Submitted by Tante Paku on

http://prismanalumsari.files.wordpress.com/2007/04/gusdur-jenaka.jpg

     ORANG CERDAS SUKA HUMOR,bahasa iklan ini rasanya tepat ditujukan buat tokoh nasional yang akrab disapa Gusdur. Gus Dur yang selama ini dikenal sebagai PENDEKAR PLURALISME POLITIK dan AGAMA, corak kepemimpinannya sangat mewarnai republik ini. Secara jelas beliau memimpin di depan hal perubahan mendasar corak hubungan mendasar antara agama, negara dan sekaligus posisi agama dalam wilayah publik di masa depan.Gus Dur mampu mengelola itu menjadi sebuah mozaik pluralisme yang berkeadaban. Sayang agenda tersebut belum berhasil dituntaskan karena beliau keburu pulang ke Rahmatullah.

     
     Gus Dur hampir tak bisa dipisahkan sebagai pribadi pada satu sisi dan sebagai kenyataan sosial pada sisi lain. Pernyataan-pernyataanya yang sering hiruk-pikuk nyatanya selalu ditunggu masyarakat. Sementara pernyataannya yang dianggap kontroversial dibiarkan saja tak terjawab di masyarakat. Walau Gus Dur berbuat salah, toh masyarakat masih menerimanya dan seolah tak perlu ada klarifikasi.

     Temant-teman dekat Gus Dur sering secara bergurau mengatakan, bahwa rahasia Tuhan yang tak boleh diketahui manusia itu ada 5 perkara :     1. Kelahiran
      2. Kematian.
      3. Rejeki.
      4. Jodoh. Dan yang satu lagi,
      5. Gus Dur.

                                                                     ***

     Saya pernah bertemu Gus Dur dalam suatu acara di Istana Mangkunegara Solo, dalam acara pagelaran kethoprak kolosal yang dimainkan para seniman Solo papan atas, beliau didampingi almarhum buadayawan WS Rendra dan musisi pengusaha Setiawan Djodi.Pada waktu itu beliau belum menjadi Presiden RI yang ke 4. Dengan berbekal kamera, saya bisa mencari posisi dimana saja saya mau. Seperti biasa, Gus Dur selalu terlihat "tidur", namun ketika wartawan menanyakan komentarnya tetang pagelaran tadi, dengan mudah Gus Dur menjawabnya. Yang menjadi perhatian saya bukan komentarnya tentang kethoprak itu, karena semua itu pasti gampang dan tidak menarik untuk ditanyakan. Ketika pagelaran usai, sekitar am 12 malam, saya bisa berjalan bareng di samping Gus Dur. Pada waktu itu sang istri tampak berjalan melenggang lurus dengan tergesa-gesa, melihat itu, Gus Dur yang masih bisa melihat, walau dengan satu matanya, menegur :

     "Kok bablas terus arep neng ngendi? Wong mobile neng sebelah kene, malah arep mlebu kraton arep ngopo?" (Kok jalan terus mau kemana? Kan mobilnya di sebelah sini, malah mau masuk istana mau ngapain?). Habis berkata begitu, saya pun nyeletuk.

     "Sopire wae lali nggonne parkir, kok Gus Dur apal yo?" (Sopirnya aja lupa tempat parkirnya, kok Gus Dur hafal ya?).

     "Gerrr...!" Yang mendengar celetukan saya pada tertawa.

                                                                ***

     Memang sudah menjadi rahasia umum dan menjadi kebiasaan Gus Dur, setiap ada acara yang menyita waktu, beliau menikmati tidur lelapnya dan mungkin bermimpi, entah tentang apa dan dimana. Pernah dalam suatu seminar yang mengkaji wawasan dan sepak terjang Gus Dur di bidang sosial, politik dan kebudayaan, jauh sebelum menjadi presiden juga, ketika diskusi dimulai dan semakin panas dengan saling mendebat, Gus Dur mungkin terganggu dan terbangun, mungkin masih setengah tidur ia berkata : "Semua itu salah.... saya bukan seperti itu!" Dan para hadirin pun riuh rendah bersorak. Dan Gus Dur mampu mengomentari satu per satu uraian para hadirin secara mendetail dan dalam.

