Ini file arsip email saya yang lain. Dr. Suhento Liauw sempat menanggapi email saya, tetapi Beliau tidak tanggapi tulisan saya yang mengcounter artikel muridnya (Ev.Johan Chandra) dengan alasan sibuk. Saya tidak memajang email tsb, karena tidak ada point pembicaraan yang essential yang membahas langsung mengenai issue Calvinisme vs Armenianisme ini. Berikut ini saya tampilkan email ke sekian saya kepada Beliau. SEKALI LAGI, tanggapan saya thdp artikelnya Ev.Chandra Johan bukanlah tanggapan yang panjang lebar dan lengkap melainkan cukup singkat namun kental...lho trus kapan tanggapan 'serius' nya? Sabar..sabar...saya sedang mengerjakannya-menanggapi bola yang sedang ada di tangan saya saat ini. Kenapa saya hanya memberi tanggapan singkat, seperlunya namun kental ini? karena dari pihak Kristen Fundamental juga belum ada tanggapan yang serius dan berarti terhadap saya, jadi buat apa saya terlalu serius amat mengerjakannya...toh ini khan dalam rangka 'PANCING MEMANCING'....hhehehehe... Pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai setelah saya menyelesaikan counter argumen saya yang terakhir yg sedang saya garap.
--->
Shalom.
Saya masih menantikan tanggapan Bapak atas email saya sebelumnya, khususnya point Tantangan DEBAT TERBUKA di Surabaya yang saya tawarkan kepada Bapak bersama team.
Dalam DEBAT TERBUKA ini kita mempertaruhkan kebenaran dimana seluruh hidup kita bersandar kepadanya, yaitu :
Kalau saya / team dari gereja saya kalah berdebat, maka seluruh jemaat di gereja saya akan menganut pandangan Baptist Independent.
Tetapi kalau Bapak dan team kalah berbedat, maka seluruh gereja dan STT Bapak harus menganut pandangan Reformed/Calvinisme.
Kalau memang sesuatu ajaran tidak dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah, buat apa kita masih memegangnya kecuali kita tegar tengkuk.
Kalau memang sesuatu ajaran tsb Alkitabiah, maka kita harus menaklukkan diri kita secara totalitas dibawah otoritas kebenaran FT.
Bersama ini saya paparkan juga tanggapan saya yang kedua (2) mengenai tulisan dari anak buah Bapak, Ev.Chandra Johan mengenai TD(2). bagi yang belum menerima tanggapan saya yang pertama (1), silahkan memintanya pada Ev.Chandra Johan.
Silahkan semua yang menerima email ini untuk menanggapinya, terutama guru besarnya : Dr.Suhento Liauw dimana Beliau sangat getol memusuhi Calvinisme.
Terima kasih.
Tuhan memberkati.
Pniel Iluminata
II Korintus 10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
TOTAL DEPRAVITY (2)
Pandangan Kalvinis lainnya:
1. Kehendak manusia tidak ada hubungannya dengan keselamatan.
Yoh 1:12-13 "Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang tidak diperanakkan bukan dari darah dan daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan laki-laki, melainkan dari Allah."
2. Roma 9:16 "Hal itu tidak bergantung kepada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah".
Dalam konsep Kalvinis, bahwa kelompok orang yang percaya akan adanya kehendak bebas manusia untuk percaya dan menolak Yesus mengajarkan Synergisme, atau kerja sama antara Allah dan manusia supaya manusia selamat.
Tanggapan saya :
Ayat2 FT diatas,khususnya Roma.9:16, sudah jelas secara eksplicit menyatakannya, Tetapi anehnya penulis masih saja tidak mau tahu.
Dalam hal kelahiran baru/penghidupan manusia rohani, jelas bhw kehendak manusia tidak ikut berperan didalamnya dan hanya Allah saja yang mengerjakan proses regenerasi tsb. Didalam Calvinisme, kelahiran baru ini dinamakan monergisme, yaitu tindakan sepihak dari Allah, tanpa kerjasama dari manusia berdosa, untuk menghidupkan / melahirbarukan orang berdosa dari kematian rohaninya sehingga membuat ia hidup dan merespon akan panggilan Allah.
Analoginya :
- seorang bayi tidak mempunyai kehendak/keinginan didalam dirinya untuk dilahirkan kedunia, lewat orang tua siapa, dimana, dan bagaimana kondisinya. Bayi tsb pasif total.
- Alkitab didalam Efesus pasal 2 menyatakan bhw manusia yang hidup didalam dosa adalah mati secara rohani. Orang yang sudah mati tidak akan punya keinginan apa2 thdp Allah. Ia tidak dapat merespon thdp sesuatu diluar dirinya, bahkan siapa dirinya pun tidak ia kenal. Melalui tindakan ‘penghidupan manusia rohani’ yang dikerjakan oleh Roh Kudus, maka manusia yang mati tsb menjadi hidup kembali sehingga membuat ia merespon akan kasih Allah.
Didalam Kitab yang sama (Efesus) dan pasal yang sama (pasal 2), Paulus menegaskan akan hal ini, yaitu :
Efesus.2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Allah tidak mungkin bekerja setengah2, setelah menyelesaikan pekerjaan kelahiran kembali di dalam diri orang berdosa sehingga orang berdosa yang mati tsb bisa hidup secara rohani, maka Allah menuntut kerjasama dari orang yang telah dihidupkan tsb untuk menjalani proses pendewasaan rohani didalam pengudusan (sanctification). Didalam Calvinisme, proses pengudusan ini melibatkan dua pihak, yaitu Allah dan orang percaya yang telah dihidupkan tsb, dinamakan synergisme. Oleh karena itu kita lihat dalam Kitab yang sama (Efesus) dan pasal yang sama (pasal 2), Paulus melanjutkan selangkah dari pembahasannya tsb didalam ayat selanjutnya, yaitu :
Efesus.2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya
Ini merupakan suatu urutan2 secara kronologis bagaimana manusia yang sudah mati didalam dosa, dihidupkan oleh Tuhan, dan setelah itu dituntut untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya. Ini sejalan dengan ide Paulus yang ada di kitab yang sama pasal 1 ayat 4 :
Efesus.1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya
Armenianisme yang diwakili oleh kelompok Baptist Independent Indonesia rupanya tidak mengerti akan hal ini, akan apa yang Alkitab nyatakan dimana itu diajarkan secara jelas melalui Calvinisme, sehingga secara sembarangan memfitnahnya sebagai ajaran sesat.
Konsep Total Depravity Kalvinisme bukanlah meninggikan Allah, tetapi merendahkan Allah. Karena dalam konsep Kalvinis manusia itu tidak bebas, maka konsekuensinya manusia itu sama dengan robot. Seolah-olah Allah sedang berurusan dengan robot yang harus mengerti dan memuliakan Dia. Apakah Allah memberi tanggungjawab moral kepada robot? Atau bagaimana mungkin Allah meminta pertanggunganjawab dari mayat yang jelas-jelas tidak bisa mendengar, merasa dan berkomunikasi.
Tanggapan saya :
Konsep TD sudah saya bahas dalam email sebelumnya dan juga dari banyak ayat2 yang dibahas spt Efesus 2 dan Yohanes 6, dan lagi dari artikel yang ditulis oleh Pdt.Budi Asali mengenai TD.
Tetapi dengan sikap tidak mau tahu rupanya kelompok Baptist Independent yg diwakili oleh : Ev.Chandra Johan tetap memfitnah Calvinisme dengan mengatakan bhw Calvisme mengajarkan manusia tidak bebas (seperti robot).
Saya tidak mengerti bagaimana mungkin ada sebuah institusi pendidikan spt STT Graphe bisa mengajarkan hal yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Calvinisme namun dianggap sbg Calvisme!??&*#??
Menurut pengakuan dari rektor STT tsb, Suhento Liauw, dimana Beliau mengaku pernah bergumul selama 20 tahun didalam Calvinisme ini, saya sangat (mutlak) meragukan bhw apa yang dulu (dan tentunya sekarang) ia anggap sbg Calvinisme sebenarnya bukanlah Calvinisme tetapi suatu ajaran baru yang entah diwahyukan dari mana atau suatu khayalan/halusinasi belaka.
Silahkan dipelajari email2 saya sebelumnya.
Sebenarnya Kalvinis sedang mengajarkan TOTAL INABILITY, yakni ketidakmampuan total dari manusia. Total Depravity memang diajarkan Alkitab. Roma 3:10"tidak ada yang benar, seorangpun tidak." Tetapi Alkitab tidak mengajarkan ketidakmampuan total yang Kalvinis ajarkan. Mereka sering memanipulasi Pengkotbah 7:20 "sesungguhnya di Bumi tidak ada orang yang saleh, yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa." Ayat ini memang benar tidak ada kesalahan di dalamnya. Tetapi kesalehan dan perbuatan baik yang Pengkotbah maksud adalah kebenaran manusia yang mampu membenarkan dirinya di hadapan Allah sehingga ia layak menerima keselamatan atau layak masuk Sorga.
Tanggapan saya :
Setelah sebelumnya menyanggah TD sekarang penulis malah membenarkan bhw TD diajarkan oleh Alkitab. Sungguh suatu sikap yang inkonsistensi dan kontradiksi!
Masih di alinea yang sama juga, setelah penulis menolak Total Inability (TI), pada kalimat selanjutnya malah penulis membenarkan TI dgn membahas Pkh.7:20 bhw manusia tidak mampu membenarkan dirinya dihadapan Allah. Sungguh ironis sekali, dalam satu alinea terdapat beberapa inkonsistensi dan kontradiksi dari penulis.
Sebenarnya saya tidak perlu menyerang penulis dalam banyak hal, karena penulis sudah terlebih dahulu menyerang dirinya sendiri dengan kalimat2nya yang inkonsisten. Cuman berhubung penulisnya ga’ kerasa bhw dirinya udah babak belur dan lebam, makanya saya perlu beri cermin yang guueedhe agar penulis tahu bhw dirinya udah babak belur.
* Dalam Alkitab banyak referensi yang mana manusia mampu melakukan yang baik, bukan hanya bisa melakukan hal yang bobrok saja. Hal ini sangat didukung Alkitab dan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Contoh nyata adalah orang Muslim, Budha, Hindu, mereka tidak melakukan pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, tindakan yang anarkis setiap hari atau setiap waktu. Mereka masih melakukan hal-hal yang benar dan positif secara manusia. Ini membuktikan, bahwa manusia yang bukan pilihan bisa melakukan perbuatan yang baik. Jadi manusia itu tidak mati total seperti mayat dalam konsep Kalvinis. Bukan berarti manusia tidak bisa berbuat baik.
* Dalam Luk 6:33 "sebab jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian." Dalam konteks nats ini, Tuhan Yesus membuat perbandingan etika orang yang percaya dengan yang tidak. Dan dalam pernyataan yang tegas, bahwa orang jahat saja bisa melakukan perbuatan yang baik. Mungkin dapat kita ambil contoh seorang perampok yang menolong temannya di rumah sakit yang sedang sekarat dengan membiayai seluruh pengobatannya. Bukankah ia sedang melakukan tindakan kemanusiaan? Atau contoh klasik dalam dunia perfilman pahlawan Robin Hood yang merampasi orang-orang kaya dan membagi-bagikan hasilnya kepada orang miskin. Bukankah dia menjadi dewa penolong di dalam benak orang-orang yang ia tolong? Dan dalam ayat ini Tuhan menjelaskan, bahwa orang orang berdosa sama dengan orang yang tidak percaya kepada Allah, tetapi masih bisa melakukan hal baik, bukan yang bobrok melulu.
* Dalam Matius 7:12 "apa yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" dalam ayat ini juga Tuhan sedang berbicara di dapan umum yang sebagian besar adalah orang-orang yang tidak percaya, bahkan kelak akan menyalibkan Dia. Tuhan menghimbau untuk melakukan hal yang baik, agar datang yang baik. Tentu Tuhan tidak akan memerintahkan hal demikian jika manusia tidak sanggup untuk melaukan hal yang baik. Tentulah Allah tidak akan memerintahkan manusia secara umum berbuat baik kepada sesama, jikalau hanya orang pilihan saja yang mampu melakukan yang baik dan benar.
