Memasuki tahun ajaran baru, saya mendapat murid-murid baru pula di kelas saya. Senang sekali rasanya bertemu dengan pribadi-pribadi baru yang unik dan penuh semangat mempelajari hal-hal baru. Tak sabar rasanya menanti hari pertama tahun ajaran baru dan menemui "guru-guru" kehidupan baru saya untuk tahun ini.
Tahun ini ada 29 anak di kelas walian saya, dan tantangan pertama yang harus saya hadapi adalah menghafalkan nama-nama murid-murid kecil saya yang manis-manis itu. Sayangnya, ada dua kendala besar. Pertama, saya adalah jenis yang dapat menghafal nama dengan mudah, tapi perlu waktu lama mengingat wajah. Cukup aneh memang; karena teman-teman guru lain justru menghadapi masalah sebaliknya, ingat wajah tapi lupa nama. Masalah kedua, ada beberapa nama kembar di kelas saya. Ada dua orang Kevin, dua orang Peter, dua orang Kristian, dan dua orang Margareth.
Duh, saya takut pengalaman buruk tahun lalu terulang lagi. Hingga saat ini saya belum dapat memaafkan diri saya karena salah menyebut nama seorang murid meskipun dia tidak menganggapnya sebagai masalah. Akhirnya, saya menggunakan dua jurus pamungkas. Jurus pertama, sementara berproses mencocokan nama dengan wajah, setiap kali saya berkomunikasi dengan anak-anak saya, saya menggunakan kalimat semacam, "Yes, Dear," atau "Can you do it little Miss?" Jurus kedua, berdoa semoga saya tak salah ucap nama ^ _^ Jangan sampai gara-gara salah panggil anak-anak yang begitu saya kasihi itu jadi mengalami krisis identitas atau jadi hilang kepercayaan pada saya. Hasil untuk minggu pertama bisa dikatakan sukses. Belum ada kasus salah panggil.
Saya pun teringat masa-masa 'muda' saat kuliah dulu. Di fakultas tempat saya menimba ilmu, nama Anita adalah nama 'pasaran.' Nama itu ada di setiap angkatan, dan dalam satu angkatan ada lebih dari satu Anita. Di angkatan saya ada dua orang Anita, saya (Anita Utami) dan teman saya Tata (Anita Budaya). Di angkatan 2000, ada Mbak Anita, dan ada cik Tata. Belum lagi di angkatan 99, dan 98 yang masih aktif kala itu. Mungkin kalau dikumpulkan ada lebih dari satu lusin. Pernah saya berkelakar, mungkin orang tua kami pernah bersepakat memberi nama yang sama untuk kami. Anehnya, jarang sekali kami salah orang. Baru sore ini saya bertanya-tanya, kok bisa ya?
Ah, jawabnya mudah saja. Kami saling mengenal dengan baik, jadi tak pernah salah. Kalau Anita yang sering terlambat masuk kelas pastinya itu saya. Lalu, kalau Anita yang pintar masak pasti si Anita Budaya. Nah, Anita yang paling pintar main drama tentunya Anita angkatan 98. Ternyata disitulah kuncinya. Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal pasti tak mungkin salah.
Sore ini saya bertanya-tanya, bila di kelas dan fakultas yang sekecil itu saja ada begitu banyak Anita, lalu ada berapa orang Anita di seluruh dunia, ada berapa orang Kevin, Peter, dan Kristian? Bila di kantor saya ada empat orang Maria, ada berapa juta Maria di seluruh dunia? Hebatnya, Tuhan memanggil kita dengan nama masing-masing, dan saya percaya Tuhan tidak pernah salah panggil. Artinya, Tuhan mengenal kita. Ia mengenal saya dan saudara. Bukankah itu hebat; lebih hebat daripada kita dikenal pak presiden ^_^. Bukan hanya kenal; Ia mengenal kita dengan baik, selalu memperhatikan kita, dan menganggap kita istimewa.
Duh senangnya. Tidak ada yang lebih indah daripada kesadaran bahwa seseorang mencintai dan menganggap kita istimewa. Mari bersama-sama belajar "balas" mengenal Dia.
Tuhan memberkati kita semua.