Sakit, luka, babak belur, sesak, mungkin tidak akan dapat dengan sempurna menggambarkan situasi saya saat itu. Untuk pertama kalinya pacaran, sudah harus menyaksikan dia pergi tanpa ada rasa apa-apa untuk berjalan dengan yang lain, setelah sekian lama bersama. Rasanya tidak percaya, dia akan berubah menjadi seperti itu. tetapi itulah kenyataannya. Oke , tidak ada pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa dia yang katanya menyayangiku , memutuskan untuk berjalan dengan yang lain.
tetapi dia kembali lagi, dengan penyesalan dan janji bahwa ia tak akan mengulangi lagi.
oke. karena alasan masih cinta, maka kuterima dia kembali sebagai pacar.
sekian lama berjalan, bahkan ada rencana untuk menikah. kedua belah pihak keluarga sudah setuju. tetapi lagi lagi aku harus mengalami sakit dan luka untuk kedua kalinya oleh orang yang sama. lagi lagi karena adanya orang lain. pertama kali mendengarnya sudah berhubungan dengan orang lain, saat itu sepertinya dunia runtuh. Segala nasihat dari orang tua, pendeta, sahabat, siapapun tidak ada satupun yang nyantol. saat itu semuanya gelap sekali. Itu kejadinnya 3 bulan yang lalu (masih blom lama).
Sakit iya, kecewa iya, trauma iya, dan masih ingat betapa susahnya melalui malam demi malam. betapa susahnya bangun di pagi hari dengan ingatan bahwa dia sudah memilih yang lain. sempat kehilangan makna tujuan arah hidup. yang bisa saya lakukan ya berdoa dan berserah kepada Tuhan. Tidak ada pilihan lain.
ya, berdoa dan berserah kepada Tuhan, tidak membuat dia kembali padaku, bahkan dengar dengar mereka akan menikah dalam waktu dekat. Tetapi berdoa dan berserah kepada Tuhan telah menguatkanku hingga hari ini. Inilah keajaiban. Dan saya percaya, jika Tuhan menutup pintu terhadap sesuatu hal, maka pintu yang lain pun akan terbuka untuk kita. atau untuk lebih alkitabiahnya : Roma 8:28, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang dikasihiNya.
Tuhan memberikan sesuatu yang tepat pada saatNya yang tepat
kita harus belajar dan sabar menunggu. itulah iman