Submitted by minmerry on

@ DOUBLE ESSPRESSO

 
 
Lumba-lumba.
 
 
Aku masih mencari.

Siapa yang mewakiliku, berdoa?
Siapa yang ingat untuk mengangguku, dan menemaniku bermain?
 
Mungkin itu, yang selalu muncul dipikiran seekor lumba-lumba.
 
Dia menolong orang-orang yang tenggelam. Mungkin, dia menunggu, menunggu sahabatnya, kekasihnya, dan berpikir, dia sedang menyelamatkan orang yang sedang yang dia tunggu.
 
Inilah dia..., mungkin itu pikirnya.
 
Dia berenang dan berenang, memapah sang putri dibahunya, dan mengembalikannya ke daratan. Dia bersorak-sorai, berteriak dengan suaranya yang manis. Berputar-putar di air, dan memulai perjalanannya lagi.
 
Mungkin ini salah satu, keajaiban yang tidak pernah hilang.
 

 
 
 Double Espresso
Aku baru sampai di coffee shop 15 menit yang lalu, masih sangat pagi.
Menghabiskan espresso pertamaku, pagi ini.
 
Paulus Si Rabi Yahudi, Aku-Keira-penunggu coffee shop paling membosankan, membaca, sambil menunggu. Suasana sepi di coffee shop membuatku rileks.
 
Apakah Ben akan datang lagi, kali ini? Tanyaku, dalam hati. Aku menutup mata. Menikmati perasaan bahwa aku sadar sepenuhnya, memikirkan Ben.
 
Ben. Masih merindukannya. Sangat.
 
'Kei, Kei...'
 
Masih jelas suaranya, caranya memanggilku.
 
Aku membuka mata. Menatap buku, tidak membacanya.
 
Aku melihat satu malam yang sudah kuulang hingga ratusan kali.
 
 
Malam itu tampak tenang, malam dikota lain, kota tempat aku berasal. Sebelum ke Pearl City. Kota tempat aku mengenal Ben. 
Ben.
Dia suka diving. Dia suka air. Dia suka cahaya mathari. Dia suka ombak.
 
Itu membuatku tidak mengerti dia. Tapi, aku, tidak pernah menyerah menunggu Ben. Menemani dan menunggunya di satu tempat ke tempat lain. Menyelam, melihat kehidupan dibawah air. Wajahnya, kulitnya terbakar matahari.
 
Biasanya aku akan duduk di kapal, atau jembatan kayu, menikmati angin, berpikir, sambil menunggunya selesai.
 
Setelah dia selesai, biasanya angin sudah berubah arah, warna langit sudah berganti, burung-burung sudah pulang. Dan soal burung-burung yang terbang pulang, sering menjadi bahan tertawaan aku dan Ben. Ada burung yang terbang dengan gagah membentuk formasi, mengikuti pemimpinnya.Terbang dengan anggun. Dan yang paling sering Ben tertawakan adalah burung yang tertinggal dari formasi, akan terlihat sangat sibuk mengepak-ngepak sayapnya, terlihat lucu sekali.
 
Dan malam itu terasa berbeda.
 
Ben berkata dia letih. Cape. Dan ngantuk. Ia ingin tidur lebih awal.
 
Sungguh aneh. Ben bukan orang yang suka tidur lama. Dia penuh semangat dan ceria. Fisiknya baik.
 
Aku mengkhawatirkan dia. Sebuah peringatan muncul dalam diriku, dan Ben meyakinkanku bahwa baik-baik saja.
 
'Kei, bikinin aku secangkir esspresso, please?'
 
Wajahnya masih berseri, tapi tampak lemas. Aku khawatir, tapi Ben bersikeras dia hanya butuh istirahat.
 
Aku meyakinkan diriku, mungkin dia hanya kelelahan. Tanpa memakai sandal rumah, merasakan dinginnya lantai, aku melangkahkan kaki ke dapur. Membuatkan secangkir espresso untuknya. 
Aku mengulurkan secangkir esspresso, dengan cangkir kesukaannya. Dia duduk disisi tempat tidur, melihatku. Tatapannya memuja. Akulah yang paling dia cintai. Aku tersenyum padanya.
 