     Untuk kesekian kalinya orang pun takjub, tidur nyenyak dan tanpa secuil pun catatan, bisa tiba-tiba merespons sebuah diskusi secara akurat dan mendalam. Gus Dur mampu memancarkan sebuah pesona yang sulit dipahami.

     "Wong begitu saja kok dipersoalkan!" Begitulah Gus Dur mengakhiri seminar itu dengan santai.
     
     Orang lain HADIR di saat TERJAGA, Gus DUr HADIR saat TERTIDUR.

                                                                     ***

     Ketika ramai-ramainya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) didirikan, teman saya dari LSM bertemu Gus Dur, begitu melihat teman saya itu Gus Dur berkata : "Iki yo ICMI, Iki Cino Mirip Indonesia..." ujarnya disambut tawa.
 
     Gus Dur memang sering dianggap sulit dipahami, tetapi ia punya pola kerangka logis, dan latar belakang pemikiran politis, agamis, maupun ideologis, yang bisa menjadi rujukan dalam usaha untuk memahaminya. Celetukannya, pernyataan-pernyataannya, selalu lahir spontan, tanpa direncana dan kadang terkesan reaktif.

     Pernyataan Gus Dur kadang terasa seenaknya sendiri, dan sering pula berakhir salah, aneh atau tak masuk akal bahkan mengundang reaksi yang menghebohkan media pada umumnya. Namun sering rakyat tidak bingung malah yang bingung itu sebenarnya para elite politik.

     Gus Dur adalah pembela garis depan gagasan toleransi dalam relasi kekuasaan antara Muslin-non Muslim atau mayoritas-minoritas. Ia selalu melindungi terhadap kaum minoritas, baik dari sudut etnisitas maupun keagamaan. Orang ya orang, siapapun dilihat dari UNSUR KEMANUSIAANNYA. Pada tataran ini ia tak mencari lagi rujukan ajaran, karena ajaran apalagi yang lebih mulia dibanding penghormatan yang tulus atas SESAMA MANUSIA?

      Gus Dur memiliki watak humanis yang besar.Ia memperoleh kebesaran sebagai tokoh masyarakat kita. Ada yang menyebutnya sebagai GURU BANGSA. Gus Dur sendiri mengembangkan suatu pemikiran bahwa di dalam politik, ORANG TAK BOLEH MARAH. Jegal menjegal dalam politik dipahaminya sebagai barang biasa. Tetapi bila ia MEMAAFKAN lawannya, itu lebih mulia.

     Sebagai seorang pemimpin Gus Dur menyimpan obsesi mewujudkan suatu DHARMA yang kelak patut dikenang, atau menjadi pendidikan politik, bagi segenap kalangan. Namun kebaikan hatinya sering menjadi titik rawan dan mudah dimanipulasi orang-orang ambisius yang membahayakan.

     KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, lelaki kelahiran Denanyar Jombang 4 Agustus l940, seorang tokoh populis yang akrab dengan tuntutan suara kerakyatan ini telah pergi menutup akhir tahun 2009 lalu. Gelar PAHLAWAN NASIONAL tengah diusulkan oleh banyak komponen masyarakat untuk beliau. Walau beliau sendiri pernah menyatakan dalam sebuah wawancara di stasiun televisi soal pahlawan, ia mengatakan, banyak orang yang patut disebut pahlawan, cuma banyak yang tidak ngerti saja!

     Pahlawan Nasional saat ini memang termasuk barang langka, jangan-jangan hanya MANTAN PRESIDEN saja yang layak diberi gelar Pahlawan Nasional? Soal gelar untuk Pahlawan memang pemerintah perlu mengkaji lebih dalam lagi, masih banyak tokoh-tokoh Indonesia yang layak diberi gelar demikian, ataukah cukup hanya mantan presiden saja?

     Selamat tinggal Gus Dur, kenanganmu sebelum meninggal cukup banyak dan tak cukup hanya menerjemahkan saja.


Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat.