Lebih dari setahun yang lalu kami saling bercerita tentang sebuah ciuman. Betapa kami yang hampir 25 belum juga mendapatkan sebuah ciuman. Twenty five and never been kissed; adakah yang salah? Haruskah kami tinggi semampai, bertubuh ramping, dan memasang senyum palsu bak sosok boneka Barbie hanya untuk mendapatkan seseorang yang memandang kami spesial?Setelah satu tahun berselang, satu pertanyaan yang muncul; finally got kissed?
"Belum lah," begitu kira-kira jawab Ana(sebut saja begitu; dia pasti protes berat bila namanya dicantumkan terang-terang).
"Halah..... lha yang itu? Katanya sudah "jadian"? Status facebook juga sudah in a relationship kan? hayo ngaku....." aku pun meledeknya.
" Iya.. iya.. aku nggak nyangka. Ternyata aku ini beneran perempuan. He.. he. Masih ada yang mau" begitu tulisnya. Sayang kami hanya bersua lewat layar komputer tidak seperti setahun lalu ketika kami masih menikmati lembur bersama.
Dengan berakhirnya status jomblo Ana, praktis tinggal sayalah yang menyandang predikat single and avaliable. Acara dolan bareng pun semakin sulit karena masing-masing sudah lebih memilih menikmati kebersamaan di ruang pribadi -- semacam penjajakan untuk lebih mengenal calon pasangan seumur hidupnya. Getir betul rasanya. Bila dahulu saya bisa dengan santainya berkata I've got my friends, and everything's gonna be fine, sekarang sudah lain cerita.
"So, finally got kissed?" tanyaku menyelidik.
"Belum. Belum. Belum sampai situ. Masih jauh prosesnya?"
"Ha.. ha... yang bener non?" tanyaku nakal.
"Iya bener," begitu jawabnya.
"Hey, he may have not kissed your lips, but he must have kissed your heart. Am I right?" semikian reaksi saya meluncur begitu saja.
" ya... ya... begitulah. Never imagined but it hapenned!" demikian jawabnya.
"Selamat ya kawan. Nderek bingah (ikut senang). You finnaly got that kiss at the right spot!"
"How about you?" demikian ia ganti bertanya.
"Belum teman. Masih belum; mungkin masih harus menunggu."
"Lha yang kemarin? Jangan-jangan dia dah nekat menceburkan diri di sumur pompa karena brokeh neart." tanyanya ganti meledek.
"Ha.. ha...," yang benar saja nona satu ini.
"Tunggu aja miss. Segala sesuatu ada masanya." demikian lanjutnya sebelum percakapan kami terputus.
Ah, entah sudah berapa kali kudengar ayat itu, dan berapa kali pula aku menjawab dalam hati, "Kalau KAU mau aku menunggu, aku akan menunggu." Bukan hanya soal pasangan hidup, tapi juga berbagai hal lain yang seringkali tertunda.
Hari ini beberapa teman mengelilingi saya dan setengah mendesak," Nita turunin dong standarnya! " Pertanyaan yang membuat saya bingung karena tidak ada syarat apa pun. Entah variabel apa yang benar-benar berpengaruh di sini. Mungkin memang tidak banyak yang bisa memahami saya apa adanya; bukan hanya tampak luarnya saja. Memang manusia melihat rupa, tapi Tuhan melihat hati. Jadi sepertinya saya tidak perlu menulis twenty six and (still ) never been kissed.
"Have you got the kiss, Nita?"
"Well, not only a kiss. HE also gives me the warmest hug every single day since HE loves me so"