Malam itu, tidak banyak pertanyaan yang muncul. Tidak banyak keluhan yang muncul. Aku tidak pernah bertanya semua yang sudah terjadi, sedang terjadi atau yang akan terjadi. Semua seperti berjalan sebagaimana seharusnya. 
 
 
Dan mungkin setelah puas bermain di bawah air, berenang bersama lumba-lumba, menikmati espresso terakhir, Ben tidak bangun lagi malam itu.
 
'Ben...Ben...'
 
Badannya mulai dingin, tapi wajahnya tersenyum. Dia tertidur tetapi tidak bangun lagi.
 
'Ben, tidak bisa... tidak bisa begini, Ben...'
 
'Bangun, ayolah, bangun...'
 
 
Tangan mereka mengcengkramku, memisahkan aku dan Ben. Suara mereka tidak terdengar olehku. Dengan mata merah, aku berteriak pada mereka. Dan entah kenapa mereka tidak mengerti apa yang aku katakan. Dan mereka tidak melakukan apapun yang kuperintahkan. 
 
'Ben, Ben tidak bangun ketika kubangunkan... Ayolah, bangunkan Ben. Ayo, aku mohon... Dia baik-baik saja, dia...'
Aku terus mengulang-ulang kalimatku.
 
Mereka hanya mengangguk, mencoba membawaku kedalam pelukan mereka. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membuat diriku lemah, dan menerima ini, lalu membiarkan diriku dihibur. Satu satunya yang aku pikrikan adalah bagaimana menghancurkan hatiku, sekaligus jiwaku. Ajarkan padaku.
 
Aku mengguncang tubuh Ben, tapi Semakin dalam luka yang ku dapat, tangannya dingin dan wajahnya tersenyum, terasa jauh.
 
'Ben, Ben...' Aku ingat aku berteriak hingga tidak ada suara yang keluar. Seseorang memegang lenganku, menyuntikkan sesuatu, aku berhenti berteriak, namun terus menangis.
 
Biarlah ini kejam, biar semuanya semakin kejam. Sehingga aku tidak lagi merasa kekejaman itu, bisikku.
 
 
 
Saat aku bisa kembali berjalan, aku mendapati diriku di sebuah jembatan, jembatan yang menjurus ke laut. Menatap beberapa ekor lumba-lumba yang loncat keluar dari air.
 
Mereka menolong Ben? Lumba-Lumba itu. Apakah saat menyelam mereka sudah berjanji akan berenang bersama? Mereka tidak mengembalikan Ben padaku...
 
Apakah benar, semua berjalan untuk satu tujuan berikutnya?
Apakah benar, semua berjalan untuk tujuan berikutnya yang lebih baik?
Apakah benar, tujuan berikutnya yang lebih baik adalah untuk ku? Atau untuk siapa?
Apakah benar, walau sakit, itu tetap adalah untuk yang lebih baik?
Hakimi aku dan aku tidak ingin memikirkan ini adalah untuk tujuan yang lebih baik.
Dia tetap pergi.
Dan aku tetap bertanya, untuk apa? Untuk siapa?
 
 
Bagaimana mungkin?
 
Jika....
 
Aku berpikir, Jika...
Dan aku memutuskan.
 
Dan aku berjalan sampai ke ujung jembatan, menaiki pembatas.
 
Hatiku kosong, mungkin lelah terisak dan menangis... Menatap lumba-lumba itu, menutup mata. Mendengar detak jantungku, menahan napas, saat badanku menghantam air, aku tidak melawan. Hanya menghitung detak jantungku, lalu hilang....
 
Lumba-lumba, bawa aku kemana Ben berada...
 
Semua memudar dalam pandanganku. 
 
Bau darah. Sesuatu menghantam tangan dan kepalaku, sesuatu yang berat dan tajam. Darah, aku mencium bau darah.
Air dingin malam itu, sakit menusuk dilukaku.
Aku mendengar suara lumba-lumba. Pusaran arus.
Aku masih bernafas?
 
 
Dan degup berhenti.
 
Ben.
Hiduplah, supaya aku hidup, Ben...
 
 
 
 
 
 
Ingatan. Itu cuma ingatan. 
 
 
Aku menatap tamu-tamu yang mulai masuk, berdatangan. Windbell mulai berbunyi menyenangkan. Aku tersenyum.
 
'Capucinno?' Tanyaku. Tersenyum.
'Baik, tunggu sebentar.' 
Inilah pelarianku. Inilah duniaku, yang tak kuizinkan Ben ada didalamnya.
 
Aku mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir. Membuat pesanan. Mengeluarkan slice demi slice tiramisu, chocolate truffle. Memberikan pancake dan cupcake gratis. Meletakkan majalah dan koran pada tempatnya. Membersihkan meja. Menuliskan pesanan. Sesekali aku akan menyentuh luka yang lama kering di dahi. Luka yang cukup besar. Membuat wajahku semakin terlihat dramatis.
 
 
'Keira...' 
Aku memalingkan wajahku, Joli masuk dengan pakaian dinasnya. Ya. Joli dinas ke Jepara pagi-pagi. Seperti biasa, dia cantik. Dewasa. Memesona. Joli datang, membuka pintu dengan pelan-pelan, duduk dihadapanku. Di coffee bar.
'Hi, Jol... Yang biasa?'
Dia mengedipkan mata.
 
Dan disana dia duduk, menikmati coffeenya. Sesekali mengecek ponselnya. Beberapa portfolio dibuka dan dibaca, didekatnya terlihat ada 2 surat kabar yang terlipat rapi. Mungkin, sudah dibaca dalam perjalanan, pikirku.
 
Joli lebih sering datang pagi, karena di pagi hari, biasanya dia lebih leluasa menikmati waktunya. 
Joli menikmati lagu lembut yang kuputar. Pembicaraan ringan.
 
Dia menyebut sesuatu tentang Kopdar. Sepertinya akan ada acara besar-besaran, kumpul bersama, belajar. Aku mendengarnya berbicara soal itu diponselnya, beberapa kali.
 
Aku suka caranya berbicara, bergerak. Cantik.
 
 
'Aku iri ama kamu, Jol. Pinter, kepercayaan, good mom, ga cape-capenya terus belajar...'
 
'Halah.'
 
'Jangan melihat orang dari baju nya, lihat ada bakat tersembunyi di dalam mu, kenali dirimu, Kei.' Suara Joli lembut, tegas.
 
 
Aku tidak suka membuka diri pada orang lain, tapi padanya, terasa lain. Dia peduli dengan sesuatu yang ada dalam diriku, peduli, seperti ingin menjagaku.
 
Ponselnya berbunyi. Ada sesuatu yang penting. Mungkin harus overtime, malam ini. Dia memesan beberapa cangkir untuk take away.
 
Dengan tergopoh-gopoh, dia membayar, lalu keluar, masuk kembali ke mobil. Pasti dia sudah ditungguin. Dia sempat mengingatkan aku, menutup coffee shop jangan kemaleman, dia khawatir dengan lingkaran hitam dimataku.
 
Selain Joli, di hari biasa, Dennis kadang-kadang mampir dan memesan segelas, langsung adios. Belakangan ini sepertinya Dennis terlihat dikejar-keaj meeting dan training. Dan aku akui, kedatangannya selalu menyenangkan. Seru.
 
Aku menutup @Double Esspresso tidak terlalu malam. Menyetir mobil hingga ke pinggiran laut. 
Melihat dan menunggu.
 
Tidak tahu apa yang ku cari.
 
Duduk di pinggiran jembatan, membiarkan angin memainkan helaian rambut. 
Aku menghela napas.
 
 
Mengingat.
 
 
Aku tidak mampu bangun selama tiga hari. Dan lumba-lumba itu, mereka mengembalikanku. Menyelamatkanku. Tidak ada yang tahu bagaimana caranya aku terseret ke pinggiran pantai. Mereka, Lumba-Lumba itu, tidak membawaku pergi bersama dengan mereka.
 
Mereka memilih Ben.
Bukan aku.
 
 
Bahuku berguncang pelan. Dingin. Menahan isakkan. 
Semua akan baik-baik saja, kataku pada diri sendiri.
Semua akan baik-baik saja.
 
 
Dan, aku mendengar suara Lumba-Lumba. Jelas sekali.

 Girl dolphine Omega

 


 
 
 
Dolphins are often regarded as one of Earth's most intelligent animals, though it is hard to say just how intelligent dolphins are, as comparisons of species' relative intelligence are complicated by differences in sensory apparatus, response modes, and nature of cognition.
(From Wikipedia, the free encyclopedia)
 
 
 
 

 
 
 M I N