Tanggapan saya :
“Manusia hanya bisa melakukan hal yang bobrok saja” ini bukan ajaran Calvinisme melainkan fitnah dari penulis saja. Lihat email2 saya sebelumnya dan juga artikel yang saya kutip di email pertama.
Penulis sendiri juga mengakui bhw kebaikan manusia belum tentu sesuai dengan standar Allah dan tidak dapat membenarkan dirinya dihadapan Allah. Jadi penulis sebenarnya sedang berargumentasi thdp siapa?
Dalam hal ini, Kalvinis salah mengerti ayat-ayat dalam Roma 3:10 dan Pengkotbah 7:20. Memang manusia tidak dapat membenarkan dirinya di hadapan Allah dengan segala perbuatan baiknya. Kalvinis sepertinya tidak bisa membedakan:
* Ada perbuatan benar
* Ada perbuatan yang membenarkan
Tanggapan saya :
Lalu apa bedanya kedua istilah tsb?
Penulis sendiri tidak mendefinikan tetapi sudah lempar tuduhan ke orang lain.
Saya yakin definisi penulis ttg term diatas pasti sama kacaunya dengan tulisan2nya yang lain.
Dua hal ini yang Kalvinisme salah pengertian karena pada dasarnya perbuatan baik manusia tidak dapat membenarkan dirinya di hadapan Allah.
Ef 2:1 "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu,"
Kolose 2:13 "Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita."
Tanggapan saya :
Kalau anda menuduh Calvinisme salah mengerti kedua ayat diatas, bagaimanakah seharusnya tafsiran yang benar?
Silahkan dipaparkan eksegesisnya!
Dalam konsep Kalvinis, bahwa manusia itu sama seperti Lazarus yang mati, tidak bisa mendengar suara Tuhan. Mereka sering memakai Yoh 8:43 untuk membuktikan bahwa manusia berdosa yang tidak dipilih tidak dapat mendengar suara Tuhan. Ayat ini sering Kalvinis pakai sebagai ayat kunci poin total depravity.
Tanggapan saya :
Anda membenarkan pengertian TD bhw itu sesuai dgn FT tetapi sekarang anda menolaknya kembali. Mengenai Yoh.8:43, saya tidak pernah menemui penafsiran Calvinis atau Reformed spt yang penulis tulis. Ini pasti bualan penulis.
Kalvinis menerapkan Mati rohani sama dengan mati Jasmani. Dalam pengertian Kalvinis mati berarti tidak bisa berbuat apa-apa.
Ini adalah konsep yang salah
Secara logika, orang yang mati rohani seharusnya juga tidak bisa melakukan apa yang secara rohani Salah dan Benar. Bukti Alkitab bahwa konsep Kalvinis salah adalah dalam Luk 15:24 "Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali" Ayat ini membuktikan anak yang secara rohani mati, tetapi ia masih dapat melakukan hal atau keputusan yang baik untuk kembali kepada bapaknya. Jadi defenisi mati menurut Kalvinis tidak lengkap dan mengakibatkan kesalahan yang sangat membahayakan kekristenan.
Tanggapan saya :
Lukas.15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria
Kata yang perlu diperhatikan adalah ‘anakku’. Si bungsu adalah anak dari bapa yang digambarkan dalam perumpamaan tsb. Perumpamaan tsb adalah menunjukkan ttg kasih Bapa yang menantikan kembalinya (pertobatan) dari anaknya yang telah mendurhaka terhadapnya. Bapa tsb adalah Allah Bapa, sedangkan anak yang hilang itu adalah anakNya yang sudah menjauh dari Tuhan. Tetapi kasih Tuhan membawa anak2Nya kembali dalam pelukanNya. Tuhan tidak pernah memanggil orang yang tidak percaya sebagai ‘anak’Nya. Orang yang tidak percaya tidak pernah merindukan Bapa yang bukan bapanya. Hanya anak saja yang merindukan Bapa sebagai bapanya.
Perumpamaan tentang anak yang hilang ini selaras dengan perumpamaan dalam kitab yang sama (Lukas) pasal yang sama (15), dimana dipasal 15:4-7 diceritakan mengenai domba yang hilang. Tuhan tidak akan mencari kambing, tetapi domba2Nya yang terhilang. Di Alkitab selalu dikatakan bhw umat Tuhan/orang percaya adalah domba, sedangkan orang yang tidak percaya adalah kambing.
