-school degree who works as a masseuse, or a musician who keeps you up all night with his drums." Lebih tragis lagi... You are likely to have one who cannnot spell "gratitude"..... Nah lo...
Terlalu banyak beban. Terlalu banyak biaya, terlalu sedikit manfaat. Para pasangan dewasa di Amerika Serikat melihat "net value" seorang anak sekarang ini begitu rendah. Dalam dunia bisnis, jika "net value" suatu proyek atau usaha rendah apalagi negatif, maka orang tak mau berinvestasi di dalamnya. Itulah sebabnya, Stein mensinyalir, mengapa orang-orang di AS (khususnya dari kalangan middle-upper class) enggan punya anak.
Membaca tulisan kawan-kawan di SS yang begitu mencintai, membanggakan dan sangat menikmati keberadaan anak-anak mereka (Jolie dengan Claire-nya, JF dengan Jesse-nya, Hai-hai dengan Wisely-nya, Purnomo dengan dua Puteri-nya,...,begitu juga dengan para bapa dan ibu yang lain seperti Debu Tanah, Billy Octora, Evylia Hardy,... the list goes on), saya percaya bahwa mereka tak pernah berhitung-hitung tentang net-value anak-anak mereka.
Demikian juga Tuhan; Ia tak pernah menghitung net value saya sebagai anakNya. Jika Dia melakukan itu, pastilah saya sangat tak layak. Cost berupa darah Yesus yang ditumpahkan di kayu salib terlalu tinggi dibandingkan benefit yang didapat Tuhan dari menjadikan seorang pecundang seperti saya sebagai anakNya. Sungguh Tuhan adalah Bapa yang baik!
- bygrace -
09.09.09