Perjalanan Bola panas si Aku
Ketika bola itu masuk ke otak lewat mata
Ia menggelinding ke hati dan berontak
Mau keluar lewat mulut, tersedak tak bisa
Mau kembali ke kepala, otak menolak
Menyalur ke tangan dalam rupa tulisan
Tapi pikiran sehat tidak mengijinkan
Hati panas seperti tungku minta udara
Memerintah tangan menulis apa-apa
Akhirnya terpaksa tangan menulis juga
Dan tulisan tertuang didikte oleh hati yang panas
Tulisan tercetak tapi uapnya masih merangas
Mengepul menyalurkan udara tungku
Muncul kata-kata bak batu padas yang keras
Batu padas batu sandungan
Dimaksudkan menjadi bahan pelajaran
Tapi tak ada vitamin sehat keluar dari batu
Yang berhasil cuma membuat luka-luka
Tapi ini bahan pelajaran!, kata si Aku.
Tapi ini luka!, kata yang tersandung.
Makanlah padas ini, manusia tidak cuma
hidup dari sabda tapi juga dari batu, kata Aku
Meski kami memilih sabda yang tidak melukai hati
Tetap saja keesokan hari, bola panas kembali
Melewati jalan dimana ia pernah masuk
Lewat mata, melangkahi otak, langsung ke hati.
Lalu bola mendesak dan tenggorokan tersedak.
Meledak di dada. Meluap lagi menjadi kata
Kata dan kata berjumpa dalam kesepakatan
Dengan mata mencari-cari kesempatan
Setelah beberapa saat lewat para setan rapat
Memutuskan untuk memberikan kesempatan
Sambil diam-diam menunggu harapan
Ketika kita sibuk berdebat saling menyalahkan
Diantara uwap panas yang memburamkan mata
Akhirnya terlihat nyata
Ternyata Aku, adalah jalan, kebenaran dan hidup
Menurut sekian banyak masing-masing Aku.