Juga mengenai dirham yang hilang (15:8-10). Bhw dirham tsb adalah milik perempuan tsb. Ketika dirham miliknya tsb hilang, maka perempuan tsb segera mencarinya. Dan ketika menemukannya, maka gembiralah hatinya. Perempuan tsb tidak mencari dirham yang bukan miliknya, melainkan satu dirham yang hilang diantara sepuluh dirham miliknya.
Inti dari perumpamaan di Lukas pasal 15 adalah tentang kasih Allah kepada umatNya sehingga Ia rela mencari dan menyelamatkan yang terhilang.
Penulis telah melakukan eisegesis dari Luk.15:24, sehingga tak heran kalau tafsirannya sangat kacau, sehingga sesuatu yang benar (Calvisme) dianggap sebagai sesuatu yang salah.
Roma 6:2 'Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
Dalam ayat ini orang percaya juga mati. Ayat ini sekaligus membuktikan, bahwa manusia masih bisa melakukan dosa, sekalipun ia telah mati bagi dosa. Artinya orang yang di dalam Kristus juga masih bisa jatuh dalam dosa. Ini sangat bertentangan dengan konsep Kalvinis, bahwa orang pilihan hanya bebas percaya dan otomatis hanya bebas berbuat baik. Adakah kaum Kalvinis yang merasa diri sudah dipilih hanya bebas berbuat baik saja? Dapatkah anda hitung berapa pelanggaran yang telah anda perbuat dalam minggu ini? Bukankah seharusnya kaum Kalvinis menjadi manusia-manusia yang suci, tak bercela karena hanya bebas berbuat baik?
Ini konsep theologia yang dipungut dari luar kebenaran Alkitab yang sangat dijunjung tinggi, tetapi sangat tidak masuk akal!!!
Tanggapan saya :
Kegagalan fatal dari penulis adalah dia tidak bisa membedakan ‘mati bagi dosa’ dan ‘mati didalam dosa’, sehingga menyamakan keduanya.
Makanya tak heran kalau semua konsep Calvinisme jadi kacau didalam pikirannya penulis shg asal maen seruduk tanpa melihat sama sekali tesis2 kebenaran yang ada didalam FT yang diekspresikan melalui Calvinisme.
Juga penulis rupanya tidak mengerti bhw secara ‘status’ orang percaya dihadapan Tuhan adalah dipandang sebagai ‘orang benar’ bukan oleh karena jasa manusia berdosa sendiri, melainkan karena kebenaran Kristus yang dikenakan kepada manusia shg Allah memandang kebenaran itu II Korintus.5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Namun didalam ‘realita’nya, orang percaya masih hidup didalam daging sehingga keinginan untuk berbuat dosa pasti ada dan kejatuhan didalam dosa sangat dimungkinkan. Tetapi orang percaya bukanlah hamba dosa melainkan hamba kebenaran, sehingga tidak mungkin baginya untuk ‘jatuh tergeletak sebab tangan Tuhan menopangnya’ (Maz.37:23-24).
Calvinisme tidak pernah mengajarkan bhw : orang pilihan hanya bebas berbuat baik saja. Ini merupakan fitnahan dari penulis.
Calvinisme menggambarkan kondisi manusia sbb :
|
Sebelum kejatuhan |
Setelah kejatuhan |
Setelah kelahiran baru |
Setelah disempurnakan di Surga |
|
Mampu berbuat kebaikan |
|
Mampu berbuat kebaikan |
Mampu berbuat kebaikan |
|
|
Tidak mampu berbuat kebaikan |
|
|
|
Mampu berbuat dosa
|
Mampu berbuat dosa |
Mampu berbuat dosa |
|
|
|
|
|
Tidak mampu berbuat dosa |
Yang dimaksud dgn ‘kebaikan’ disini adalah kebaikan yang benar2 dapat memperkenan Allah, bukan kebaikan relative.
Silahkan dipelajari dari artikel yang saya kutip dari tulisan Pdt.Budi Asali mengenai TD di email saya yang pertama, mana yang termasuk bukan TD dan mana yang TD dari Calvinisme.
Thanks&Bless.