Submitted by Purnomo on

Cinta pertama memang berjuta rasanya sehingga membuat yang bersangkutan mabok berat tanpa perlu minum miras. Luapan emosi bagai semburan lumpur Lapindo menggerus indera dan rapat membungkus rasio. Gombloh berdendang jorok, “Tahi kucing pun rasa coklat.” Apalagi kentutnya. Biar habis makan pete sepiring penuh, baunya seperti parfum yang sebotol kecil sejuta rupiah harganya.

– o –
Seorang gadis jatuh cinta kepada seorang pemuda. Ia tidak pernah menanggapi nasehat teman-temannya juga orangtuanya yang mengingatkan kekasihnya belum mempunyai pekerjaan tetap. “Cinta kami mengatasi segala masalah,” katanya menyitir slogan klise novel percintaan. Ia tidak mau tahu bahwa cinta perlu diberi makan. Mereka menikah. Mereka terlihat bahagia. Dua tahun berselang suaminya belum juga (mau) bekerja. Perempuan ini yang bekerja sebagai guru terpaksa sering berhutang untuk membeli susu kaleng anaknya. Sekarang ia sedang mengandung anaknya yang kedua.
 
Teman-temannya tidak berani bertanya apakah ia masih mencintai kekasihnya karena tidak ingin melihatnya menangis. Karena, ia pernah bercerita dengan mata berembun, suatu siang dari kamar tidurnya ia mendengar perbincangan suaminya dengan teman yang datang berkunjung. “Bekerja? Buat apa? Buat apa aku punya istri kalau ia tidak bisa menyenangkan aku? Gajinya dan sampingan memberi privat les sudah cukup buat hidup.”
– o –
Suatu malam menjelang pukul 9 saya ke Pasaraya Blok M mencari makan. Saya makan tanpa selera karena pikiran butek. Baru saja atasan saya memberitahu ia tidak bisa menghadiri rapat semesteran besok pagi karena mendadak harus ke luar negeri. Bahan presentasinya langsung dikirim via imel ke laptop saya. Saya harus menggantikannya. Saya pusing karena presentasi itu harus dilakukan dalam bahasa Inggris, sesuatu yang belum pernah saya kerjakan. Maka sejak keluar dari kamar hotel benak saya mulai berlatih, berpikir dalam bahasa Inggris formal, bukan Inggris cowboy. Selesai makan saya masuk ke lift untuk turun ke lantai dasar.
 
Sepasang remaja ada di dalam lift. Mereka berdiri merapat diri, kepala saling menempel. Kami hanya bertiga, tidak ada orang lain dalam lift. Lalu, saya melihat wajah mereka berhadapan. Kemudian, mereka berciuman lip-to-lip dengan tenang namun bekepanjangan. Saya juga tenang menyaksikannya dan kelenjar hormon saya tidak enjot-enjotan akibat pemandangan ini. Waktu pintu lift terbuka, saya berjalan keluar dan sampai di lapak-lapak yang menjual vcd bajakan baru saya kaget. Astaganaga, ternyata saya masih ada di Jakarta! Kesibukan otak saya “berbicara” dalam bahasa Inggris membuat saya lupa tidak sedang berada di luar negeri sehingga saya bisa tenang menyaksikan kedua remaja itu berciuman dalam jarak yang sangat dekat dengan saya.
– o –
Ketika 2 orang jatuh cinta, dunia mendadak mengerut drastis. Rasanya di dunia ini tidak ada orang lain kecuali diri mereka berdua. Orangtua, handai taulan, teman-teman, rekan-rekan kerja dianggap tidak ada. Perkataan atau nasihat orang-orang di sekitarnya terdengar seperti suara angin semilir. Mereka lupa ada orang-orang yang hidup dekat dengan mereka, yang akan ikut terlibat apabila percintaan ini sudah mengarah ke sebuah titik, pernikahan. Bagi orang Kristen sebuah pernikahan hanya boleh terjadi satu kali sepanjang hidup. Pernikahan adalah titik di mana yang bersangkutan tidak bisa melangkah balik. Karena itu orang-orang dekat mereka akan berusaha mengingatkan apabila dalam merajut kisah kasih mereka lupa untuk melihat, apalagi mulai menyiasati, perbedaan-perbedaan di antara mereka yang kelak berpotensi merusak kisah pacaran mereka, terlebih lagi mengandaskan bahtera perkawinannya. Mereka tidak ingin kita menuruti anjuran konyol Kahlil Gibran yang mengatakan, “Jika cinta sudah memanggilmu, pasrahlah dan menyerahlah walau pisau di balik sayapnya akan melukaimu.” Mereka akan berusaha membangunkan kita dari mimpi indah apa pun risikonya. Teman sejati tidak pernah menghalangi Anda, kecuali ketika Anda berjalan menuju jurang.
 
