Aku bersyukur kepada Allah yang menempatkan anak-anak di sekelilingku, sehingga aku semakin mengenal betapa uniknya Allah menciptakan mereka. Mereka belajar secara alami dari
apa yang mereka lihat, pegang, dengar, makan, atau yang mereka cium.
Ika, 3 tahun. Dia menuangkan seluruh serbuk sabun cuci di wajan penggorengan mamanya, yang masih penuh dengan minyak goreng. Saat dia sedang asyik
berkesperimen, tiba-tiba mamanya datang dengan teriakan keras dan lantas menyeretnya
dari depan wajan yang sudah berbusa itu. Cika hanya bisa menangis. Dia menangis bukan karena sebal dimarahi,
tetapi menangis karena tidak bisa menjelaskan bahwa dia melakukan itu, hanya karena
sabun itu yang ada didekatnya untuk ditaruh di wajan. Dia pikir apa saja bisa dimasukkan ke wajan
itu untuk dimasak.
Ian, 3 tahun. Dia mengambil sapu lidi dan menyapu, atau
lebih tepatnya mengobrak-abrik semua sampah yang ditaruh ibunya di depan pintu
gerbang agar mudah diambil pengambil sampah.
Ibunya memarahinya dan mengatakan, “Nakal sekali kamu!” Padahal, mungkin
dia melakukan itu karena merasa dia sedang membantu ibunya menyapu
sampah-sampah yang baginya masih berserakan itu.
Dani, 6 tahun, memotongi sol sepatu dan sandal jepit yang
ada di rumah untuk membuat mobil-mobilan.
Mamanya histeris karena sepatu kesayangannya pun tidak luput dari
gunting si Daniel. Sang Mama memilih
meratapi sepatunya daripada memuji karya original si Daniel, sebuah mobil dari sol
sepatu dan karet sendak jepit.
Vivi, 7 tahun, membongkar seluruh lemari mamanya untuk memadumadankan
baju-baju mamanya di badannya. Tidak lupa juga mengoleskan tebal-tebal seluruh
make up mamanya di wajahnya. Mamanya
berkacak pinggang melihat itu. Padahal
Vivi melakukan itu karena kagum kepada mamanya yang selalu cantik menggunakan
seluruh baju dan make up itu. Dia juga ingin cantik dan terlihat dewasa seperti
mamanya.
Didi, 4 tahun, bertanya kepada mamanya, “Ma, kenapa sih bapak-bapak
itu tidurnya sama ibu-ibu?” Mamanya menjawab dengan sekenanya, “Ya, karena ngantuk!”
Itu baru yang aku lihat dan aku dengar dari pengalaman
bocah-bocah yang ada di sekelilingku.
Mereka belajar dengan cara mereka sendiri. Sebagian besar yang mereka
lakukan adalah karena meniru apa yang orang tua atau orang yang ada di dekatnya
lakukan. So, kalau mereka kelihatan begitu nakal, jangan buru-buru marah.
Karena toh dia hanya meniru, atau pada dasarnya mungkin dia ingin menolong
dengan caranya, dia ingin menyatakan kekagumannya, dia ingin membantu, atau
membuat Anda kagum or senang. Sulit
menebaknya memang. Tetapi dengan itulah mereka belajar banyak hal dalam hidup.
Bagiku, anak-anak tetap merupakan keajaiban!