
Dulu sewaktu masih di SMA, saya pernah mengikuti kelompok bimbingan belajar (bimbel) yang cukup unik. Selain sang pengajar kelihatannya cukup keras dalam mendidik para peserta, beliau juga memiliki satu trik jitu dalam mendorong para murid untuk bisa tembus dalam UMPTN ataupun test masuk perguruan tinggi mana pun, yaitu: Alih-alih disuruh berlatih menjawab soal-soal latihan, kami disuruh untuk membuat pertanyaan-pertanyaan. Ya, benar! Membuat pertanyaan atau soal-soal.
Suatu pemikiran yang gila, setidaknya itulah yang saya pikirkan pertama kali. Tapi setelah saya mengerjakannya, baru saya mengerti kenapa kami disuruh membuat pola yang terbalik seperti itu. Logikanya, tidak mungkin seseorang bisa membuat pertanyaan, jika tidak mengetahui jawabannya. Tidak mungkin pertanyaan bisa dibuat, jika si pembuat tidak mengerti isi pertanyaannya. Sehingga di saat teman-teman yang lain asik berlatih menjawab ratusan atau ribuan pertanyaan, saya malah asik membuat pertanyaan dan soal-soal. Alhasil, begitu saya lihat sebuah pertanyaan di dalam suatu tes UMPTN atau tes perguruan tinggi yang lain, saya lebih cepat mengerjakannya karena saya sudah puluhan bahkan ratusan kali membuat (bukan menjawab) pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Jika anda seorang guru, tentu anda saat ini akan menganguk tanda setuju bahwa membuat soal lebih efektif dalam belajar daripada menjawab soal.
"Going backwards", itu yang saya pikirkan pertama kali ketika saya dan teman saya mendiskusikan masalah para lobbysts petani jagung yang ada di Amerika. Mereka mendapatkan subsidi tinggi dari pemerintah, lalu memperoleh panen yang begitu melimpah sampai sisanya menumpuk begitu saja tidak bisa dijual didalam pasar. Alhasil, mereka tentu tidak mau panen jagung mereka terbuang begitu saja. Akhirnya mereka menyewa para pelobi ulung untuk melobi pemerintah, supaya hasil panen mereka bisa didayagunakan untuk membuat gula, dan bahkan ethanol. Namun para pelobi tersebut menggunakan pola "backwards", yaitu meneriakkan bahwa selain murah, mereka beralasan bahwa ini adalah untuk kepentingan rakyat. Satu hal yang mereka [sengaja] tidak teriakkan adalah mereka disewa untuk mengoptimalkan hasil panen para petani jagung yang sudah menumpuk berhari-hari bahkan berminggu-minggu, daripada nantinya terbuang percuma.
Trik yang jitu, walaupun trik tersebut bukan barang baru di dalam dunia politik. Trik ini tentu saja secara legal dan moral sah saja digunakan jika memang dipakai untuk keuntungan maksimal dan pihak lain tidak menderita kerugian. Tapi bagaimana dengan para petani tebu? Tentulah mereka akan berteriak, karena hasil tebu mereka yang dominan dipakai dalam bisnis gula akan tersikut atau tersaing keras oleh panen jagung yang dibela oleh para pelobi jagung.
"Going backwards" tentunya tidak selamanya negatif. Toh berkat pola yang sama, saya bisa mengerti pola pikir seorang guru SMA ketika membuat soal-soal. Kenapa? Karena saya berlatih membuat soal juga, layaknya seorang guru. Dan saya tidak akan bisa membuat soal kalau saya tidak mengerti materi soal tersebut. Ketika saya membuat soal misalnya, saya tahu rumus apa yang harus dipakai hanya dari melihat kata-kata tertentu di dalam sebuah soal. Kata-kata tersebut merupakan "hints" yang biasa dipakai oleh para guru untuk memudahkan mereka mengingat cara dan langkah-langkah menjawab soal yang mereka sudah buat.
"Going backwards" juga terpaksa harus dipakai ketika para koruptor di ngeri kita tidak bisa lagi dibuktikan dengan cara normal atau cara yang biasa dipakai oleh pengadilan negara. Istilah sang kancil "Amin Rais" waktu itu adalah 'pembuktian terbalik'. Secara sederhana beliau mau mengatakan bahwa jika memang tidak bisa dibuktikan bahwa seseorang korupsi, yah tinggal minta saja orang tersebut untuk membuktikan bahwa dia TIDAK korupsi, alias menjelaskan secara terperinci dari mana dia mendapatkan semua uang yang dia peroleh. Jadi tugas pengadilan atau jaksa untuk membuktikan bahwa seseorang korupsi, dibalikkan menjadi tugas dan tanggung jawab si tersangka untuk memperlihatkan bahwa dia memang tidak korupsi.