Jika kita tidak berpendapat, “Luka karena cinta adalah luka yang paling nikmat,” marilah kita duduk sejenak menelisik perbedaan-perbedaan yang mungkin ada yang selama ini luput dari perhatian kita. Bukan untuk mendapatkan alasan memecat kekasih kita, tetapi untuk bersama mencari solusinya.
- o -
1** Adat-istiadat
Suatu malam saya diajak Pak Pendeta melayat seorang jemaat Tapanulinya yang meninggal. Ada peralatan orkes di sebuah panggung di depan rumah. Begitu rombongan kami tiba, para musisi memainkan sebuah lagu rohani. Oleh tuan rumah kami dipersilakan masuk ke rumah. Ruang depan itu kira-kira berukuran 4 x 5 meter dan lantainya ditutup tikar. Kami duduk berkeliling bersandar dinding. Setelah duduk baru saya menyadari yang ada dekat di depan saya bukanlah sebuah peti mati, tetapi sebuah tempat tidur kayu berkaki pendek. Di atas dibaringkan jenasah ibu tuan rumah. Tubuhnya ditutup selimut sampai ke dada, wajahnya ditutup kain tipis transparan. Saya merinding. Saya menoleh sekeliling melihat wajah teman-teman. Mereka tampak santai. Tentu saja, mereka berasal dari etnis yang sama dengan almarhumah. Sedangkan saya? Inilah pengalaman pertama saya di Medan.
 
Seorang nenek masuk dan duduk bersimpuh dekat kepala jenasah. Ia menyingkap kain penutup wajah almarhumah sehingga saya ikut melihatnya. Ia membelai wajah itu dengan sayang. Mencium dahinya. Lembut mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak saya kenal di telinganya. Menggumankan sebuah lagu. Kasih yang ditunjukkan membuat saya berpikir ia adik almarhumah. Ia menutup kembali wajah itu dengan kain. Syukurlah, saya lega. Kalau saja ia lupa, pasti malam itu saya akan mendapat mimpi indah. Nenek itu masuk ke dalam.
 
Sesaat kemudian ia keluar membawa setumpuk piring kaleng dan membagi-bagikan kepada kami. Bersama dengan 2 orang, nenek juga membagikan nasi dan lauk. Lamat-lamat saya mencium bau formalin. “Aduh Nenek, sudahkah tadi di belakang Nenek mencuci tangan dengan sabun?” tanya saya dalam hati.
“Saya keluar saja. Saya sudah makan,” bisik saya ke tetangga sebelah yang penatua.
“Jikalau piring sudah dibagi, apalagi oleh keluarga tuan rumah, jangan menolak makan,” ia balas berbisik. “Bagi orang Batak, itu penghinaan yang tidak termaafkan.”
Kasihanilah saya ya Tuhan, kuatkanlah tubuh ini agar mual tidak menggocoh perut hamba ketika menelan hidangan ini.
 
