@ DOUBLE ESSPRESSO
Favorites.
Dan seseorang muncul begitu saja dihadapanku. Mengagetkan aku. Lamunanku berakhir.
Sudah terlalu terlambat menikmati sore, sudah hampir malam. Hayden sudah menghilang entah kemana. Mungkin membereskan gudang untukku, atau semacamnya. Gitarnya masih disandarkan disamping coffee bar.
'Kamu?'
Dia tersenyum menggodaku. Berdiri didepannya, membuatku merasa menyesal tidak suka minum susu saat kecil.
'Tidak sedang menulis naskah?'
Tanyaku sambil berjalan ke coffee bar, mengeluarkan biji-biji kopi, memisahkannya. Menghitungnya. 42 biji kopi untuk segelas. Aku mengingatkan diriku sendiri.
Dia menggeleng, membuka buku menu. Lalu menatapku bekerja.
'Aku belum tidur, dan harus segera menuli lagi. Ada seminar yang harus dimulai. Tolong aku, Kei....' Dengan muka memelas dia mencoba merayuku.
'Ini hari-ku yang indah, jangan rusak hariku. Pesan, dan segera tinggalkan coffee shop ku.'
'Hari-mu sudah hampir berakhir, sudah hampir malam. Haha. Hei Hei, kenapa bersikap memusuhiku, Kei? Ayolah, kita bisa berteman.'
'Berteman? Berhentilah menggodaku, Glass.
Aku menatapnya tak percaya.
'Baik, baik aku mengakui... ' Glass mengangkat tangannya.
Dia lucu, dan aku tidak butuh pria lucu yang menggodaku untuk saat ini.
Favorit, ingat? Aku sedang mengumpulkan semua kesukaanku. Bukan menambahkan satu pria lagi dalam masalahku.
Dan dia menggodaku. Itu tidak adil. Godaan, bukan kesukaanku.
Namun, saat perhatiannya teralih pada hal lain. Dia tidak menyadari aku menatapnya.
Aku memperhatikannya.
Aku merasa tidak nyaman berada dekatnya, karena ada sesuatu hal yang menarik aku padanya.
Aku ingin mencari tahu apa itu. Cukup positif, jika dibandingkan dengan aku berusaha menuliskan betapa tidak adil-nya Tuhan padaku...
Dahinya penuh kerutan. Kulitnya kasar. Tak menimbuklkan kesan khusus apapun padaku. Hanya dia seseorang yang terlihat lelah.
'Aku hidup dengan kopi instan.' Katanya tiba-tiba, berbalik menghadapku dan menatapku langsung. Mendapatiku salah tingkah, ketahuan menatapnya.
Tapi dia tersenyum. Tidak lagi menggodaku.
'Jadi,' Kataku, 'Kopi instan. Hm...1906 itu tahunnya dan ditemukan G. Washington. Itu yang kubaca.'
'Sayang sekali, aku tidak bisa memberimu segelas kopi instan disini. Jadi, ini, espresso. Lebih baik, jika kamu sudah menyelesaikan makan malammu. Mau kubuatkan?'
Dia mengangguk. 'Aku juga mencari orang yang menemaniku makan, sejujurnya...' Dia mencoba lagi.
Aku tertawa.
'Kamu mau?' tanya Glass penuh harap.
'Aku tertawa karena aku mengingat sesuatu.'
Dia bertanya tanya. Namun tidak melanjutkan pertanyaannya. Glass menikmati menatapku bekerja. Kebanyakan begitu. Mereka yang datang menatapku, namun mereka memikirkan masalah mereka sendiri.
'Aku tidak sedang di mood yang baik, Glass.'
'Sebaliknya, aku sedang di mood yang paling baik.' Jawabnya. 'Baiklah, coba ceritakan apa yang membuat mood mu bisa lebih baik.'
'Sulit.'
'Coba dan buktikan aku terlalu bodoh untuk mendengar ceritamu.'
'Ini soal favorit. Ini soal apa yang menjadi yang paling kamu sukai.' Jawabku.
Aku melanjutkan dengan asal-asalan,
'Aku suka gelang kaki, tidak ada seseorangpun yang mengetahuinya. Itu yang membuatku kesal...'
'Ayo, kita beli gelang kaki...' senyumnya, aku akan segera menghapal senyumnya. Tidak boleh!!!!, 24 wajah Billy menyelamatkanku.
Aku mengabaikannya.
Larut. Sudah larut malam. Dan Glass mengorder gelas ke 3, dengan kopi yang berbeda-beda, dan menikmati tiap tegukannya. Tentunya bangga melihat caranya menikmati kopiku, tapi aku ingin pulang, bersembunyi, beristirahat.
Glass. Penuh energi. Duduk didepanku, tak ada tanda-tanda ingin pulang. Dia tamu terakhir malam itu.
'Glass, aku ingin pulang. Aku harus tutup coffee shop ini malam ini. Bisakah kamu balik dilain waktu?'
'Aku antar kamu?'
'Tidak, tidak usah.'
Dia beranjak dari kursinya. Membayar dan keluar. Begitu saja.
Meninggalkan perasaan kosong dihatiku, mau tidak mau, itu harus kuakui, itu yang kurasakan. Aku tidak menyangka dia akan benar benar beranjak pulang.
Setelah menutup lampu, mengunci pintu, aku berjalan pulang. Ditemani cahaya lampu yang dramatis disepanjang jalan setapak Pearl City.
Malam.
Aku berharap bisa seberuntung malam-malam sebelumnya, tertidur, tanpa mimpi.
Dan tangan itu menarikku. Aku berteriak.
Namun suaranya menyadarkanku, suara yang kukenal.
'Keira.'
'Glass.'
Dia, lagi.
'Biarkan aku istirahat, Glass.'
'Biarkan aku tahu ceritamu, Kei. Everythings gonna be all right.'
Dan begitu saja, keluar dari mulutku, semua dalam kalimat-kalimat yang tidak pernah aku susun. Begitu saja. Semua dalam nada datar penuh kekecewaan. Penuh kemarahan.
Aku tidak peduli dia tidak mengerti, aku bahkan tidak peduli, jika dia mengerti.
Mungkin, aku kehilangan kesabaran. Mungkin dia terlalu baik. Mungkin dia bukan siapa-siapa.
'Tidak ada yang tahu apa yang kusukai. Kamu tahu, aku menyukai gelang kaki. Butuh sampai bertahun-tahun, nenek baru menyadari apa yang kusukai.'
'Jadi, jangan bersikap kamu adalah penolong untukku, Glass. Kamu tidak tahu, tidak tahu.'
'Aku tidak butuh. Karena jika aku menyukai sesuatu. Maka itu yang akan diambil dariku.'
'Jika aku menginginkan sesuatu, maka aku orang yang harus merelakan keinginan itu berlalu.'
'Inilah yang terbaik yang bisa aku dapatkan, dan kamu tidak perlu tahu, Glass. Sebab,'
Wajahku panas. Dan aku mungkin sudah hampir menangis.
'Jadi, tidak. TIDAK. Everythings not gonna be all right.'
Aku berjalan masuk.
'It has to be not all right. So, stand back, and let me rest.'
Dan,
Aku tidak tahu, apakah aku tertidur atau tidak malam itu.
(Luke) 4:10 for it is written, ‘He will command his angels concerning you, to protect you,’ 4:11 and ‘with their hands they will lift you up, so that you will not strike your foot against a stone.’”
Coz i knew His answer.