"Going backwards" juga terjadi dalam dunia kekristenan. Kita bisa melihat adanya trend bahwa seseorang bisa membuat doktrin baru dengan ayat yang lengkap secara mudah. Misalnya sewaktu mulai ramai dibicarakan bahwa umur bumi sudah lebih dari puluhan juta tahun. Secara tidak langsung bisa dikatakan bahwa ternyata eksistensi manusia kurang lebih juga sudah melewati jutaan tahun.
Entah apa motivasinya, namun ada orang-orang yang datang dan mulai mencari pembenaran di dalam alkitab, dan 'menemukan' bahwa sepertinya Kejadian pasal 2 berbeda isi dan rentang waktu dengan Kejadian pasal 1. "Eureka!" demikian mungkin teriak mereka. Dengan begitu mereka bisa mengambil kesimpulan, bahwa alkitab selalu berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan. Tidak percaya? Lihatlah Kejadian 2 dan Kejadian 1. Ternyata sudah ada manusia-manusia lain di luar taman Eden. Buktinya kalau memang itu adalah manusia yang sama yang diceritakan di dalam pasal 1, kenapa mesti diceritakan lagi di dalam pasal 2? Lalu sikon dan kronologisnya sepertinya agak berbeda. Entah sudah berapa lama mereka hidup di luar taman Eden, tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli. Toh bukan itu yang jadi masalah, mungkin demikian pikir mereka. Yang penting 'kan alkitab sudah menunjukkan bahwa sudah ada manusia-manusia yang hidup di luar taman Eden sebelum diciptakannya Adam, sang suami Hawa. Bahkan mereka bisa dengan bangga mengatakan bahwa inilah yang menjadi bukti pernikahan Kain dengan manusia non-taman Eden. Terjawab sudah misteri istri Kain. Terjawab sudah tentang misteri kejadian pasal 2. Dan terjawab sudah bahwa eksistensi manusia di dalam alkitab memang benar seperti kata ilmu pengetahuan, jauh lebih lama dari 6 ribu tahun.
Apakah benar terjawab? Jawaban saya hanya tersenyum dan berkata "Going backwards".
Apakah anda mau menjadi orang pintar, terutama di dalam dunia kekristenan? Kalau iya, ikutilah petuah guru bimbel saya: Daripada menjawab pertanyaan atau soal-soal, lebih baik membuat soal berikut jawabannya. Dan itu bisa anda terapkan juga di dalam dunia kekristenan. Daripada anda pusing belajar teologia dari nol, lebih baik anda membuat konsep baru yang "wow, keren!", selanjutnya anda tinggal mencari ayat-ayatnya untuk menegaskan bahwa konsep alias doktrin anda adalah alkitabiah. Anda tidak usah takut., baik itu tidak usah takut konsepnya bakal berlawanan dengan arus mainstream, atau takut kalau konsep anda menjadi tidak alkitabiah hanya karena tidak ketemu ayatnya.
Takut tidak ketemu ayatnya? Jangan kuatir, ada lebih dari 31 ribu ayat di dalam alkitab. Anda tinggal mencari ayat yang berhubungan atau ada relevansinya dengan konsep yang anda ingin buat sebagai doktrin. Kekuatan relevansinya pun bisa anda atur, misalnya: sangat kuat, agak kuat, tidak begitu kuat, sama sekali tidak kuat alias biasa saja, tidak kuat sama sekali alias lemah. Kalau pun anda hanya mendapat ayat-ayat alkitab yang lemah relevansinya dengan konsep bikinan anda, sekali lagi saya katakan, jangan kuatir. Saya sudah melihat di luar sana (di internet maupun di dunia off-line) bahwa ada saja orang-orang yang percaya ayat-ayat pendukung suatu konsep atau doktrin, tidak peduli betapa lemahnya relevansi ayat-ayat tersebut bahkan tidak peduli betapa tidak nyambungnya ayat-ayat tersebut dengan doktrin yang dibuat. Satu hal yang harus anda tanamkan dalam diri anda adalah tetap semangat, sama seperti kata guru bimbel saya.
Selamat mencoba!