Waktu kami pulang, saya melihat banyak pelayat duduk di luar rumah. Beberapa orang menyalami kami. Agaknya mereka kerabat dekat almarhumah. “Jika saja sebelum berangkat tadi saya tahu duduk di luar rumah bukan sebuah ketidaksopanan, pasti saya tidak mengalami penyiksaan batin. Malah saya bisa belajar jadi singer,” kata saya kepada penatua itu. Ia terkekeh.
 
Karena itu kemudian saya rajin bertanya kepada teman-teman dari etnis ini apabila saya akan melayat sehingga saya bisa mendatangi keluarga yang berduka dengan nyaman tanpa membuat mereka tersinggung.
– o –
Apakah bila dua orang berasal dari satu etnis tidak akan muncul perbedaan? Belum tentu. Budaya setempat atau pola pikir masyarakat di mana ia tinggal, bisa merubah sebuah adat istiadat yang pernah diakrabinya walaupun tidak terlalu signifikan.
 
Setiap tahun kami berempat pulang ke Jawa untuk berlibur selama 14 hari. Tahun itu pada waktu kami berada di kota kelahiran kebetulan ada seorang famili istri punya gawe menikahkan anaknya. Kami diundang untuk datang di malam widodaren sekalian reuni keluarga. Saya terkejut ketika sampai di gedung pertemuan itu. Yang hadir sekitar 200 orang. Saya dikenalkan dengan banyak orang dan diberitahu bagaimana memanggil mereka. Dalam tradisi Jawa sebutan yang menunjukkan posisi seseorang dalam keluarga terhadap kita tidak sulit. Saudara tua ortu kita panggil Pakde dan Bude. Sedangkan saudara muda ortu kita panggil Paklik atau Bulik. Tidak demikian dalam adat Tionghwa.
 
Seorang dosen mencolek saya. “Hayo, masih ingat kamu harus memanggil aku apa?” tanyanya menggoda melihat saya bingung. Ibunya punya adik lelaki yang adalah ayah mertua perempuan saya. Biasanya kami hanya saling menyebut nama tanpa embel-embel. “Embuh,” jawab saya.
 
Putri bungsu saya menarik-narik tangan saya. Wajahnya keruh. “Baru saja diberitahu, sudah lupa harus memanggil apa. Piye to kamu ini?” begitu ia ditegur berulang kali karena ia tetap saja ber-Oom dan ber-Tante. Saya membawa kedua puteri saya ke sudut gedung memisahkan diri. Lalu kami berbincang-bincang sendiri dan asyik bergurau.
 
Seorang encim tua dalam pakaian kebaya berjalan mendekati tempat duduk kami. Ah, pasti ia mau memanggil kami untuk makan. Kami terkejut ketika ia sudah di depan kami jarinya menunjuk-nunjuk si bungsu sambil memarahinya dalam nada tinggi. Apa yang membuatnya marah? Ia melihat si bungsu yang masih SD itu berdiri di atas kursi untuk mengobrak-abrik rambut saya yang merupakan kesukaannya untuk mengungkapkan rasa jengkel sekaligus sayangnya kepada saya. “Anak tidak sopan! Kamu harus ingat, anak itu tidak boleh memegang kepala bapaknya. Itu kurangajar. Kamu bisa kuwalat. Rejeki jauh, jodoh seret!”
 
Kami bertiga membeku. Saya tidak suka melihat sikapnya itu. Saya terpaksa diam karena ia termasuk sesepuh keluarga besar ini. Ketika ia berjalan meninggalkan kami, puteri sulung saya yang sudah SMA berdiri. “Nenek ini perlu dihajar,” katanya sewot. “Bapak-bapaknya sendiri apa urusan dengan dia. Apa hak dia memarahi adik? Biar aku beritahu dia siapa yang sebetulnya kurangajar.”
 
Wah gawat, cewek Medan tensinya naik. Tangannya saya tarik sehingga ia terduduk kembali. Saya menoleh si bungsu. Wajahnya pucat. “Sekarang kita berada di kuil Siauw Liem Sie yang tidak kita akrabi tata kramanya. Sudahlah, anggap saja nenek itu sudah pikun sehingga dia mengira kita ini anak-cucunya sendiri,” saya mencoba menghibur mereka.
– o –
Sudah 7 tahun saya meninggalkan Medan ketika SMS itu masuk. Seorang pemuda Tapanuli mantan murid remaja Sekolah Minggu saya, yang meminta gitar kesayangan saya untuk kenang-kenangan, yang bapaknya mengerjaiin saya saat pertama kali saya melayat orang Batak, bercerita tentang gadisnya yang Tionghwa. Ia tidak tahu bagaimana caranya menempel orangtuanya yang jelas tampaknya tidak suka melihat ia menjalin cinta dengan puterinya. Singkat jawab saya. “Daripada kamu bingung, daripada kamu stress, tinggalkan gadis itu, cari yang lain dari etnismu.” Orang cari pacar itu ‘kan bukan untuk cari penyakit jiwa? Kalau kita mencari pacar untuk menjadi pendamping hidup kita agar kita hidup bahagia, hentikanlah sejenak kesibukan peluk-cium kita. Ajaklah ia duduk untuk membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada dengan jujur dan tanpa prasangka. Bukan saja yang ada di antara kita berdua, tetapi juga yang ada di antara dua keluarga. Jangan lupa, sebuah perkawinan dalam masyarakat negeri ini masih mengikutsertakan keterlibatan masing-masing keluarga.
 
Jika Anda merasa canggung untuk menghormati orangtua kekasih Anda dengan mengepalkan tangan sambil membungkukkan badan seperti adegan dalam filem silat Hongkong, ceritakanlah kepada sang kekasih. Juga kebiasaan-kebiasaan keluarganya yang tampak aneh bagi Anda. Bersendawa panjang saat makan bersama, misalnya. Pikirkanlah bersama solusinya atau bagaimana Anda harus menyikapinya.
 
Jika Anda keberatan berlutut sungkem di hadapan orangtuanya ketika mereka merayakan sebuah peristiwa istimewa karena menurut Anda itu tidak Alkitabiah, ceritakanlah kepada sang kekasih jauh-jauh hari. Mungkin saja orangtuanya memberitahu Anda lewat anaknya, mereka tidak berkeberatan Anda mengganti ritual itu dengan mencuci kaki mereka berdua.
 
Percayalah, orangtua kekasih kita juga tidak akan berkeras kepala mempertahankan adat mereka apabila keberatan kita dikemukakan dengan sopan dan hormat tanpa merendahkan adat istiadat mereka. Kata Napoleon Hill, Selama Anda belajar untuk menghargai mereka yang tidak sependapat dengan Anda, selama Anda dapat mengatur kata-kata Anda pada mereka yang tidak Anda kagumi, selama Anda membentuk kebiasaan melihat sisi kebaikan di balik keburukan yang ada pada orang lain, maka Anda akan sukses dan bahagia.”
 
Begitu pula yang pasti telah dilakukan oleh pengirim SMS itu kepada saya. Setahun kemudian saya mendapat kabar dari pendetanya yang berlibur ke Jawa dan berkunjung ke rumah saya, ia telah menikahi gadis cinta pertamanya itu dan hidup berbahagia.
 

(bersambung)

PS : Menyenangkan sekali apabila para pembaca situs ini yang berasal dari berbagai etnis juga mau membagikan adat-istiadatnya sehingga membantu mereka yang sedang menjalin percintaan dalam mencari solusi perbedaan-perbedaan di antara mereka.

 

Normal
0

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}

Serial Cinta Pertama,

bagian ke-1: Cinta pertama jangan membuat bodoh.

bagian ke-2: Cinta pertama terganjal mitos.